All posts by kalam

Logis Islamis

Oleh: Ditdit Nugeraha Utama  @Göttingen, Germany

Bismillah…

“Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat?” (QS. Al-Mulk[67]: 3)

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, ‘Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis’, maka lapangkanlah, niscaya ALLAH akan memberi lapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah, niscaya ALLAH akan mengangkat (derajat) orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan ALLAH Maha teliti apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Mujadilah[58]: 11)

Makna keseimbangan yang dimaksud, adalah sebuah makna sempurna dan holistik; yang menggabungkan semua parameter untuk menggambarkan keseimbangan tersebut. Makna keseimbangan yang dimaksud, adalah suapan atas rasa lapar akal dalam menalar; sehingga terkenyangkan rasa itu pada akhirnya. Karena akal akan terus mencari jawaban logis dan terstruktur, serta akan terus menelusuri; seperti sang air yang terus mencari dataran yang lebih rendah dalam mengalirkan diri. Karena pula, rangkaian cerita yang tersuguhkan pada tatanan jagat nan sempurna ini – pun – haruslah logis, terstruktur dan ternalarkan.

Lalu, apakah tidak logis pemahaman ajaran atheis dalam menyuguhkan sebuah fakta? Atheis, sebuah ajaran yang berkembang dengan sangat signifikan di benua biru Eropa. Mereka – yang berpahamkan atheis – sangatlah logis dalam menjelaskan dan menafsirkan sesuatu; bahkan akal menjadi dewa yang berada di ujung pemahaman mereka. Itu salahnya, pemahaman atheis telah melupakan satu hal nan terpenting, bahwasanya kelogisan dan nalar manusia ada batasnya. Ya ada batasnya. Mengapa? Ya, karena seperti itulah hakikatnya. Sebuah hakikat, dimana manusia sebagai makhluk yang terciptakan haruslah memiliki batas; sehingga tidak bisa dan tidak akan pernah bisa me-replace keberadaan Khaliknya. Seperti seorang pengrajin kayu pembuat meja, yang tidak akan pernah sama dan tergantikan oleh meja itu sendiri. Karena, seperti itulah hakikat – logis – nya.

ALLAH menisbatkan bahwa nalar manusia harus ada batasnya pada sebuah ujung usaha telusurnya, sejauh apa pun ujung terlusur akal tersebut, tetaplah – pasti – ada batasnya; agar rasa ke-AKU-an yang ALLAH miliki, menjadi logis pula. Ketidaklogisan akan sesuatu, ada dikarenakan nalar dan logika manusia tak mampu lagi memetakan parameter pembentuknya; bukan dikarenakan sesuatu tersebut tidak logis atau tidak seimbang dan tak ternalar. Ketidaklogisan akan sesuatu itu ada karena ada batasan yang nyata, yang memungkinkan sesuatu tersebut memang tidak terpetakan parameternya oleh akal, minimal ketika di saat akal tersebut digunakan untuk menalarnya.

Seperti halnya seorang anak kecil yang terkagum-kagum dan tidak mampu untuk menstrukturceritakan kembali mengenai balon terbang; atau ketika seorang anak kecil tercengangkan karena melihat game di komputer yang mampu berinteraksi aktif dengannya. Parameter untuk menjelaskan balon terbang dan game komputer tersebut tidak mampu dipetakan atau distrukturceritakan kembali oleh akal si anak kecil, sehingga balon terbang dan game komputer menjadi hal yang – benar-benar sangat – tidak ternalarkan oleh si anak kecil. Berbeda sekali dengan ketika si anak kecil tersebut telah menjadi dewasa, atau – apalagi – di waktu ia telah menjadi ahli fisika atau programmer komputer yang ulung; jangankan balon terbang dan game komputer, puluhan fenomena sesawat ulang-alik luar angkasa dan kerumitan struktur robot berbasis program komputer tercanggih pun – bahkan – dapat ia buat dalam ‘sekejap mata’. Begitu juga dengan fenomena syurga, neraka, hari akhir, azab kubur; itu semua ada, terstruktur, seimbang bahkan begitu mudah dipetakan parameternya; namun bukan saatnya manusia mampu, ada waktu yang telah ditentukan agar akal dan nalar manusia terpuaskan rasa laparnya.

Maka, imanlah yang menjadi sebuah rukun yang harus menjawabnya; maka, imanlah yang mengambil peran untuk meyakinkannya, ketika nalar dan akal sudah secara maksimal tidak mampu memetakannya lagi dengan sangat logis semua parameter pembentuk sesuatu tersebut. Rukun iman itu menjadi pembeda nyata antara orang beriman dan atheis. Orang beriman, menyuapi hati dan akal dengan keimanan ketika akal sudah tidak mampu memetakannya; sedangkan orang atheis menampikan semua (bahkan menampikan sang pencipta), ketika akal tidak mampu menalarnya. Seperti halnya seorang atheis menjadikan fenomena big bang sebagai muara asal muasal semua kehidupan, dan menampikkan ALLAH di belakang layar permulaannya. Karena – memang – bagi orang atheis, tuhan adalah akal itu sendiri, akal adalah tuhan itu sendiri.

Maka dari itu, orang beriman dan berakal atau berilmu pengetahuan akan ALLAH angkat kedudukannya beberapa derajat. Ini pun menjadi sangat logis, selogis seorang ahli fisika dan programmer komputer ulung yang sudah tidak bermain di ranah nalar akan balon terbang atau game komputer lagi; namun telah beranjak untuk memahami hal-hal yang lebih besar dan lebih dekat dengan kesempurnaan pemahaman atas jagat raya beserta isinya ini; yang tentunya akan mengantarkan dia lebih dekat dan lebih memahami hakikat keberadaan ALLAH. Sehingga – poin yang harus ditekankan disini adalah – bahwa menggunakan akal secara optimal untuk memahami sesuatu menjadi sangatlah penting pada akhirnya.

Pola pikir ini pun yang harus mampu diterapkan pada pola tindak manusia. Sebuah pola tindak yang berdasarkan logika akal manusia, namun – tetap – dilandasi oleh islam sebagai pola pandang sempurna yang telah tersampaikan untuk manusia. Dimana penggunaan akal – seoptimal mungkin – merepresentasikan usaha manusia; sedangkan islam dijadikan peta dan koridor, agar akal termuarakan pada akhir alir yang benar, agar sepak terjang akal tidak liar dan dapat dikroscek oleh kebenaran hakiki yang bernama islam. Dua padanan kata ‘akal’ dan ‘islam’ yang tercermin menjadikan ‘logis islamis’ bermakna sangat ampuh, ampuh untuk menjadi dasar pola tindak manusia, ampuh menjadi cermin diri gerak gerik manusia; agar manusia menjadi manusia seutuhnya – yang berusaha untuk – sempurna di hadapan ALLAH. Karena bagaimana pun, akal adalah titipan ALLAH; begitu juga islam sebagai sebuah kesempurnaan ilmu dan dasar aturan – pun – telah tersampaikan dengan sempurna. Maka, ‘logis islamis’lah…

Alhamdulillah…

UNDANGAN KALAM 24022013 jam13-15

Dosa “Investasi” (Resume Pengajian 24.2.2013)

Oleh: Agung Wibowo

Barangkali kita memahami bahwa dosa hanya disebabkan oleh perbuatan-perbuatan tercela seperti nggarong, menipu, mabok, zinah; atau tidak melakukan kewajiban yang diperintahkan Allah seperti meninggalkan sholat, tidak menunaikan zakat, dan tidak menjalankan puasa Ramadhan. Nyatanya perbuatan terhadap orang lain bisa berakibat dosa dan penyesalan berkepanjangan. Semakin tinggi level sosial seseorang, maka semakin banyak orang yang terdampak akibat perbuatannya. Orang ini disebut Rasulullah SAW sebagai orang yang bangkrut karena mambawa banyak pahala amal ibadah namun akhirnya pahala itu dilucuti oleh orang-orang yang dizaliminya. Bahkan orang-orang secara kolektif menghibahkan dosa mereka kepadanya sebab tak ada lagi pahala yang bisa disita. Itulah dosa jenis kedua yang benar-benar mengbangkrutkan di akherat nanti. Dosa jenis ketiga diakibatkan karena pelakunya diam saja, tidak melakukan apa-apa. Inilah yang disebut dosa “investasi.” Sungguh mengagetkan, tapi memang nyata.

Kategorisasi dosa yang jarang didengar publik ini disampaikan oleh Ust Dwi Condro Triono saat memberikan taushiyah pada acara Pengajian Bulanan Kalam Göttingen di masjid Al Iman Göttingen, Minggu 24 Pebruari 2013.

Beliau mengatakan bahwa para dai belum memberikan informasi yang cukup berimbang mengenai ajaran Islam. Hal yang disampaikan kebanyakan adalah hiburan. Tentu ini tidak salah karena memang Al Qur’an adalah “kabar gembira.” Sebagai contoh, sepanjang bulan Ramadhan kita mendengar para dai membaca hadits yang bunyinya kira-kira, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan kesungguhan, maka akan diampunni dosa-dosanya yang telah lalu.” Hadits ini tentu memotivasi kita untuk sabar dalam ketaatan menjalankan ibadah puasa yang luar biasa berat, setidaknya dalam pandangan orang yang tidak berpuasa. Seorang rekan melongo dengan mulut ternganga saat tau kaum muslim Eropa tidak makan dan minum sejak pukul 3 pagi hingga 9.30 malam selama sebulan. Benar2 berat. Namun bagi kaum muslimin yang selalu terngiang-ngiang kompensasi bagi orang yang berpuasa, yaitu pemutihan dosa, apalagi sadar bahwa dosa setahun kemarin sangat banyak, maka puasa ini terasa lebih ringan.

Tapi tunggu dulu, hadits bukan cuma satu itu. Ada hadits lain yang bunyinya sangat mengerikan terkait puasa Ramadhan. Baginda SAW bersabda, “Betapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa (pahala) selain lapar dan dahaga” Tidakkah hadits ini membuat kita was-was kemudian introspeksi diri, bagaimana kualitas puasa sehari tadi; apakah cukup bagus, sedang atau buruk. Atau kita tidak sempat (lupa) introspeksi karena jarang mendengar hadits ini, atau sudah merasa aman dari neraka dengan kalkulasi: dosa setahun lunas, urusan dengan manusia tinggal minta maaf, urusan dengan Allah sudah diampuni, amal ibadah banyak, yakin surplus pahala dan masuk surga. Dengan pemahaman begitu wajar bila dalam sebelas bulan di luar Ramadhan terkadang seseorang seolah lepas kendali.

Cukup sepasang ayat dan satu hadits untuk melunturkan pemahaman seperti ini. Dalam surat Al Kahfi ayat 103-104 Allah SWT berfirman, “Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” Jadi, ada orang yang merasa berbuat banyak kebaikan, tapi cuma sebatas perasaan, nyatanya tidak begitu.  Tidak mungkinlah di padang mahsyar nanti kita merayu Allah dengan gaya lebay ala OVJ, “Plis Allah, gue kan sudah puasa, sedekah, sholat, dan haji. Apa lagiiii… kok tega-teganya memasukan hamba ke neraka.” Yakin saja tidak akan ada yang begituan nanti. Semuanya akan mendapatkan penilaian secara adil sesuai aturan. Makanya kita perlu mereview setiap perbuatan, apakah sudah sesuai yang semestinya seraya terus memohon rahmat dan bimbingan Allah SWT.

Merasa aman dari pantauan Allah adalah tipu daya syetan. Dalam sebuah hadits qudsi Allah SWT berfirman, “Tidaklah Aku mengumpulkan dua rasa takut bagi hambaKu dan tidak pula dua rasa aman baginya. Jika ia merasa aman di dunia, akan Ku berikan rasa takut baginya di hari kiamat. Jika ia merasa takut padaKu di dunia, maka akan Aku beri rasa aman di hari kiamat.” Makna hadits ini adalah bila seseorang merasa aman dari aturan Allah, seolah-olah semuanya boleh baginya, dianggapnya tidak ada halal dan haram, maka bersiaplah menantikan azab yang menakutkan. Sebaliknya, bila seseorang selalu waspada terhadap perbuatannya, takut melanggar aturan Allah, sadar bahwa semuanya dicatat oleh malaikat dan mesti dipertanggungjawabkan, maka Allah akan menghadiahkan baginya rasa aman di akherat nanti. Dengan demikian rasanya aneh bila ada orang yang sangat santai dan cuek untuk urusan ibadah di dunia seolah-olah sudah mengantongi tiket ke surga nanti. Semoga kita tidak menjadi jenis manusia yang demikian. Allahumma aamin.

Kembali kepada dosa tipe 2 di atas, yaitu yang disebabkan perbuatan seseorang kepada orang lainnya. Diceritakan bahwa Rasulullah SAW bertanya kepada sahabat2 beliau RA, “Siapakah orang yang bangkrut itu?” Sahabat menjawab, “Orang yang tidak punya uang dan kekayaan,” Rasulullah mengoreksi pada sahabat seraya berkata, “Orang yang bangkrut dari kalangan ummatku adalah orang yang datang di hari kiamat dengan membawa (amalan) sholat, puasa, zakat. Tetapi dia pernah mencaci seseorang, menuduh seseorang, memakan harta seseorang, menumpahkan darah seseorang, memukul seseorang.” Di akherat nanti orang-orang yang dizalimi ini akan menuntut. Lalu diputarlah rekaman perbuatannya di hari pengadilan, dan orang yang berbuat zalim harus memberikan simpanan pahalanya kepada orang yang dizalimi. Begitu seterusnya sehingga habis pahalanya. Bila orang yang menuntut masih antri, maka dosa-dosa orang yang dizalimi diberikan kepada dirinya hingga dia tak lagi memiliki pahala, namun memikul dosa yang banyak. Inilah hakikat orang yang bangkrut menurut Rasulullah.

Mencaci dan menuduh bisa dilakukan lewat tulisan dan lisan, bisa sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. Semakin banyak yang dituduh semakin banyak pula yang menuntut di akherat nanti. Jadi hati-hatilah dalam berkata-kata atau menuliskan sesuatu. Kata-kata yang enteng seperti “Halaaahhh… kalian/mereka semua sama saja munafiknya” akan berimplikasi besar, karena semua yang dituduh nanti bisa menuntut balik di akherat. Itu baru omongan, belum lagi memakan harta seseorang, termasuk di dalamnya adalah berhutang tidak membayar, meminjam tidak dikembalikan, menerima riba, mencuri, menyunat dana, pungli, suap, korupsi, menyerobot tanah orang meskipun dimenangkan pengadilan, tidak membagi harta waris dlsb. Semua orang yang terdampak itu akan menuntut. Kalau begitu, apakah kita sudah bisa membayangkan neraca pahala dosa kita nanti di akherat. Wahai para pemimpin berhati-hatilah dengan harta orang-orang yang anda pimpin, bisa jadi kesenangan saat ini akan menjadi penyesalan bagi orang-orang yang tidak amanah.

Semuanya itu baru dosa jenis 1 dan 2, belum termasuk dosa “investasi” yang menjadi pembahasan inti pengajian. Dosa “investasi” (dalam tanda petik) adalah dosa yang dihasilkan karena kaum muslim tidak menjalankan kewajiban kifayahnya. Kita mengganggap orang lain melaksanakannya, dan orang lain menganggap kitalah yang melaksanakannya. Walhasil tidak ada seorangpun yang melaksanakannya. Apa saja yang termasuk kewajiban kifayah itu??! Yang jelas bukan cuma mengurus jenazah. Saya tidak sanggup menuliskannya di sini. Silahkan lihat videonya di youtube atau baca sendiri buku Dosa “Investasi”.

Pesan utamanya adalah kita harus aware dengan potensi dosa yang bejibun itu. Dengan kualitas ibadah rata-rata manusia jaman sekarang yang jauh di bawah kualitas para sahabat nabi SAW silahkan hisab diri masing-masing. Janganlah mencela orang yang sedikit-sedikit mengucap istighfar, barangkali dia teringat dosa-dosanya. Terakhir mari sama-sama, berjamaah melakukan ibadah yang baik sekuat tenaga seraya memohon rahmat dan keridhoan Allah SWT semoga kita menjadi hamba-hambanya Nya yang beruntung. Allahumma aaaminn…

*****

>>>Lihat Video Lengkapnya..