Pengajian Kalam dirumah Ibu Diana Hesse

Berbagi Pengalaman dalam Meniti Jalan Islam: “Membangun Iman dengan Kebaikan dan Kejujuran”

Pengajian Kalam 29 JUni 2013

Pengajian Kalam 29 Juni 2013 di rumah Keluarga Hesse

Kajian keluarga muslim Goettingen, Sabtu 29 Juni 2013 diselenggarakan di rumah keluarga Hesse, Kleinschneen/Friedland, Goettingen.  Dalam kajian ini, jamaah mendapatkan pencerahan dari tuan rumah, Gregor Noor Hesse, mengenai pilihan hidup beliau untuk meniti jalan Islam.

Gregor H. terlahir  dan dibesarkan di Jerman, tumbuh dalam keluarga Katolik.  Pada umur 12 tahun sempat mengenyam pendidikan sekolah di Boarding School di Belanda kemudian melanjutkan ke sekolah bisnis dan belajar di Paderborn.  Dengan berbekal keahliannya, Gregor H. sempat bekerja di USA, menikmati hidup sebagai pria Jerman single dengan bekerja, bersenang-senang, pesta, alkohol dan tidur. Sayangnya semua hal yang terlihat normal itu terasa tak berarti mendalam.  Ada banyak pertanyaan hidup yang belum terjawab.  Samapi satu saat sempat mencari makna hidup melalui Scientologie*) dan membaca buku-buku karya Ron Hubarts, namun ada terlalu banyak tekanan yang membuat segalanya terasa absurd.

Hingga pada tahun 1987, sekembalinya dari Amerika, Gregor H. berlibur ke Bali dan Lombok.  Di sana, Gregor H. bertemu dengan seorang wanita yang membuka jalan perkenalan pertama dengan agama Islam, Diana, seorang muslimah taat.  Dari hubungan ini,  Gregor H. tertarik untuk mempelajari Islam lebih lanjut, terutama karena ketentuan pernikahan Islam yang mengharuskan wanita muslim menikah dengan pria muslim.  Tahun 1988 akhirnya menjadi titik balik kehidupan spiritual Gregor H. dengan memutuskan memilih untuk meniti jalan Islam dan menikah dengan muslimah yang taat dan baik, Diana.

Tak dapat dipungkiri kehidupan sebagai muslim tidak semudah membalik telapak tangan.  Namun Gregor H. berusaha untuk terus meningkatkan keimanannya, percaya kepada Allah dengan sepenuh hati tanpa perlu adanya perantara.  Gregor H. banyak mencari ilmu dengan bertanya kepada orang-orang yang lebih memahami Islam, dan tak berhenti berusaha mempelajari Al Quran dan Hadist.  Beruntung Gregor H. mendapat dukungan penuh dari Diana yang memberikan banyak bantuan dalam menentukan langkah menuju kebaikan Islam yang hakiki.  Setiap hal baru yang ditemui dalam Islam terasa mudah untuk diterima dan dimengerti melalui akal. Termasuk dalam menunaikan haji sebagai salah satu pendekatan pemahaman spiritual akan keberadaan Allah.  Hingga pada akhirnya, pemahaman itu membawa Gregor H. pada kebutuhan untuk beribadah kepada Allah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan.  Pada saat ini, ibadah adalah kebutuhan hidup sebagaimana makan, minum dan bernafas.

Keindahan dan kedalaman makna dimensi Islam membawa pada keinginan untuk terus berusaha melakukan yang terbaik untuk hidup.  Gregor H. memaknai Islam dengan akhlakul karimah yang menjadi cerminan dalam kehidupan. Menjadi ayah dan suami yang baik, bussinessman yang baik bagi kolega dan karyawan dan tetangga yang baik dalam lingkungan.  Nilai-nilai ini banyak sekali membantu dalam menunjukan identitas Islam sebenarnya dalam lingkungan non muslim yang kadang penuh dengan prasangka.   Gregor H. menjelaskan bahwa orang Jerman menyukai kejujuran dalam hidup sehingga seorang muslim perlu secara jujur menjelaskan beberapa hal penting selama berinteraksi.  Penjelasan yang jujur, santun dan ilmiah akan lebih mudah diterima dibandingkan upaya untuk menutup-nutupi kebenaran.  Bahkan secara langsung maupun tak langsung menjadi bagian dari dakwah dalam komunitas lingkungan.

Beberapa hal yang menjadi catatan khusus Gregor H. tentang Islam adalah masih terkotak-kotaknya muslim dalam bingkai kebanggaan kebangsaan dan kesukuan. Padahal pada dasarnya Islam secara sempurna diturunkan untuk seluruh umat manusia dengan dasar Al Quran dan Hadist yang  memandang sama semua insan tanpa perbedaan di hadapan Allah.  Setiap hal mendasar dalam kehidupan telah ditanamkan sebagai sarana kehidupan yang lebih baik, seperti disiplin, kejujuran, kesabaran, penuh kasih, dan kebersahajaan.  Sayangnya banyak muslim lebih memilih terpaku dalam tradisi yang menyebabkan hilangnya solidaritas dan toleransi dalam umat Islam sendiri.  Jika seandainya muslim lebih berfokus pada kesamaan aqidah dibandingkan perbedaan-perbedaan kecil, niscaya ada kehidupan yang jauh lebih baik untuk umat Islam secara keseluruhan.

Sebagai tambahan, Gregor H. menekankan pentingnya umat Islam untuk mempelajari bahasa Arab terutama untuk meningkatkan pemahaman dalam mempelajari Al Quran dan Hadist.  Gregor H. yakin setiap muslim akan lebih bisa memahami al quran, betapa indahnya Allah dalam membuat perumpamaan-perumpamaan yang terdapat di kalam-Nya, jika dia memiliki pengetahuan bahasa Arab sebagaimana yang digunakan dalam Al Quran.  Pengetahuan ini pada akhirnya nanti akan mendekatkan setiap pribadi kepada Allah secara langsung.  Pada saat seseorang telah memilih jalan Islam, maka tak ada hal lain yang perlu dilakukan selain meningkatkan keimanan kepada Allah sebagai konsekuensi untuk hidup berdasar Al Quran dan Hadist.  Oleh karena itu, Gregor H. juga mengingatkan arti pentingnya niat dalam beribadah karena iman kepada Allah bukan hanya karena rutinitas atau kebiasaan sehari-hari.

 ——————————-

*)Scientology adala sekumpulan ajaran dan teknik terkait yang dikembangkan oleh pengarang Amerika, L. Ron Hubbard selama sekitar 30 tahun, dimulai pada 1952 sebagai suatu filosofi pertolongan diri-sendiri, perkembangan dari sistem pertolongan diri-sendirinya yang lebih awal. (http://id.wikipedia.org/wiki/Scientology)

Materi disampaikan oleh Bpk. Gregor Hesse pada pengajian Kalam Goettingen 29 Juni 2013, Resume kajian oleh Nur Rochmah K.

 

Leave a Reply