Anak Kita: Masa Depan Dunia dan Akhirat

ANAK KITA

Mendidik anak di waktu kecil seperti mengukir di batu,
Mendidik anak di waktu besar seperti mengukir di air

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, dunia yang saat ini kita tinggali hanyalah akan menjadi bagian kecil dari kehidupan manusia.  Suatu saat kita akan meninggalkannya dan kemudian siapa yang akan tinggal? Anak-anak kita dan keturunan berikutnya.

Ada banyak dalil tentang wanita dan anak-anak dalam Islam.  Diantaranya disebutkan bahwa “Apabila manusia telah mati, terputuslah amalannya kecuali tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.”.  Salah satu makna yang bisa kita petik adalah setelah kita meninggalkan dunia ini, masuk ke dalam alam kubur, alam barzah dan seterusnya…di mana sudah tidak ada kesempatan untuk kita melakukan sesuatu dan amal perbuatan kita selama di dunia dihisab, maka hanya ada tiga hal yang mungkin dapat menolong kita, yang salah satunya adalah anak yang shalih.  Bahkan dalam hadist berikut disebutkan tentang hamba Allah yang mendapatkan kemuliaan berkat dari doa anaknya.

Kalau ada yang pernah tahu tentang pertanyaan mengenai telur dan ayam,“Manakah yang ada terlebih dulu, antara ayam dan telur?“  Kalau diterapkan pada kehidupan manusia, antara anak dan orang tua (ibu), kita tahu pasti mana yang diciptakan terlebih dahulu, yaitu orang tua. Kenapa? Karena Nabi Adam dan Hawa diciptakan tidak mulai dari bayi melainkan sudah masuk masa dewasa.  Nah, dari sini kita mulai melihat suatu benang merah dengan orang tua, ibu.  Wanita sebagai ibu.

Dalam Islam kedudukan wanita sangat tinggi.  Disebutkan dalam hadist, orang yang harus dihormati adalah Ibu, Ibu, Ibu, baru kemudian Ayah.  Dalam hadist yang lain disebutkan bahwa wanita adalah tiang negara.  Jika kuat wanitanya, maka kuatlah negara itu.  Dan sebaliknya jika wanita di suatu negara lemah, maka akan lemah negara itu.  Kenapa?  Karena wanita memiliki peran strategis dalam menjaga keluarga dan terutama mendidik anak (masa depan).  Tentang kekuatan wanita ini pernah dibahas pada pertemuan sebelumnya oleh ustadzah Masyitah dan ustadzah Aulidya.  Dan liburan musim panas pada bulan Agustus akan diundang ke Eropa, Felix Siauw untuk menginspirasi para wanita mengenai peran penting wanita dalam Islam dan dunia.

Ada satu keprihatinan, permasalahan yang saat ini dihadapkan pada wanita adalah persepsi mengenai pendidikan dan karir.  Persepsi masyarakat umumnya saat ini adalah seseorang yang berpendidikan identik memiliki pekerjaan dan karir sehingga sering kali berhadapan dengan peran utama wanita dalam mendidik anak.  Padahal pendidikan yang diperoleh seharusnya menjadi dasar dalam mendidik anak-anak.  Sudah seharusnya sebagai wanita yang berpendidikan menunjukkan kebanggaan dan keberhasilan sebagai ibu rumah tangga, bukan bersikap malu-malu karena menjadi ibu rumah tangga.

Wanita sebagai ibu dari anak-anaknya, bisa menentukan anak seperti apa yang ingin dia besarkan, yang suatu saat nanti akan dilihat sebagai generasi penerus kehidupan. Meski setiap kehidupan telah dicatat dalam Lauh Mahfuz, wanita perlu memiliki gambaran tersebut.  Ini dimulai dari saat menjawab “Iya“ atau “Tidak“ saat dilamar.  Kenapa? Jika dalam Al Quran disebutkan bahwa wanita itu seperti ladang tempat lelaki meletakkan benih, maka kita memiliki keistimewaan karena kita bisa memilih benih macam apa yang akan ditumbuhkan dalam rahim kita.  Mulai dari yang tampak (apakah dia orang jawa, berkulit gelap atau putih) hingga yang tak tampak (kebiasaan, iman).

Pendidikan anak, bukan hanya setelah dia dilahirkan atau setelah dia mengerti tentang tulisan, namun lebih jauh, saat proses awal penanaman benih, kehamilan hingga dewasa.  Di sini berdasarkan hadist Rasullullah, ada 3 kategori umur setelah kelahiran, yaitu 0-7, 7-14, 14-21.

Dalam kajian ini dimulai dari persiapan memiliki anak.  Hal apa yang perlu dipersiapkan, utamanya adalah kesehatan wanita, kemudian mendapatkan suami yang cocok dengan kriteria yang telah dibuat tadi, kemudian rohani atau mental siap untuk memiliki anak.    Sesuatu yang menarik perhatian pada kondisi saat ini, terutama di Indonesia, banyak kejadian, seseorang memiliki anak bukan karena siap memiliki anak, tapi karena anak adalah konsekuensi atau efek dari pernikahan.  Bahkan ada yang bilang “Jangan ditanya siap atau gak siap, seseorang pasti akan menjadi Ibu, jika dia telah memiliki anak“.  Masalahnya adalah, jika menjadi Ibu, apakah sudah siap dengan tanggung jawab yang besar itu dan menjadi ibu yang baik? Atau sebatas ibu biologis? Maka penting untuk seorang wanita mempersiapkan diri untuk menjadi Ibu, atau seorang Ibu mempersiapkan anak-anaknya untuk menjadi orang tua suatu saat nanti.

Dalam Islam bahkan diberikan panduan diantaranya melalui doa yang dipanjatkan pada saat seseorang hendak berhubungan (jima), yaitu…. Doa ini bermakna untuk memohon perlindungan kepada Allah agar rizki nikmat dan anak yang diperoleh tidak mendapat gangguan dari syaithan.

Kehamilan

Pada tahap berikutnya kehamilan, biasanya terhitung sebagai trimester pertama, trimester kedua, trimester ketiga.  Pendidikan pada saat kehamilan ini sangatlah penting untuk perkembangan anak selanjutnya pada tahap selanjutnya.  Pada saat di dalam perut ini sel-sel tubuh anak berkembang memperbanyak diri dan membentuk jaringan tubuh.  Setiap bagian tubuh Ibu, termasuk kebiasaan Ibu akan dicopy pada tahap ini oleh karena itu penting untuk Ibu senantiasa menjaga diri, baik makanan maupun perbuatan.  Makanan tentu saja sangat penting untuk kecukupan gizi selama pertumbuhan jabang bayi di perut.  Di sisi lain ini juga akan menentukan preferensi anak terhadap makanan.  Misal, jika Ibu suka makanan instant, maka suatu waktu anak dihadapkan pada pilihan makanan, dia akan cenderung memilih makanan instant.

Bagaimana dengan tahap ngidam? Ngidam biasanya terjadi pada trimester pertama.  Sebenarnya ini adalah istilah Indonesia, … kalau dalam istilah bahasa inggris disebut “morning sick”. Namun apakah disertai dengan permintaan aneh-aneh?  Tentang mengidam ini ada dua jawaban ilmiah mengenai sebab munculnya ngidam. Pertama secara biologis, adanya perubahan hormon dan perkembangan yang terjadi di rahim, menyebabkan perut mengalami tekanan sehingga muncul rasa kurang nyaman di lambung.  Kenapa pagi hari?  Karena perkembangan pesat terjadi pada malam hari saat Ibu beristirahat. Kedua secara psikologis, hal ini lebih didasarkan pada perasaan calon ibu baru yang merasa tidak siap dengan keadaan hamil atau akan memiliki anak, mengalami stress yang mendorong produksi asam berlebih di lambung sehingga muncul rasa mual.

Pada umur tiga-empat bulan disebutkan bahwa Allah meniupkan ruh ke dalam jabang bayi.  Oleh karena itu sangat disarankan untuk orang tua mulai memperdengarkan suara yang indah dan baik, misalkan dengan memperdengarkan murrotal.  Ada beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa memperdengarkan musik klasik memberikan efek yang baik pada anak.  Secara pribadi bukan hanya masalah musik klasik yang memberikan pengaruh utama, namun kenyamanan dan ketenangan Ibu pada saat itulah yang memberikan pengaruh terbesar pada pertumbuhan bayi.

Pada saat kehamilan ini kemampuan motorik dan verbal anak sudah mulai dapat dilatih.  Misalkan dengan tepukan lembut di perut yang berirama, nanti si jabang bayi akan memberikan tanggapan.  Jika dilakukan secara rutin, anak akan memberikan tanggapan yang seirama secara konsisten.  Begitu pula kemampuan verbal, misalkan dengan ibu yang gemar bersenandung semasa kehamilan akan memiliki anak yang cenderung lebih cepat dan aktif dalam berbicara dibandingkan anak sebayanya.

Hal yang terjadi selama kehamilan adalah investasi yang akan dapat dilihat setelah lahir (namun tentu saja bukan berarti begitu lahir dia akan tiba-tiba bisa berbicara atau berlari).  Perkembangannya mungkin akan tampak lebih cepat dari anak sebayanya namun tentu masih perlu terus rangsangan (pendidikan).

Kelahiran

Dalam proses kelahiran, sebaiknya Ibu memiliki ketenangan dalam menjalani proses ini.  Dalam proses ini akan sangat berpengaruh pada masa sekitar 0-1 bulan.  Seorang Ibu yang dengan tabah menahan sakit, tetap bersikap tenang, maka anak yang dilahirkannya pun akan cenderung lebih tenang, dibandingkan jika Ibu merasa panik.  Tentu saja rasa sakit melahirkan anak (terutama yang pertama) umumnya  memang luar biasa.  Jika Ibu panik ada muncul ketakutan pada anak untuk menghadapi dunia, biasanya hal ini akan terbawa pada sifat anak hingga sekitar 1-3 bulan, di mana anak akan menjadi sangat sensitif, mudah menangis keras, sulit berhenti.  Maka perlu diingat Allah menjanjikan wanita yang meninggal saat melahirkan mendapatkan pahala setara dengan berjihad di jalan Allah.  Banyak beristighfar, menyebut nama Allah, mengikhlaskan diri mengantar seorang anak lahir ke dunia seyogyanya menjadi bagian pribadi Ibu dalam proses kelahiran.  InshaAllah, semakin tenang dan berani seorang Ibu menghadapi proses kelahiran, maka semakin tenang dan berani anak untuk lahir menghadapi dunia.

Dalam satu hadist disebutkan bahwa anak yang terlahir ke dunia ini bersifat fitrah (suci), kemudian orang tuanyalah yang mendidik dia menjadi yahudi, nasrani, atau majusi.  Sebagai  muslim, pendidikan pertama yang dilakukan adalah memperkenalkan anak dengan kalimat tauhid melalui adzan di telingan kanan dan iqomat di telinga kiri.  Dilanjutkan dengan aqiqah dan pemberian nama.  Penting untuk orang tua memberikan nama yang baik, nama sebagai pengharapan kebaikan anak.  Begitu pula nama panggilan.  Jangan sampai setelah pemberian nama yang bagus kemudian dipanggil dengan nama yang buruk tanpa makna.  Sering kali anak menjadi malu dan hilang kepercayaan diri karena panggilan yang buruk.

Usia 0-7 Tahun

Disebutkan dalam hadist, …biarkan anak umur 0-7 tahun bermain sepuasnya…. Bahkan Ali r.a. menyebutkan bahwa pada usia 0-7 tahun jadikan anak sebagai raja yang dipenuhi dengan limpahan kasih sayang orang tua. Raja di sini bukan berarti semua keinginannya dituruti, namun pada masa ini pertumbuhan anak luar biasa pesat sehingga perlu mendapatkan dukungan yang baik dan tepat.  Misal pada masa 0-3 tahun pertumbuhan otak anak hingga mendekati otak orang dewasa.  Maknanya adalah dia memerlukan asupan gizi yang baik agar dapat tumbuh secara optimal.  Dan tentu saja pendidikan dalam bentuk  rangsangan motorik dan kognitif yang akan menjadi dasar pertumbuhan berikutnya.

Pada masa 0-7 tahun ini menjadi dasar dari kehidupan mendatang, oleh karena itu perlu pembiasaan pada kebaikan.  Masa di mana anak melihat dan mencontoh apa yang terjadi di sekitarnya.  Jika pada masa kehamilan ada hal yang terlewat atau kurang pas maka pada umur ini bisa dilakukan perbaikan mendasar pada sifat dasar anak.

Periode ini merupakan periode emas untuk mengembangkan potensi anak karena kemurnian hati dan pikirannya serta pertumbuhan sel yang bereaksi sangat cepat.  Pertumbuhan anak bisa dibagi dalam beberapa bagian fase utama.  Pertama fase satu tahun pertama dimana perkembangan sangat cepat dan dapat diperhatikan setiap triwulan.  Mulai dari anak lahir, menangis, mulai mengguling, merangkak, berdiri, berjalan serta berbicara hampir semua terjadi pada fase ini. Penguatan kemampuan motorik dasar berlangsung hingga umur dua tahun.  Pada umur tiga tahun, hendaknya anak mulai tidur secara terpisah dengan orang tua, meski mungkin masih ditemani menjelang tidur.

Pada fase hingga tujuh tahun ini, anak masih memandang hitam dan putih atas setiap keadaan dan kejadian.  Misalkan jika ada orang yang berbuat kasar maka dia akan merasa tidak suka, jika ada orang yang baik dia akan mudah merasa sayang.  Oleh karena itu sebagai orang tua, perlu diberikan contoh kehidupan yang baik sehingga dapat membentuk akhlak yang baik dari anak tersebut.  Sebisa mungkin orang tua memberikan sugesti nilai-nilai positif pada pertumbuhan anak, melalui tindakan, sikap maupun perkataan.  Alangkah baiknya jika orang tua melibatkan anak dalam berbagai aktivitas sehari-hari, sehingga anak melihat dan bisa menirukan apa yang dilakukan orang tuanya.  Misalkan bersih-bersih rumah, memasak, dan lain sebagainya.  Anak juga perlu mendapatkan kesempatan untuk melakukan hal yang serupa dengan kegiatan orang tua.

Dalam sebuah contoh kasus, seorang ibu ingin anaknya membereskan mainan setelah selesai bermain.  Maka orang tua perlu ikut serta dalam membereskan mainan, meminta bantuan anak untuk memindahkan mainannya ke tempat yang tepat.  Ibu perlu menunjukkan apa yang dimaksud dengan “membereskan” mainan, misalnya mengumpulkan mainan ke sebuah wadah, membuang kertas yang tidak terpakai, atau menata rapi mobil-mobilan di rak.  Jika sang ibu sebelumnya biasa menyuruh pembantu untuk membereskan mainan dan anak boleh meninggalkannya, maka pada saat ibu berkata “De, bereskan mainannya,” tidak bisa dipastikan anak melakukannya, bukan karena tidak mau tapi bisa jadi karena anak tidak tahu makna kata yang diucapkan orang tuanya.

Anak memerlukan rangsangan emosi, konasi, kognisi dan motoriknya dengan baik dan benar secara proposional dan tepat sehingga bisa terbentuk pribadi yang berkarakter baik.  Bagaimana cara ibu bereaksi terhadap anak, orang lain atau suatu kejadian, tidak terlepas dari pengamatan anak untuk ditirukan kemudian.  Contoh paling sederhana adalah saat ibu terganggu kemudian bereaksi dengan latah, maka tidak sedikit hal itu ditirukan oleh anak-anak.  Nah,  bagaimana jika latah ibu sesuatu hal yang kurang baik (misalkan mengucapkan kata-kata kotor)?  Begitupun dengan kehadiran orang lain di dalam rumah, seperti pembantu atau teman yang dating bermain.

Meskipun anak diasuh bagai raja, bukan berarti anak kebal akan larangan dan hukuman.  Justru anak perlu diperkenalkan dengan konsekuensi tingkah laku yang salah maupun benar.  Jangan segan mengatakan “tidak“ atau “jangan“ pada saat hal yang akan dilakukan anak sekiranya berbahaya, berakibat buruk atau salah.  Namun  jangan lupa untuk memberikan keterangan/alasan kenapa hal itu tidak boleh dilakukan oleh anak.  Misal, anak dibatasi untuk makan permen sehingga suatu waktu pada saat dia ditawari atau memiliki banyak permen, ibu meminta untuk tidak dimakan semua maka perlu dijelaskan sebab musabab permen tidak boleh dimakan dalam jumlah banyak.

Pada fase ini, ibu sebaiknya sudah mulai memperkenalkan Al Quran dan Hadist serta mengajarkannya.  Anak-anak bisa mulai dilatih dengan doa sederhana untuk memulai aktivitas dan dzikir saat mengisi waktu luang.  Berbagai adab dan akhlak yang baik dapat diajarkan melalui contoh dalam kehidupan sehari-hari.  Salah satu cara terbaik yang menyenangkan anak untuk menanamkan cinta Islam dan keberanian adalah melalui cerita kepahlawanan para nabi dan sahabat.  Dalam hal ini, ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan agar cerita yang diberikan benar dan tepat.  Pertama, ibu perlu memilah dengan cermat bahwa cerita yang akan dibacakan adalah benar, tidak mengandung bid’ah terselubung, tidak bermakna ganda dan tidak mendorong anak ke arah kemusyrikan.  Kedua, pilih bahan yang bersifat positif pada kehidupan anak dengan membawa contoh kebaikan.  Ketiga, berceritalah dengan menggunakan bahasa anak.  Jika terpaksa tak ada artikel atau terbitan untuk anak, gunakan bahasa sendiri yang sekiranya mudah dipahami anak.  Melalui bercerita, ibu akan memahami tahapan bahasa yang dipahami anak-anak dan setiap kata yang tidak dimengerti oleh anak harus dijelaskan dengan gamblang.

Anak sudah bisa mulai diperkenalkan dengan pakaian yang syar’i.  Misal dengan mengenakan kerudung pada anak perempuan, baju panjang dan tertutup.  Adanya perbedaan dengan lingkungan teman-temannya perlu dijelaskan dengan arif, sebagai bagian perintah Allah dan bentuk kepatuhan manusia.  Dengan membiasakan anak mengenakan baju yang tepat, InshaAllah pada saat anak baligh, dia akan dengan mudah mengikuti tuntunan agama.

Usia 7-14 Tahun

Menjelang umur tujuh tahun, anak yang dididik dengan baik akan mulai memahami beberapa peraturan dalam keluarga, terutama terkait dengan peraturan Islam.  Pada fase ini anak perlu mendapat penegasan mengenai hak dan kewajiban yang harus dilakukan.  Anak menjadi ‘tawanan’ dalam artian anak perlu mendapatkan latihan disiplin dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam sebuah hadist disebutkan “Ajarilah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika mereka berusia sepuluh tahun (bila tidak mau shalat)” (Shahih. Lihat Shahih Shahihil Jami’ karya Al-Albani).  Hal ini berarti ibu perlu melatih anak untuk berbagai kewajiban utama (sholat).  Hal ini tidak terjadi serta merta anak mendapat hukuman namun ada tahapan dalam mengajarkan mereka untuk dapat menunaikan kewajiban dengan sempurna secara intensif.

Berbagai pendidikan mendasar yang telah dilakukan selama 6-7 tahun pertama baru merupakan dasar pengetahuan.  Peraturan yang diberikan merupakan maklumat awal, sehingga anak dapat mengetahui sekiranya menghadapi suatu keadaan.  Sebagai kelanjutannya, pada usia 7-14 tahun, setiap peraturan mulai diterapkan dengan konsekuensi, ada hadiah dan hukuman atas setiap perbuatan.  Secara tegas perlu digariskan larangan untuk perbuatan yang haram.

Dalam fase ini anak mulai mendapatkan kewajiban, terutama karena anak memasuki masa baligh pada umur ini.  Seorang ibu perlu menjelaskan dengan hati-hati mengenai perubahan hormonal anak dan hal yang terkait dengan perubahan tubuh dan berbagia kewajiban yang menyertai.  Perlu ada pemahaman ibu dalam menghadapi anak usia ini mengenai munculnya ketertarikan anak kepada lawan jenis dan meningkatnya keeratan hubungan dengan lingkungan.  Disarankan untuk mulai memisahkan tempat tidur anak perempuan dan laki-laki.

Biasanya anak mulai memiliki teman dekat di sekolah yang bisa jadi akan sangat berpengaruh pada pandangan dan sikap anak itu sendiri.  Oleh karena itu orang tua perlu secara cermat memantau keadaan sekolah dan lingkungan bermain anak agar anak terjaga dari pengaruh buruk lingkungan yang mungkin terjadi.

Usia 14-21 Tahun

Pada usia 14-21 tahun, anak sudah memasuki masa remaja yang seringkali ingin mendapat perlakuan sebagaimana orang dewasa.  Selama masa peralihan ini, anak memerlukan pendampingan yang menyenangkan dari ibu.  Akan lebih mudah bagi anak untuk menerima masukan dari seorang teman atau sahabat daripada nasihat orang tua.  Oleh karena itu sebisa mungkin ibu perlu memberikan penghargaan, motivasi dan dukungan sebagaimana orang dewasa.  Beberapa pertanyaan yang mungkin muncul dari anak perlu disikapi secara rasional dengan jawaban jujur dan lugas.  Jangan sampai anak mencari jawaban dari luar rumah (yang mungkin salah/menyesatkan).

Dalam usia ini anak sudah mulai diberi tanggung jawab dalam rumah tangga.  Ibu dapat mulai memberikan bagian pekerjaan rumah kepada anak, tentu saja dengan memperhatikan minat dan kesukaan anak.  Misalkan untuk anak yang suka memasak, mungkin memberikan tugas di dapur yang lebih banyak akan lebih menyenangkan; atau untuk anak lelaki bertugas memotong rumput masih lebih menyenangkan daripada harus belanja.  Namun tentu saja sebaiknya ada pergantian tugas sehingga anak setidaknya bisa mencoba berbagai tanggung jawab dalam rumah tangga.

Dari berbagai minat dan kesukaan anak, ibu sudah bisa mulai mengajarkan anak bagaimana mengatur keuangan sendiri termasuk cara memperoleh uang dengan halal.  Ada banyak hal yang bisa dilakukan di rumah maupun di luar rumah yang dapat menghasilkan uang.  Misalkan untuk anak yang hobi membaca (dan membeli buku) bisa mulai mencoba membuka perpustakaan anak-anak, untuk anak yang suka memasak bisa mulai dilibatkan untuk membuat kue yang memiliki nilai jual, dan lain sebagainya.  Dalam hal ini perlu juga diajarkan empati kepada orang lain, sehingga barang komersil bisa pula bernilai sosial untuk orang yang membutuhkan.

Hal Penting

Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam mendidik anak, diantaranya adalah:

  1. Memahami anak sebagai individu yang berbeda, meski mereka terlahir dari orang tua yang sama;
  2. Memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak dalam memberikan tugas;
  3. Berusahalah untuk selalu menghargai niat, usaha dan kesungguhan anak;
  4. Berusahalah bersikap adil terhadap anak-anak dan berbuat baik kepadanya;
  5. Jika anak melakukan kesalahan, jangan hanya menunjukkan kesalahannya semata tetapi memberikan petunjuk cara memperbaiki kesalahan dan memberikan contoh bagaimana bersikap pada saat muncul permasalahan;
  6. Memperbanyak ucapan-ucapan yang mengandung muatan doa pada saat di hadapan anak; doa Ibu adalah doa yang makbul, dalam keadaan apapun berusahalah untuk mendoakan kebaikan anak;
  7. Berusahalah untuk senantiasa berlaku hikmah dalam menghadapi masalah anak;
  8. Menjaga diri dari sikap-sikap dan tindakan yang menjadikan anak mengalami trauma, blocking (mogok), malas atau enggan belajar;
  9. Menghargai anak dengan tidak membuka aib (kekurangan, kejelekan) yang ada pada anak di hadapan orang lain; memanggil atau menyeru anak dengan sebutan yang jelek; membentak, memaki dan merendahkan anak

***Salah satu hal terpenting sebagai orang tua muslim adalah tidak lepas untuk mengingatkan anak tentang keimanan, sebagimana nasihat Lukman kepada anaknya:

يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar”.(Luqman: 13)

Oleh : Nur Rochmah Kumalasari disampaikan pada pengajian Muslimah Kalam Goettingen 16 Februari 2014

Download Presentasi: ANAK KITA Masa Depan Dunia Akherat