Category Archives: Headline

Bunga

Ilmu, Ilmuwan dan Iman

Bunga

”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi utang atau menghilangkan kelaparan. …  Dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk (menunaikan) suatu keperluan sehingga tertunaikan (keperluan) itu maka Allah akan meneguhkan kakinya pada hari tidak bergemingnya kaki-kaki (hari perhitungan).” (HR. Thabrani)

 

Sejak diturunkannya surat Al Alaq 1-5, maka genderang cahaya ilmu mendapat pengakuan sebagai bagian dari kehidupan manusia baik untuk kepentingan dunia maupun akhirat.  Manusia mendapatkan kebebasan untuk mempelajari berbagai sendi kehidupan dunia untuk mencapai pemahaman atas keberadaan, kebesaran dan karunia Allah yang tak terbatasi oleh akal pikiran manusia.  Titik ini adalah salah satu kunci jawaban dari berbagai pertanyaan manusia yang pada masa itu terkekang oleh aturan yang telah dibangun sendiri oleh manusia dengan melakukan banyak perubahan terhadap kitab suci yang sebelumnya.  Cahaya terang Islam yang kaffah telah mampu menjawab berbagai pertanyaan, mengobati dahaga manusia atas ilmu pengetahuan, dan mendorong kemajuan peradaban Islam menjadi yang terdepan selama beberapa abad.  Bahkan cahayanya bisa dinikmati dan menerangi kegelapan di berbagai belahan dunia lain yang meskipun tidak mengikuti ajaran Islam.  Islam rahmatan lil `alamin.

Beberapa abad ini, kaum muslim nyaris tertinggal di belakang.  Umat Islam yang dulu begitu termasyhur kehebatannya dan kemajuannya dalam ilmu pengetahuannya, kini terpuruk dan melemah.  Ada apa dengan Islam dan Ilmu? Apa gunanya ilmuwan berislam saat ini? Toh, ilmu pengetahuan saat ini berkembang pesat di Barat yang notabene bukan Islam, bahkan dengan meninggalkan agamanya mereka bisa mencapai kemajuan melebihi umat Islam.  Haruskah umat islam menjadi ilmuwan dengan meninggalkan agamanya agar bisa maju seperti mereka?  Jawaban pertama secara sadar dari seorang ilmuwan Islam pasti “Tidak“.  Tapi apakah dalam keseharian mencari ilmu, menggali pengetahuan mereka masih berpegang pada Islam?

Dasar pertama dalam setiap perbuatan seorang muslim hendaklah diniatkan karena “Allah“, bersandarkan kepada “Allah“ dan kemudian bertujuan kepada “Allah“.  Penjabaran kesejatiannya bisa berawal dari pembacaan lafaz Bismillah sepenuh hati dalam setiap kegiatan mencari ilmu (termasuk memulai belajar, mengajar dan meneliti).  Lebih jauh, niat karena Allah ini bisa dirasakan bahkan dari melihat objek yang akan menjadi sumber ilmu.  Dengan menghadirkan Allah sebagai pencipta objek tersebut, segala rasa indra dalam tubuh akan meresapi detail kebesaran Allah dalam menciptakan.  Bunga bukan sekedar bunga, ikan bukan sekedar ikan, alam bukan sekedar alam, aktivitas manusia bukan sekedar manusia; melainkan puzzle ciptaan Allah yang tidak mungkin bergerak dan hidup sendiri tanpa kuasa Allah.  Setiap sel dalam tubuh dari mata, tangan, hati dan pikiran  akan tertumpu dan merasa, meraba dan meresapi ilmu yang ada, baik tampak maupun tidak.  Badan bukan sekedar badan namun menyatu dengan alam semesta menggapai kehidupan yang besar.  Saat hidup dan kehidupan diniatkan karena Allah, maka kedekatan dengan Allah akan menjadi bagian dari proses dan hasil mencari ilmu.  Allah akan membukakan pintu ilmu seluas-luasnya, menerangkan penglihatan dan memperluas jalan pemikiran tanpa batas yang diduga sebelumnya.

Kekuasaan Allah tanpa batas, namun hati, pikiran dan tubuh manusia penuh keterbatasan, lemah dan sering kali terbatasi.  Godaan dunia terpampang di depan mata, jauh lebih besar dari beban dan rintangan yang sebenarnya. Hiduppun menjadi terasa berat untuk dilalui, jalan penuh semak belukar, beban semakin besar dan tak ada pijakan yang dapat digunakan. Saat inilah, iman ilmuwan diuji dan dimanfaatkan. Iman bukan sekedar percaya dalam kata namun dengan penuh kesadaran menyandarkan kehidupan kepada “Allah“. Tak ada kepenatan, tekanan, kegelisahan, dan ketegangan dengan menyandarkan proses dan hasil kepada Allah.  Seberapa besar manusia bisa melepas materi agar berjalan sebagaimana sunatullah, disitulah kemudian dia akan menemui makna yang sesungguhnya dari ilmu.

Tugas ilmuwan adalah membaca kalam Allah dalam alam dan kehidupan.  Kadang hasil kerja keras selama sekian waktu mungkin tidak sesuai dengan hipotesis semula, karena mungkin sebenarnya kemampuan otak manusia pada saat menganalisisnya yang kurang tepat sehingga tidak sesuai dengan pengharapan.  Namun demikianlah ilmu, tak ada yang salah dengan ilmu pengetahuan yang nyata.  Jika ada kesalahan maka itu semua berasal dari kelemahan manusia.  Saatnya kelemahan manusia (ilmuwan) muncul maka kembali kepada Allah adalah sebaik-baiknya tempat kembali.  Dengan kuasa Allah menerangi hati dan pikiran, batu beban sebesar gunung adalah hal teringan untuk diangkat dan dibalik menjadi bagian dari kekuatan ilmuwan. Rintangan seluas samudra adalah bagian terindah perjalanan yang diarungi tanpa lelah, resah, gelisah, karena Allah senantiasa menyertai.  Saat manusia mendekat kepada Allah, Allah akan jauh lebih dekat dari yang dibayangkan semula.

Dalam setiap langkah, tak ada kehidupan tanpa ilmu.  Ilmu meningkatkan derajat kehidupan manusia bukan materi kehidupan karena jalan itu sekedar membangkitkan kebanggaan semu.  Ilmu menjadi sangat melenakan saat dimaknai dengan gelar, prosesi wisuda, pekerjaan dan kekayaan.  Pada tujuan akhir “Allah“ bermakna bahwa setiap proses perjalanan dan perolehan hasil akhir dari pencarian ilmu tersebut adalah rahmatan lil’alamin.  Ilmu bukanlah ilmu saat merusak keseimbangan kehidupan.  Ilmuwan yang berkutat dalam kehidupannya sendiri tanpa kontribusi pada umat dan alam secara tanpa sadar melepaskan pegangan dan sumber ilmu, Allah.  Apapun bidang ilmu yang digeluti maka hendaknya kembali memberi rahmat dan manfaat bagi kehidupan manusia dan alam.  Ilmu itu tanpa makna tanpa pengamalan yang memberikan manfaat bagi umat. Ilmu yang diamalkan akan mendatangkan ilmu lain yang belum diketahui, baik secara langsung maupun tidak langsung.  Ilmuwan tak perlu menunggu gelar tersematkan dan ijasah di tangan, dalam setiap helaan nafas, langkah, senyuman, tingkah perbuatan dan peran dalam kehidupan sosial dan sehari-hari yang bermanfaat dan membahagiakan bagi lingkungan, teman, sahabat, tetangga, saudara adalah amalan yang paling dicintai Allah.

Semoga Allah senantiasa menguatkan ilmu dan iman ilmuwan.

Wallahu a’lam bish-shawabi.

Oleh: Nur Rochmah K

 

ANAK KITA

Anak Kita: Masa Depan Dunia dan Akhirat

ANAK KITA

Mendidik anak di waktu kecil seperti mengukir di batu,
Mendidik anak di waktu besar seperti mengukir di air

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, dunia yang saat ini kita tinggali hanyalah akan menjadi bagian kecil dari kehidupan manusia.  Suatu saat kita akan meninggalkannya dan kemudian siapa yang akan tinggal? Anak-anak kita dan keturunan berikutnya.

Ada banyak dalil tentang wanita dan anak-anak dalam Islam.  Diantaranya disebutkan bahwa “Apabila manusia telah mati, terputuslah amalannya kecuali tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.”.  Salah satu makna yang bisa kita petik adalah setelah kita meninggalkan dunia ini, masuk ke dalam alam kubur, alam barzah dan seterusnya…di mana sudah tidak ada kesempatan untuk kita melakukan sesuatu dan amal perbuatan kita selama di dunia dihisab, maka hanya ada tiga hal yang mungkin dapat menolong kita, yang salah satunya adalah anak yang shalih.  Bahkan dalam hadist berikut disebutkan tentang hamba Allah yang mendapatkan kemuliaan berkat dari doa anaknya.

Kalau ada yang pernah tahu tentang pertanyaan mengenai telur dan ayam,“Manakah yang ada terlebih dulu, antara ayam dan telur?“  Kalau diterapkan pada kehidupan manusia, antara anak dan orang tua (ibu), kita tahu pasti mana yang diciptakan terlebih dahulu, yaitu orang tua. Kenapa? Karena Nabi Adam dan Hawa diciptakan tidak mulai dari bayi melainkan sudah masuk masa dewasa.  Nah, dari sini kita mulai melihat suatu benang merah dengan orang tua, ibu.  Wanita sebagai ibu.

Dalam Islam kedudukan wanita sangat tinggi.  Disebutkan dalam hadist, orang yang harus dihormati adalah Ibu, Ibu, Ibu, baru kemudian Ayah.  Dalam hadist yang lain disebutkan bahwa wanita adalah tiang negara.  Jika kuat wanitanya, maka kuatlah negara itu.  Dan sebaliknya jika wanita di suatu negara lemah, maka akan lemah negara itu.  Kenapa?  Karena wanita memiliki peran strategis dalam menjaga keluarga dan terutama mendidik anak (masa depan).  Tentang kekuatan wanita ini pernah dibahas pada pertemuan sebelumnya oleh ustadzah Masyitah dan ustadzah Aulidya.  Dan liburan musim panas pada bulan Agustus akan diundang ke Eropa, Felix Siauw untuk menginspirasi para wanita mengenai peran penting wanita dalam Islam dan dunia.

Ada satu keprihatinan, permasalahan yang saat ini dihadapkan pada wanita adalah persepsi mengenai pendidikan dan karir.  Persepsi masyarakat umumnya saat ini adalah seseorang yang berpendidikan identik memiliki pekerjaan dan karir sehingga sering kali berhadapan dengan peran utama wanita dalam mendidik anak.  Padahal pendidikan yang diperoleh seharusnya menjadi dasar dalam mendidik anak-anak.  Sudah seharusnya sebagai wanita yang berpendidikan menunjukkan kebanggaan dan keberhasilan sebagai ibu rumah tangga, bukan bersikap malu-malu karena menjadi ibu rumah tangga.

Wanita sebagai ibu dari anak-anaknya, bisa menentukan anak seperti apa yang ingin dia besarkan, yang suatu saat nanti akan dilihat sebagai generasi penerus kehidupan. Meski setiap kehidupan telah dicatat dalam Lauh Mahfuz, wanita perlu memiliki gambaran tersebut.  Ini dimulai dari saat menjawab “Iya“ atau “Tidak“ saat dilamar.  Kenapa? Jika dalam Al Quran disebutkan bahwa wanita itu seperti ladang tempat lelaki meletakkan benih, maka kita memiliki keistimewaan karena kita bisa memilih benih macam apa yang akan ditumbuhkan dalam rahim kita.  Mulai dari yang tampak (apakah dia orang jawa, berkulit gelap atau putih) hingga yang tak tampak (kebiasaan, iman).

Pendidikan anak, bukan hanya setelah dia dilahirkan atau setelah dia mengerti tentang tulisan, namun lebih jauh, saat proses awal penanaman benih, kehamilan hingga dewasa.  Di sini berdasarkan hadist Rasullullah, ada 3 kategori umur setelah kelahiran, yaitu 0-7, 7-14, 14-21.

Dalam kajian ini dimulai dari persiapan memiliki anak.  Hal apa yang perlu dipersiapkan, utamanya adalah kesehatan wanita, kemudian mendapatkan suami yang cocok dengan kriteria yang telah dibuat tadi, kemudian rohani atau mental siap untuk memiliki anak.    Sesuatu yang menarik perhatian pada kondisi saat ini, terutama di Indonesia, banyak kejadian, seseorang memiliki anak bukan karena siap memiliki anak, tapi karena anak adalah konsekuensi atau efek dari pernikahan.  Bahkan ada yang bilang “Jangan ditanya siap atau gak siap, seseorang pasti akan menjadi Ibu, jika dia telah memiliki anak“.  Masalahnya adalah, jika menjadi Ibu, apakah sudah siap dengan tanggung jawab yang besar itu dan menjadi ibu yang baik? Atau sebatas ibu biologis? Maka penting untuk seorang wanita mempersiapkan diri untuk menjadi Ibu, atau seorang Ibu mempersiapkan anak-anaknya untuk menjadi orang tua suatu saat nanti.

Dalam Islam bahkan diberikan panduan diantaranya melalui doa yang dipanjatkan pada saat seseorang hendak berhubungan (jima), yaitu…. Doa ini bermakna untuk memohon perlindungan kepada Allah agar rizki nikmat dan anak yang diperoleh tidak mendapat gangguan dari syaithan.

Kehamilan

Pada tahap berikutnya kehamilan, biasanya terhitung sebagai trimester pertama, trimester kedua, trimester ketiga.  Pendidikan pada saat kehamilan ini sangatlah penting untuk perkembangan anak selanjutnya pada tahap selanjutnya.  Pada saat di dalam perut ini sel-sel tubuh anak berkembang memperbanyak diri dan membentuk jaringan tubuh.  Setiap bagian tubuh Ibu, termasuk kebiasaan Ibu akan dicopy pada tahap ini oleh karena itu penting untuk Ibu senantiasa menjaga diri, baik makanan maupun perbuatan.  Makanan tentu saja sangat penting untuk kecukupan gizi selama pertumbuhan jabang bayi di perut.  Di sisi lain ini juga akan menentukan preferensi anak terhadap makanan.  Misal, jika Ibu suka makanan instant, maka suatu waktu anak dihadapkan pada pilihan makanan, dia akan cenderung memilih makanan instant.

Bagaimana dengan tahap ngidam? Ngidam biasanya terjadi pada trimester pertama.  Sebenarnya ini adalah istilah Indonesia, … kalau dalam istilah bahasa inggris disebut “morning sick”. Namun apakah disertai dengan permintaan aneh-aneh?  Tentang mengidam ini ada dua jawaban ilmiah mengenai sebab munculnya ngidam. Pertama secara biologis, adanya perubahan hormon dan perkembangan yang terjadi di rahim, menyebabkan perut mengalami tekanan sehingga muncul rasa kurang nyaman di lambung.  Kenapa pagi hari?  Karena perkembangan pesat terjadi pada malam hari saat Ibu beristirahat. Kedua secara psikologis, hal ini lebih didasarkan pada perasaan calon ibu baru yang merasa tidak siap dengan keadaan hamil atau akan memiliki anak, mengalami stress yang mendorong produksi asam berlebih di lambung sehingga muncul rasa mual.

Pada umur tiga-empat bulan disebutkan bahwa Allah meniupkan ruh ke dalam jabang bayi.  Oleh karena itu sangat disarankan untuk orang tua mulai memperdengarkan suara yang indah dan baik, misalkan dengan memperdengarkan murrotal.  Ada beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa memperdengarkan musik klasik memberikan efek yang baik pada anak.  Secara pribadi bukan hanya masalah musik klasik yang memberikan pengaruh utama, namun kenyamanan dan ketenangan Ibu pada saat itulah yang memberikan pengaruh terbesar pada pertumbuhan bayi.

Pada saat kehamilan ini kemampuan motorik dan verbal anak sudah mulai dapat dilatih.  Misalkan dengan tepukan lembut di perut yang berirama, nanti si jabang bayi akan memberikan tanggapan.  Jika dilakukan secara rutin, anak akan memberikan tanggapan yang seirama secara konsisten.  Begitu pula kemampuan verbal, misalkan dengan ibu yang gemar bersenandung semasa kehamilan akan memiliki anak yang cenderung lebih cepat dan aktif dalam berbicara dibandingkan anak sebayanya.

Hal yang terjadi selama kehamilan adalah investasi yang akan dapat dilihat setelah lahir (namun tentu saja bukan berarti begitu lahir dia akan tiba-tiba bisa berbicara atau berlari).  Perkembangannya mungkin akan tampak lebih cepat dari anak sebayanya namun tentu masih perlu terus rangsangan (pendidikan).

Kelahiran

Dalam proses kelahiran, sebaiknya Ibu memiliki ketenangan dalam menjalani proses ini.  Dalam proses ini akan sangat berpengaruh pada masa sekitar 0-1 bulan.  Seorang Ibu yang dengan tabah menahan sakit, tetap bersikap tenang, maka anak yang dilahirkannya pun akan cenderung lebih tenang, dibandingkan jika Ibu merasa panik.  Tentu saja rasa sakit melahirkan anak (terutama yang pertama) umumnya  memang luar biasa.  Jika Ibu panik ada muncul ketakutan pada anak untuk menghadapi dunia, biasanya hal ini akan terbawa pada sifat anak hingga sekitar 1-3 bulan, di mana anak akan menjadi sangat sensitif, mudah menangis keras, sulit berhenti.  Maka perlu diingat Allah menjanjikan wanita yang meninggal saat melahirkan mendapatkan pahala setara dengan berjihad di jalan Allah.  Banyak beristighfar, menyebut nama Allah, mengikhlaskan diri mengantar seorang anak lahir ke dunia seyogyanya menjadi bagian pribadi Ibu dalam proses kelahiran.  InshaAllah, semakin tenang dan berani seorang Ibu menghadapi proses kelahiran, maka semakin tenang dan berani anak untuk lahir menghadapi dunia.

Dalam satu hadist disebutkan bahwa anak yang terlahir ke dunia ini bersifat fitrah (suci), kemudian orang tuanyalah yang mendidik dia menjadi yahudi, nasrani, atau majusi.  Sebagai  muslim, pendidikan pertama yang dilakukan adalah memperkenalkan anak dengan kalimat tauhid melalui adzan di telingan kanan dan iqomat di telinga kiri.  Dilanjutkan dengan aqiqah dan pemberian nama.  Penting untuk orang tua memberikan nama yang baik, nama sebagai pengharapan kebaikan anak.  Begitu pula nama panggilan.  Jangan sampai setelah pemberian nama yang bagus kemudian dipanggil dengan nama yang buruk tanpa makna.  Sering kali anak menjadi malu dan hilang kepercayaan diri karena panggilan yang buruk.

Usia 0-7 Tahun

Disebutkan dalam hadist, …biarkan anak umur 0-7 tahun bermain sepuasnya…. Bahkan Ali r.a. menyebutkan bahwa pada usia 0-7 tahun jadikan anak sebagai raja yang dipenuhi dengan limpahan kasih sayang orang tua. Raja di sini bukan berarti semua keinginannya dituruti, namun pada masa ini pertumbuhan anak luar biasa pesat sehingga perlu mendapatkan dukungan yang baik dan tepat.  Misal pada masa 0-3 tahun pertumbuhan otak anak hingga mendekati otak orang dewasa.  Maknanya adalah dia memerlukan asupan gizi yang baik agar dapat tumbuh secara optimal.  Dan tentu saja pendidikan dalam bentuk  rangsangan motorik dan kognitif yang akan menjadi dasar pertumbuhan berikutnya.

Pada masa 0-7 tahun ini menjadi dasar dari kehidupan mendatang, oleh karena itu perlu pembiasaan pada kebaikan.  Masa di mana anak melihat dan mencontoh apa yang terjadi di sekitarnya.  Jika pada masa kehamilan ada hal yang terlewat atau kurang pas maka pada umur ini bisa dilakukan perbaikan mendasar pada sifat dasar anak.

Periode ini merupakan periode emas untuk mengembangkan potensi anak karena kemurnian hati dan pikirannya serta pertumbuhan sel yang bereaksi sangat cepat.  Pertumbuhan anak bisa dibagi dalam beberapa bagian fase utama.  Pertama fase satu tahun pertama dimana perkembangan sangat cepat dan dapat diperhatikan setiap triwulan.  Mulai dari anak lahir, menangis, mulai mengguling, merangkak, berdiri, berjalan serta berbicara hampir semua terjadi pada fase ini. Penguatan kemampuan motorik dasar berlangsung hingga umur dua tahun.  Pada umur tiga tahun, hendaknya anak mulai tidur secara terpisah dengan orang tua, meski mungkin masih ditemani menjelang tidur.

Pada fase hingga tujuh tahun ini, anak masih memandang hitam dan putih atas setiap keadaan dan kejadian.  Misalkan jika ada orang yang berbuat kasar maka dia akan merasa tidak suka, jika ada orang yang baik dia akan mudah merasa sayang.  Oleh karena itu sebagai orang tua, perlu diberikan contoh kehidupan yang baik sehingga dapat membentuk akhlak yang baik dari anak tersebut.  Sebisa mungkin orang tua memberikan sugesti nilai-nilai positif pada pertumbuhan anak, melalui tindakan, sikap maupun perkataan.  Alangkah baiknya jika orang tua melibatkan anak dalam berbagai aktivitas sehari-hari, sehingga anak melihat dan bisa menirukan apa yang dilakukan orang tuanya.  Misalkan bersih-bersih rumah, memasak, dan lain sebagainya.  Anak juga perlu mendapatkan kesempatan untuk melakukan hal yang serupa dengan kegiatan orang tua.

Dalam sebuah contoh kasus, seorang ibu ingin anaknya membereskan mainan setelah selesai bermain.  Maka orang tua perlu ikut serta dalam membereskan mainan, meminta bantuan anak untuk memindahkan mainannya ke tempat yang tepat.  Ibu perlu menunjukkan apa yang dimaksud dengan “membereskan” mainan, misalnya mengumpulkan mainan ke sebuah wadah, membuang kertas yang tidak terpakai, atau menata rapi mobil-mobilan di rak.  Jika sang ibu sebelumnya biasa menyuruh pembantu untuk membereskan mainan dan anak boleh meninggalkannya, maka pada saat ibu berkata “De, bereskan mainannya,” tidak bisa dipastikan anak melakukannya, bukan karena tidak mau tapi bisa jadi karena anak tidak tahu makna kata yang diucapkan orang tuanya.

Anak memerlukan rangsangan emosi, konasi, kognisi dan motoriknya dengan baik dan benar secara proposional dan tepat sehingga bisa terbentuk pribadi yang berkarakter baik.  Bagaimana cara ibu bereaksi terhadap anak, orang lain atau suatu kejadian, tidak terlepas dari pengamatan anak untuk ditirukan kemudian.  Contoh paling sederhana adalah saat ibu terganggu kemudian bereaksi dengan latah, maka tidak sedikit hal itu ditirukan oleh anak-anak.  Nah,  bagaimana jika latah ibu sesuatu hal yang kurang baik (misalkan mengucapkan kata-kata kotor)?  Begitupun dengan kehadiran orang lain di dalam rumah, seperti pembantu atau teman yang dating bermain.

Meskipun anak diasuh bagai raja, bukan berarti anak kebal akan larangan dan hukuman.  Justru anak perlu diperkenalkan dengan konsekuensi tingkah laku yang salah maupun benar.  Jangan segan mengatakan “tidak“ atau “jangan“ pada saat hal yang akan dilakukan anak sekiranya berbahaya, berakibat buruk atau salah.  Namun  jangan lupa untuk memberikan keterangan/alasan kenapa hal itu tidak boleh dilakukan oleh anak.  Misal, anak dibatasi untuk makan permen sehingga suatu waktu pada saat dia ditawari atau memiliki banyak permen, ibu meminta untuk tidak dimakan semua maka perlu dijelaskan sebab musabab permen tidak boleh dimakan dalam jumlah banyak.

Pada fase ini, ibu sebaiknya sudah mulai memperkenalkan Al Quran dan Hadist serta mengajarkannya.  Anak-anak bisa mulai dilatih dengan doa sederhana untuk memulai aktivitas dan dzikir saat mengisi waktu luang.  Berbagai adab dan akhlak yang baik dapat diajarkan melalui contoh dalam kehidupan sehari-hari.  Salah satu cara terbaik yang menyenangkan anak untuk menanamkan cinta Islam dan keberanian adalah melalui cerita kepahlawanan para nabi dan sahabat.  Dalam hal ini, ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan agar cerita yang diberikan benar dan tepat.  Pertama, ibu perlu memilah dengan cermat bahwa cerita yang akan dibacakan adalah benar, tidak mengandung bid’ah terselubung, tidak bermakna ganda dan tidak mendorong anak ke arah kemusyrikan.  Kedua, pilih bahan yang bersifat positif pada kehidupan anak dengan membawa contoh kebaikan.  Ketiga, berceritalah dengan menggunakan bahasa anak.  Jika terpaksa tak ada artikel atau terbitan untuk anak, gunakan bahasa sendiri yang sekiranya mudah dipahami anak.  Melalui bercerita, ibu akan memahami tahapan bahasa yang dipahami anak-anak dan setiap kata yang tidak dimengerti oleh anak harus dijelaskan dengan gamblang.

Anak sudah bisa mulai diperkenalkan dengan pakaian yang syar’i.  Misal dengan mengenakan kerudung pada anak perempuan, baju panjang dan tertutup.  Adanya perbedaan dengan lingkungan teman-temannya perlu dijelaskan dengan arif, sebagai bagian perintah Allah dan bentuk kepatuhan manusia.  Dengan membiasakan anak mengenakan baju yang tepat, InshaAllah pada saat anak baligh, dia akan dengan mudah mengikuti tuntunan agama.

Usia 7-14 Tahun

Menjelang umur tujuh tahun, anak yang dididik dengan baik akan mulai memahami beberapa peraturan dalam keluarga, terutama terkait dengan peraturan Islam.  Pada fase ini anak perlu mendapat penegasan mengenai hak dan kewajiban yang harus dilakukan.  Anak menjadi ‘tawanan’ dalam artian anak perlu mendapatkan latihan disiplin dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam sebuah hadist disebutkan “Ajarilah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika mereka berusia sepuluh tahun (bila tidak mau shalat)” (Shahih. Lihat Shahih Shahihil Jami’ karya Al-Albani).  Hal ini berarti ibu perlu melatih anak untuk berbagai kewajiban utama (sholat).  Hal ini tidak terjadi serta merta anak mendapat hukuman namun ada tahapan dalam mengajarkan mereka untuk dapat menunaikan kewajiban dengan sempurna secara intensif.

Berbagai pendidikan mendasar yang telah dilakukan selama 6-7 tahun pertama baru merupakan dasar pengetahuan.  Peraturan yang diberikan merupakan maklumat awal, sehingga anak dapat mengetahui sekiranya menghadapi suatu keadaan.  Sebagai kelanjutannya, pada usia 7-14 tahun, setiap peraturan mulai diterapkan dengan konsekuensi, ada hadiah dan hukuman atas setiap perbuatan.  Secara tegas perlu digariskan larangan untuk perbuatan yang haram.

Dalam fase ini anak mulai mendapatkan kewajiban, terutama karena anak memasuki masa baligh pada umur ini.  Seorang ibu perlu menjelaskan dengan hati-hati mengenai perubahan hormonal anak dan hal yang terkait dengan perubahan tubuh dan berbagia kewajiban yang menyertai.  Perlu ada pemahaman ibu dalam menghadapi anak usia ini mengenai munculnya ketertarikan anak kepada lawan jenis dan meningkatnya keeratan hubungan dengan lingkungan.  Disarankan untuk mulai memisahkan tempat tidur anak perempuan dan laki-laki.

Biasanya anak mulai memiliki teman dekat di sekolah yang bisa jadi akan sangat berpengaruh pada pandangan dan sikap anak itu sendiri.  Oleh karena itu orang tua perlu secara cermat memantau keadaan sekolah dan lingkungan bermain anak agar anak terjaga dari pengaruh buruk lingkungan yang mungkin terjadi.

Usia 14-21 Tahun

Pada usia 14-21 tahun, anak sudah memasuki masa remaja yang seringkali ingin mendapat perlakuan sebagaimana orang dewasa.  Selama masa peralihan ini, anak memerlukan pendampingan yang menyenangkan dari ibu.  Akan lebih mudah bagi anak untuk menerima masukan dari seorang teman atau sahabat daripada nasihat orang tua.  Oleh karena itu sebisa mungkin ibu perlu memberikan penghargaan, motivasi dan dukungan sebagaimana orang dewasa.  Beberapa pertanyaan yang mungkin muncul dari anak perlu disikapi secara rasional dengan jawaban jujur dan lugas.  Jangan sampai anak mencari jawaban dari luar rumah (yang mungkin salah/menyesatkan).

Dalam usia ini anak sudah mulai diberi tanggung jawab dalam rumah tangga.  Ibu dapat mulai memberikan bagian pekerjaan rumah kepada anak, tentu saja dengan memperhatikan minat dan kesukaan anak.  Misalkan untuk anak yang suka memasak, mungkin memberikan tugas di dapur yang lebih banyak akan lebih menyenangkan; atau untuk anak lelaki bertugas memotong rumput masih lebih menyenangkan daripada harus belanja.  Namun tentu saja sebaiknya ada pergantian tugas sehingga anak setidaknya bisa mencoba berbagai tanggung jawab dalam rumah tangga.

Dari berbagai minat dan kesukaan anak, ibu sudah bisa mulai mengajarkan anak bagaimana mengatur keuangan sendiri termasuk cara memperoleh uang dengan halal.  Ada banyak hal yang bisa dilakukan di rumah maupun di luar rumah yang dapat menghasilkan uang.  Misalkan untuk anak yang hobi membaca (dan membeli buku) bisa mulai mencoba membuka perpustakaan anak-anak, untuk anak yang suka memasak bisa mulai dilibatkan untuk membuat kue yang memiliki nilai jual, dan lain sebagainya.  Dalam hal ini perlu juga diajarkan empati kepada orang lain, sehingga barang komersil bisa pula bernilai sosial untuk orang yang membutuhkan.

Hal Penting

Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam mendidik anak, diantaranya adalah:

  1. Memahami anak sebagai individu yang berbeda, meski mereka terlahir dari orang tua yang sama;
  2. Memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak dalam memberikan tugas;
  3. Berusahalah untuk selalu menghargai niat, usaha dan kesungguhan anak;
  4. Berusahalah bersikap adil terhadap anak-anak dan berbuat baik kepadanya;
  5. Jika anak melakukan kesalahan, jangan hanya menunjukkan kesalahannya semata tetapi memberikan petunjuk cara memperbaiki kesalahan dan memberikan contoh bagaimana bersikap pada saat muncul permasalahan;
  6. Memperbanyak ucapan-ucapan yang mengandung muatan doa pada saat di hadapan anak; doa Ibu adalah doa yang makbul, dalam keadaan apapun berusahalah untuk mendoakan kebaikan anak;
  7. Berusahalah untuk senantiasa berlaku hikmah dalam menghadapi masalah anak;
  8. Menjaga diri dari sikap-sikap dan tindakan yang menjadikan anak mengalami trauma, blocking (mogok), malas atau enggan belajar;
  9. Menghargai anak dengan tidak membuka aib (kekurangan, kejelekan) yang ada pada anak di hadapan orang lain; memanggil atau menyeru anak dengan sebutan yang jelek; membentak, memaki dan merendahkan anak

***Salah satu hal terpenting sebagai orang tua muslim adalah tidak lepas untuk mengingatkan anak tentang keimanan, sebagimana nasihat Lukman kepada anaknya:

يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar”.(Luqman: 13)

Oleh : Nur Rochmah Kumalasari disampaikan pada pengajian Muslimah Kalam Goettingen 16 Februari 2014

Download Presentasi: ANAK KITA Masa Depan Dunia Akherat

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ikatan Iman: Dasar Mewujudkan Amal Ihsan dalam Keseharian

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kata ihsan (al-ihsân) secara bahasa artinya kebaikan dan kemurahan hati.  Rasulullah SAW ketika ditanya Malaikat Jibril tentang makna ihsan.  Beliau memberikan pengertian ihsan: “Engkau mengabdi kepada Allah seakan-akan engkau melihat Dia.  Kalau engkau tidak dapat melihat Dia, maka sesungguhnya Dia melihat kamu” (HR. Muslim) . 

Membaca hadist di atas dapat kita ketahui bahwa amalan perbuatan seseorang yang dilandasi pada keinginan semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT dan seakan-akan melihat Allah SWT sehingga menimbulkan perasaan bahwa Allah SWT yang senantiasa mengawasi apa yang kita perbuat. Dengan demikian akan mendorong untuk  selalu taat pada Allah SWT dan dapat mendekatkan ke amalan yang bersifat ihsan.

Mewujudkan Amal ihsan

Kata ihsan mudah sekali di ucapkan dan di hafal.  Seringkali terdengar dalam obrolan  diskusi, majelis  dan keseharian kita. Tetapi dalam pengamalannya tidaklah mudah seperti ucapan.  Untuk mendapatkan perbuatan yang tergolong dalam amal ihsan diperlukan pemahaman lebih jauh.  Seorang muslim yang baik tidak akan menginginkan perbuatan yang sia-sia karena hal kecil yang terlewat.  Pemahaman yang benar tentang Iman dan Islam mutlak diperlukan  karena berfungsi sebagai landasan dalam setiap perbuatan seorang muslim dalam beramal ihsan.

Sebuah contoh: dalam mengerjakan sholat sering kali tidak bisa khusu‘, berbagai pikiran muncul pekerjaan, bermain, jalan-jalan berbelanja dan lain sebagainya. Contoh lain ketika kita ingin bersedekah, membuang duri atau pecahan botol di jalan sering kali muncul pikiran untuk menunda atau justru tidak peduli.

Aqidah Islam:

Makna aqidah menurut istilah  adalah pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan, sebelum dan sesudah kehidupan dunia, serta hubungan kehidupan dunia dengan apa yang ada sebelum dan sesudahnya tersebut. Secara bahasa berarti ikatan.

Dalam konteks Islam, aqidah Islam bisa didefinisikan dengan iman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Kiamat, Takdir (Qadha dan Qadar) dimana baik dan buruknya semata-mata dari Allah, yang diyakini oleh qalbu dan diterima oleh akal, sehingga menjadi pembenaran (keyakinan) yang bulat, sesuai dengan realitas, dan bersumber dari dalil (dikenal dengan rukun iman)

Sedangkan makna iman berarti pembenaran pasti yang sesuai dengan kenyataan dan ditunjang dengan dalil/bukti.  Pembenaran pasti artinya seratus persen kebenaran/ keyakinannya tanpa ada keraguan sedikitpun.

Sedang Islam dibangun atas lima yaitu Syahadat, Sholat, Zakat, Puasa Ramadhan dan Haji bagi yang mampu (dikenal dengan Rukun islam) sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

Berikut potongan sabda Rasulullah SAW.

“Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “

 ….“ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “…(HR. Muslim).

Aqidah tidak hanya dibangun atas dasar doktrin atau taklid semata tetapi dibarengi dengan proses berfikir  secara rasional dengan akal. Dengan demikian akan memperkuat aqidah dan keimanan karena dibangun berdasarkan rasional dan bukti yang  nyata.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” [QS.Al-Baqarah: 164]

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” [QS. Ali Imran: 190]

Landasan Beramal

Perbuatan seorang muslim seharusnya selalu berlandaskan pada aqidah islam.  Hal ini akan membuat seorang muslim senantiasa berbuat dan bertindak, berusaha untuk terikat dengan hukum syara yang baik yang diperintahkan maupun meninggalkan apa yang dilarang Allah SWT.

Perbuatan atau amalan baik hendaknya selalu dilandaskan pada aqidah atau keimanan benar. Hal ini sebagai syarat agar diterima dan mendapat balasan pahala Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam  ayat Al Quran.

“Siapa yang melakukan amal shalih, baik laki-laki atau perempuan sedang dia itu mukmin, maka Kami akan berikan kepadanya penghidupan yang baik serta Kami akan memberikan kepadanya balasan dengan balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka amalkan” [QS. An Nahl : 97].

“Dan siapa yang melakukan amal-amal shalih sedang dia itu mukmin, maka dia tidak takut dizhalimi dan tidak pula takut akan dikurangi” [QS. Thaha : 112]

Sedangkan perbuatan-perbuatan baik yang  tidak didasarkan pada keimanan yang benar tidak bernilai ibadah di sisi Allah SWT walaupun perbuatan tersebut tidak bertentangan dengan Islam.

“Dan orang-orang kafir amalan mereka itu bagaikan fatamorgana di tanah lapang, yang dikira air oleh orang yang dahaga, sehingga tatkala dia mendatanginya ternyata dia tidak mendapatkan apa-apa, justeru dia mendapatkan (ketetapan) Allah disana kemudian Dia menyempurnakan penghisaban-Nya” [QS. An Nur : 3]

Koridor Islam

Islam mengajarkan bagaimana manusia untuk mengenal dan menyembah Allah SWT dengan cara yang benar.  Islam sudah memberikan koridor dan juga petunjuk kepada manusia untuk mengikuti perintah dan menjauhi larangan Allah SWT. Islam memerintahkan manusia untuk tunduk kepada Allah SWT, berbuat baik kepada orang tua, adil, bersikap jujur, menyantuni anak yatim dan orang miskin.

Bersikap  jujur dan menepati janji secara universal adalah sebagai hal yang sangat baik.  Integritas seseorang  dapat terpancar dari kejujurandan juga dalam menepati janjinya.

Ucapan dua kalimat syahadat yaitu bersaksi tidak meyembah tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah adalah syarat untuk menjadi Muslim.  Dua ucapan tersebut adalah janji untuk taat dan patuh kepada Allah SWT. Konsekuensi berjanji adalah kewajiban untuk menepatinya yaitu dengan mempelajari dan mengamalkan Al-Quran dan sunah Rasul-Nya dalam kehidupan.

Ketika ketaatan kepada Allah SWT diabaikan atau bahkan menyalahinya maka integritas sebagai seorang muslim tentu patut dipertanyakan. Muslim yang baik akan selalu menjaga integritas untuk selalu berusaha dalam ketaatan kepada Allah SWT.

IIman Islam dan Ihsan merupakan hal yang saling terkait dan tidak bisa dipisahkan dalam keseharian seorang muslim yang taat. Keteguhan iman dan ketaatan dalam ber-Islam akan memberikan kekuatan untuk istiqomah melaksanakan peraturan Islam di dalam kehidupan individu, keluarga, masyarakat maupun dalam kehidupan bernegara.  Islam telah memberikan aturan sempurna di segala aspek kehidupan sosial,  ekomoni, maupun politik. Dengan tetap berlandaskan keimanan dan Islam, akan muncul keterikatan kepada Allah SWT dalam keseharian. Tugas kita sebagai muslim adalah mempelajari islam dan berusaha senantiasa mengamalkannya.  Wallahu a’lam bishawab.

Oleh Sunardi Raharjo

*)Disampaikan pada Pengajian Kalam Göttingen 30 Maret 2014 di Kediaman Ibu Atiet.

kajian22 feb

Kepribadian Manusia dalam Al-Quran

kajian22 feb

Oleh: Reza Fathurrahman

Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat “dzikrukum” (penyebutan tentang dirimu atau sebab-sebab kemuliaan bagimu). Maka apakah kamu tiada memahaminya? (QS. Al-Anbiya : 10)

Setiap diri manusia sebagai sebuah entitas senantiasa memiliki dua sisi koin yang selalu berdampingan: Ia memiliki sejumlah KEUNIKAN (yang membuatnya berbeda dari yang lain) sekaligus KESAMAAN (yang membuatnya sama dengan satu atau beberapa manusia yang lain). Fenomena inilah yang dikenal dengan istilah “Kepribadian”. Kluckhohn & Murray (1948) merangkum gambaran kepribadian  manusia sebagai berikut: “ Each person is, in certain respects, like all other persons, like some other persons, and like no other person”.

Kutipan QS. Al – Anbiya ayat 10 di atas memberikan sebuah anjuran bagi kita untuk melakukan penelusuran ayat demi ayat Al-Quran sebagai sebuah sarana untuk mengenal lebih dekat diri kita sendiri (manusia). Gambaran yang diberikan oleh Kluckhohn & Murray akan kita gunakan sebagai alat bantu untuk menganalisa lebih lanjut gambaran kepribadian dalam Al-Quran ke dalam tiga bagian (level of analysis): “Like all others“; “Like some others“; dan “Like no others“.

Like all others    

Sebagai starting point kita akan bersama-sama mengkaji mengenai asal-usul penciptaan manusia serta peran utamanya sebagai “Khalifah di muka bumi” yang melatar belakangi proses penciptaan manusia. Dalam QS. Al- Mu’minuun 12 – 16 digambarkan bahwa siklus kehidupan manusia pada hakikatnya diawali dari saripati tanah –> dihidupkan –> dimatikan –> dibangkitkan. Manusia terlepas dari perbedaan suku/ras/agama memiliki sejumlah persamaan yang melekat padanya, antara lain: terlahir dalam keadaan fitrah dan memiliki kesempatan untuk memilih salah satu dari dua jalan (jalan kebaikan atau jalan kejahatan)

Like some others

Manusia dengan segala perangkat yang Allah karuniakan kepadanya, termasuk akal yang dimilikinya kemudian membuat beragam pilihan atas hidupnya. Lingkungan tempat ia menjalani hidup tentunya memberikan sejumlah pengaruh atas segenap pilihan yang ia ambil. Atas dasar inilah Al-Quran kemudian memberikan klasifikasi terhadap manusia sebagai konsekuensi pilihan hidupnya, antara lain: Muslimun, Munafiqun, dan Kaafirun.

Like no others           

                Seiring dengan berjalannya waktu, manusia akan tumbuh menjadi sosok yang memiliki kepribadian unik yang membedakannya dengan yang lain. Tidak terkecuali para Rasul Allah dan sahabatnya sebagaimana yang termaktub dalam berbagai cuplikan ayat yang mendeskripsikan beragam dinamika kisah hidup mereka.

Kesimpulan

Terlepas dari keragaman kepribadian yang dimiliki oleh setiap pribadi mukmin, syahadat yang kita ikrarkan telah membuat keragaman tersebut menjadi warna-warni pelangi yang indah dalam keimanan kepadaNya.  Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 138 :

“Celupan warna Allah, dan siapakah yang lebih baik celupan warnanya daripada Allah? Dan hanya kepadaNyalah kami menyembah” 

Disampaikan pada Pengajian Keluarga KALAM Göttingen, 22 Februari 2014

Auf Deutsch

Pengajian 28 12 13

Istiqomah dalam Menjaga Ibadah

Pengajian 28 12 13Oleh: dr. Ichsan, M.Sc*

Istiqomah secara etimologi bermakna tegak lurus, namun secara terminology istiqomah dapat memiliki beberapa pengertian.  Keempat sahabat Nabi memberikan pengertian tersendiri mengenai istiqomah.  Menurut Abu Bakar As Shiddiq ra, istiqomah berarti tidak menyekutukan Allah terhadap sesuatu apapun.  Sedangkan Umar bin Khattab ra menyebutkan bahwa istiqomah adalah komitmen terhadap perintah dan larangan tanpa menipu sebagaimana tipuan musang.  Utsman bin Affan ra mendefinisikan istiqomah dengan mengikhlaskan amal kepada Allah SWT.  Dan Ali bin Abu Thalib ra berkata bahwa istiqomah adalah melaksanakan kewajiban-kewajiban.  Ditambahkan dari Ibnu Taimiah bahwa orang yang beristiqomah dalam mencintai dan beribadah kepada Allah tanpa melihat kiri kanan.  Al Hasan menyebutkan bahwa istiqomah adalah melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.

Dari berbagai pengertian tersebut dapat ditarik benang merah bahwa istiqomah adalah keteguhan hati dan laku terkait suatu perbuatan dalam kehidupan yang sesuai dengan perintah dan larangan Allah SWT.

Selama beberapa waktu terjadi bias antara pemahaman mengenai istiqomah dan istighfar yang sebenarnya telah dijawab dalam QS. Al Fushshilat: 6 yang artinya: Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan (Nya)”.  Dengan penjelasan lebih lanjut dalam hadist dari Anas bin Malik ra, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Semua anak cucu adam berbuat kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang berbuat salah, adalah mereka-mereka yang bertaubat.” (HR.Tirmidzi)

Pemahaman dan pelaksanaan istiqomah merupakan suatu hal yang urgen karena telah diperintahkan Allah dalam QS. Hud: 112 yang artinya “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”.  Dengan imbalan surga untuk orang-orang yang senantiasa beristiqomah sebagaimana yang dijanjikan Allah dalam QS Al Fushshilat: 30 dan QS Al Ahqaaf: 13 – 14.  Dan istiqomah merupakan suatu keutamaan dalam memeluk agama Islam, sebagaimana sabda Rasulullah “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqomahlah (jangan menyimpang).‘“

Dalam kajian ini dibahas mengenai upaya seorang muslim dalam beristiqomah di negeri minoritas, karena tentu ada banyak perbedaan dengan negeri mayoritas muslim, sebagaimana Indonesia.  Meskipun ada banyak kekurangan dalam kehidupan di Indonesia, namun mau tidak mau harus diakui bahwa dalam banyak hal kondisi di Indonesia lebih mendukung untuk seorang muslim menjalankan kewajiban dan mempermudah menghindar dari maksiat.  Sebagai contoh, pada saat masuk waktu sholat akan terdengar adzan berkumandang, pada saat puasa Ramadhan hampir semua orang menyambut dengan gembira (mengadakan buka bersama dan saling membantu untuk membangunkan sahur) dan sebagainya.

Kondisi tersebut tentu saja sangat jauh dari kondisi yang ada di Jerman, di mana muslim merupakan komunitas minoritas.  Ada beberapa kondisi yang membuat seorang muslim di negeri ini perlu melakukan usaha besar untuk dapat menjalankan kewajiban dari Allah dan menghindar dari perbuatan yang terlarang.  Dalam kasus sederhana, sebagai mahasiswa yang memiliki tugas untuk menuntut ilmu terbentur pada jadwal kuliah atau praktikum yang kurang bersahabat dengan jadwal sholat.  Misalkan permasalahan waktu shalat Jumat yang terbatas untuk lelaki sementara ada jadwal praktikum yang bersamaan.  Dalam hal ini tentu saja seorang muslim harus berusaha keras untuk dapat tetap melakukan kewajibannya dengan baik tanpa menyebabkan masalah yang berarti.  Begitu pula dengan perubahan musim yang sangat berpengaruh terhadap pergeseran waktu sholat dan puasa.  Jika di negara tropis perubahan waktu sholat dan panjang waktu puasa berada dalam kisaran menit, maka waktu ibadah di negeri subtropis ini sangat beragam antar musim.  Oleh karena itu, dalam menjalankan kewajiban ibadah kepada Allah, seperti sholat, puasa, tilawah Al Quran, zakat, infak dan sadaqah diperlukan kesadaran sepenuhnya untuk seorang muslim terus istiqomah.

Menjaga diri untuk tetap istiqomah menjauhi larangan Allah pun mendapatkan tantangan tersendiri.  Beberapa hal yang perlu dijaga diantaranya adalah pergaulan, makanan (hala/haram), birul walidain, internet dan hal yang melalaikan.  Misalkan untuk menjaga hubungan baik dengan rekan, teman atau profesor tanpa mengorbankan nilai-nilai Islam atau terjerumus dalam perilaku yang dilarang.  Perbedaan lingkungan dengan tata cara pergaulan yang berbeda, sedikit banyak perlu dicermati dan dipelajari agar hubungan baik tersebut tidak mengganggu kebutuhan seorang muslim untuk menjaga kuantitas dan kualitas ibadahnya.  Demikian pula pada saat seorang muslim dihadapkan pada pilihan makanan yang tidak diketahui secara pasti asal muasal dan proses pengolahannya, diperlukan keimanan untuk dapat menghindar dari makanan yang diharamkan Allah.  Ada banyak alternatif yang disediakan alam untuk dapat dikonsumsi secara normal, seperti buah, sayuran, cerealia dan berbagai ikan.  Tak lupa disinggung hubungan interaksi antara lelaki dan perempuan yang nyaris tanpa batas di negeri ini.  Untuk seorang dewasa yang telah mencapai kematangan maka menyegerakan pernikahan adalah hal yang terbaik untuk mencegah perbuatan mungkar.  Adanya berbagai fasilitas yang dapat memudahkan kehidupan manusia hendaknya tidak menyebabkan seorang muslim lalai untuk beribadah kepada Allah.

Istiqomah sebagaimana dijanjikan Allah adalah jalan menuju surga (QS Al Fushshilat: 30 – 32).  Orang yang senantiasa istiqomah dapat memperoleh pertolongan dari malaikat (ta’yiid) karena merupakan amalan yang paling dicintai Allah.  Disebutkan bahwa ibadah seperti membaca beberapa ayat Al Quran yang dilakukan secara terus menerus setiap hari lebih disukai Allah daripada membaca Al Quran sebanyak-banyaknya dalam satu waktu.  Istiqomah akan memunculkan sifat berani (syaja’ah), tenang (ithmi’nan) dan optimis (tafa’ul) dalam menghadapai kehidupan.

Ada beberapa langkah yang perlu ditempuh menuju istiqomah, yaitu 1) memurnikan aqidah, 2) banyak menghadiri majelis ilmu, 3) memperbanyak amal shalih, 4) ikhlas dalam beramal, 5) bertahap dalam beramal, 6) melatih sifat sabar dalam beribadah, menjauhi larangan Allah dan menghadapi musibah, 7) menjaga mushahabah, 8) mempelajari kisah para Nabi dan sahabat, serta 9) senantiasa berdoa agar dapat istiqomah.  Salah seorang Nabi yang tetap istiqomah dalam keadaan susah adalah Nabi Ayyub as, yang mendapat cobaan dengan diambil nikmat kekayaannya hingga menjadi orang yang miskin dan penuh dengan penyakit.  Nabi Ibrahim as adalah salah seorang nabi yang diuji dengan kehadiran anak yang telah dinanti selama bertahun-tahun.  Ada pula sahabat Nabi yang diuji dengan kekayaan, yaitu Sa’labah.

Semoga dari paparan tersebut dapat diambil hikmah untuk seorang muslim senantiasa istiqomah di jalan Allah SWT.

*)Resume Pengajian Kalam Goettingen, 28 Desember 2013

Download presentasi Istiqomah dalam Menjaga Ibadah

Pengajian 231113

Menuju Ridho Allah Dalam Menuntut Ilmu

pngajiankalam231113

BAHAN RENUNGAN

Berkembangnya pemikiran yang menjurus kepada pemahaman bahwa aturan Islam sudah tidak relevan lagi dengan kemajuan ilmu pengetahuan modern karena perkembangan sains dan teknologi yang begitu cepat menjadi sesuatu hal yang perlu diluruskan. Pemikiran tersebut akan menjadi jurang pemisah yang semakin lebar antara aturan Islam dengan sains dan teknologi modern.  Pada gilirannya, akan mengakibatkan terjadinya pengkultusan terhadap ilmu itu sendiri dengan menganggap bahwa segala permasalahan yang dihadapi di muka bumi ini hanya dapat dipecahkan dengan ilmu pengetahuan modern.

Pemikiran tersebut bukan saja lahir dari kalangan non-muslim tetapi  juga berasal dari kaum muslimin itu sendiri yang meletakkan ilmu pengetahuan modern di atas segalanya dan menganggap bahwa aturan Islam tidak mampu menjangkau ilmu pengetahuan modern tersebut. Pemahaman tersebut berakibat kepada pengikisan nilai-nilai Islam dan lambat laun akan meninggalkan aturan Islam sebagai fondasi berfikir.

Dominasi  ilmu pengetahuan modern yang digerakkan oleh peradaban Barat non-Islam menjadi faktor yang sangat besar dalam kemunduran umat Islam padahal dalam sejarah awal berkembangnya, ilmu pengetahuan ummat Islam mampu membuktikan diri sebagai penggerak terdepan dalam perkembangan berbagai ilmu pengetahuan tersebut.  Namun kemajuan ilmu pengetahuan dunia Islam hingga saat ini terus menurun drastis seiring dengan terkikisnya kandungan nilai-nilai Islam dalam ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan modern semakin meluncur tanpa melibatkan aspek wahyu.

Komitmen terhadap Islam sebagai petunjuk dalam menuntut ilmu harus ditegakkan. Hal tersebut  agar kita terhindar dari kontaminasi pemikiran yang telah berkembang dalam peradaban Barat yang memang mempunyai paradigma dan filosofi yang berbeda dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Pemikiran tersebut bertumpu kepada pemahaman bahwa manusia sebagai mahluk rasional sehingga ilmu pengetahuan dan nilai-nilai etika yang diatur oleh manusia akan selalu berubah.

Mengembalikan pemahaman ilmu pengetahuan modern sebagai ilmu yang bermuatan nilai (values-laden sccience), bukan ilmu bebas-nilai (value-free science) menjadi suatu keharusan sehingga nilai moral berfondasi ajaran Islam akan selalu melekat dalam ilmu apapun. Bila itu dilakukan Insya Allah kita akan mendapat dua nilai, nilai kesuksesan di dunia dan nilai kesuksesan di akhirat, dan ilmu yang kita pelajari akan menuju kepada Ridho Allah ‘azza wa jalla.

FONDASI PEMIKIRAN

Ilmu itu milik Allah ‘azza wa jalla. Manusia tidak memilikinya dan sifatnya  hanya mempelajari ilmu tersebut. Ide-ide yang muncul baik tertuang dalam kata maupun pemikiran datangnya dari akal, dan akal adalah pemberian dari Allah ‘azza wa jalla  yang menciptakan kita. Sikap inilah yang harus pertama kali kita benamkan dalam-dalam pada pemikiran kita agar saat kita memperoleh ide maka kita yakin bahwa ide tersebut adalah pemberian dari Allah ‘azza wa jalla sehingga kita tidak terjebak dalam kesombongan dan pengkultusan terhadap ide tersebut.

Al Qur’an adalah sumber ilmu dan di dalamnya terdapat kebenaran mutlak bukan kebenaran semu. Kebenaran mutlak hanya datanya dari sang Khaliq -pencipta kita- sedangkan kebenaran semu datang dari manusia yang terkadang bisa salah, bisa dibantah dan bisa diperbaiki. Dengan demikian kita akan meyakini bahwa penjelasan ilmu yang ada di dalam Al Qur’an merupakan sumber informasi yang benar yang terus dipelajari hingga sekarang dan sangat mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan modern. Allah ‘azza wa jalla berfirman di dalam Al Qur’an:

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (Fushilat (41): 53).

Ayat  tersebut jelas menginformasikan bahwa manusia harus belajar dari tanda-tanda kekuasaan Allah ‘azza wa jalla yang pada gilirannya akalnya tunduk kepada kebenaran tersebut.

Pentingnya Ilmu Menurut Islam. Ilmu menempati kedudukan yang sangat penting dalam ajaran islam, hal ini ditunjukkan dengan banyaknya ayat al-Qur’an yang menyatakan orang berilmu dalam posisi yang tinggi dan mulia disamping hadits-hadits nabi yang banyak memberi motivasi bagi umatnya untuk terus menuntut ilmu. Informasi tentang ilmu di dalam Al Qur’an banyak sekali, terdapat sekitar 780 kali kata ilmu disebut  di dalam Al Qur’an. Salah satu ciri yang membedakan Islam dengan yang lainnya adalah penekanannya terhadap masalah ilmu (sains), Al Qur’an dan Al–Sunah mengajak kaum muslim untuk mencari dan mendapatkan Ilmu dan kearifan, serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat tinggi (Ghulsyani 2001).

Islam telah sejak awal menekankan pentingnya membaca, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah yang pertama diturunkan yaitu surat Al-Alaq yang artinya:

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan kamu dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui”.

Motivasi untuk menuntut ilmu digambarkan Al-Qur’an pada wahyu pertama tersebut di atas. Iqro, itulah redaksi awal perintah tersebut. Kata tersebut mengandung arti luas bukan saja hanya diartikan sebagai perintah “bacalah”, tapi juga lebih diartikan sebagai perintah untuk mempelajari, meneliti, menganalisis, mendalami serta mengetahui. Pada ayat tersebut, tidak disebutkan tentang apa yang harus “dibaca” tetapi memberikan penekanan dengan nama Rabb yang menunjukkan bahwa aktivitas itu harus bernilai ibadah dan secara umum juga bermakna bagi kehidupan. Untuk itu, maka pelajarilah alam sekitar, pelajarilah kehidupan, sampai pelajarilah tentang manusia itu sendiri. Alat untuk mempelajari itupun sudah dipaparkan secara eksplisit di dalam Al-Qur’an. Potensi yang dimiliki manusia untuk memahami pengetahuan adalah akal, pendengaran, penglihatan, dan hati. Ayat  tersebut, jelas merupakan sumber motivasi bagi umat Islam untuk tidak pernah berhenti menuntut ilmu, untuk terus membaca, serta untuk menguasai teknologi. Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akhirat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”. (HR. Turmudzi)

Dari ayat dan hadits tersebut semakin jelas komitmen ajaran Islam pada ilmu, yang menunjukkan bahwa menuntut ilmu menduduki posisi fardhu (wajib) bagi umat islam. Hal tersebut menjadi semakin kuat dengan pernyataan dalam Al-Qur’an bahwa alam ditundukkan untuk dikuasai manusia sehingga posisi para penuntut ilmu yang tinggi dihadapan Allah akan tetap terjaga.

APA YANG HARUS DILAKUKAN?

Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap individu muslim dan muslimah yang tidak bisa diwakilkan kepada siapapun juga, karena ilmu yang kita peroleh akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah ‘azza wa jalla kelak. Firman Allah azza wa jalla dalam Al Qur’an:

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.(Q.S Al-Isra:36).

Untuk itu ada beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:

Memperbaiki niat. Niat pada asalnya mempunyai arti kehendak (al-qasdu). Kemudian niat pada umumnya diartikan sebagai keinginan. Niat kita dalam penuntut ilmu tentunya harus disandarkan kepada kewajiban.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan niat-niatnya dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan, maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak dia raih atau karena wanita yang hendak dia nikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrah kepadanya”. (HSR. Bukhary-Muslim dari ‘Umar bin Khoththob radhiallahu ‘anhu)

Rasulullah SAW bersabda:

“Mencari ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ahamad dan Ibnu Majah). Dampak dari niatan tersebut akan menjadikan kita sebagai  orang beriman  yang diangkat derajatnya oleh Allah ‘azza wa jalla. Firman Allah ‘azza wa jalla dalam Al Qur’an:

“Niscaya Allah akan meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (Qur’an Al mujadalah 11)

Dari penjelasan di atas akan mengarahkan kita kepada niatan menuntut ilmu karena ‘azza wa jalla  bukan karena maksud lainnya. Karena sedikit saja niatan kita melenceng maka akan sia-sialah amalan kita dalam menuntut ilmu. Firman Allah ‘azza wa jalla  dalam Al Qur’an:

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia amalannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya. (Al-Kahfi: 103-104)

Ikhlas dalam menuntut ilmu. Keikhlasan adalah kunci untuk memperoleh keridhoan Allah ‘azza wa jalla dalam menuntut  ilmu, tanpa niat ikhlas semua amalan perbuatan yang dilakukan tidak akan memperoleh nilai di hadapan Allah ‘azza wa jalla.

Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

“Barangsiapa menuntut ilmu yang biasanya ditujukan untuk mencari keridhaan, tiba-tiba ia tidak mempelajarinya, kecuali hanya untuk Mendapatkan harta benda keduniaan, maka ia tidak akan memperoleh bau harumnya surga pada hari kiamat. ” (HR Abu Dawud)

Dengan demikian sebelum kita berangkat mencari ilmu, modal utama yang harus kita miliki adalah niat kuat karena Allah ‘azza wa jalla. Niat mencari ilmu untuk meraih ridho-Nya sekaligus mengagungkan risalah-Nya. Allah ‘azza wa jalla akan menjamin kesuksesan di dunia dan akhirat bila niatan kita karena-Nya. Sebaliknya semua nilai kebaikan dalam mencari ilmu akan kosong, ketika niat kita bukan karena-Nya. Hanya kebanggaan diri, pujian manusia dan gelar-gelar duniawi saja yang akan diperoleh, sementara di hadapan Allah ‘azza wa jalla tidak mempunyai nilai sama sekali. Sangat merugilah apa yang dilakukan, waktu, tenaga, fikiran dan lain sebagainya hanya untuk memperoleh kenikmatan dunia sementara di akhirat tidak memperoleh apapun bahkan Allah ‘azza wa jalla tidak mengijinkan untuk menghirup wanginya syurga…Na’uzdu billahi min dzalik.

Bila muatan nilai keikhlasan karena ingin mencapai ridho Allah ‘azza wa jalla maka akan diperoleh ilmu yang bermanfaat sesuai sabda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Permisalan petunjuk dan ilmu yang Allah utus diriku dengan membawa keduanya sebagaimana permisalan hujan lebat yang membasahi bumi. Diantara tanah yang diguyur air hujan, ada tanah yang subur, yang menyerap air sehingga dapat menumbuhkan tetumbuhan dan rerumputan yang lebat” (HR. Bukhari)

Seperti itulah permisalan ilmu yang bermanfaat bagi seorang hamba. Ilmu tersebut akan memberikan manfaat kepada dirinya, dengan membuat hatinya semakin lembut, jiwanya semakin tunduk kepada Rabb-nya, lisan dan pandangannya semakin terjaga, serta ahlaknya semakin mulia.

Mengamalkan ilmu. Ketika seseorang mempunyai niatan yang ikhlas dalam menuntut ilmu tentunya sangat memahami bahwa ilmu yang dicari bukan hanya sebatas dimiliki saja akan tetapi mengamalkannya, karena dia yakin bahwa ilmu yang diperolehnya pasti akan ditanya oleh Allah ‘azza wa jalla. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki hamba di hari kiamat sampai ia ditanya,(salah satunya) tentang ilmunya, apa yang sudah dia amalkan?” (HR. Tirmidzi)

Semakin takut kepada Allah ‘azza wa jalla. Sebagai buah dari ilmu yang diperolehnya adalah semakin bertambah ilmu nya maka akan semakin takut kepada Allah ‘azza wa jalla. Ini adalah buah dari ilmu yang bermanfaat, ilmu yang dicari semata-mata karena mengharap Ridho-Nya. Seseorang yang telah berilmu tentang Allah, maka ia akan mengetahui keagungan dan kebesaran Rabb-nya sehingga ia akan semakin takut dan tunduk kepada-Nya serta selalu merasa diawasi oleh-Nya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Sesungguhnya yang yang takut kepada Allah diantara para hamba-Nya hanyalah orang yang berilmu” (QS. Fathir : 28)

Pada ayat di atas Allah menyebutkan bahwa orang yang takut kepada-Nya adalah orang yang berilmu. Oleh karena itu, semakin bertambah ilmu seseorang, semakin tunduk ia kepada Rabb-nya.

Marilah kita luruskan niat kita hanya karena mengharapkan balasan Allah semata, karena apa yang ada disisi Allah adalah kekal dan semua yang ada di dunia ini adalah sementara baik harta, jabatan, popularitas, pujian dan lain-lain maka semua itu pasti akan sirna. Firman Allah‘azza wa jalla :

“Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?.” (Q.S. Al-Qashas : 60).

Allah hanya memberikan sedikit saja tentang ilmu pengetahuan kepada manusia, ibarat mencelupkan ujung jari di lautan, dan setetes air itulah ilmu yang Allah berikan kepada manusia. Masihkah kita merasa sombong? Wallahu a’lam.

*) Disampaikan oleh: Dr. Yayan Apriyana di Pengajian Keluarga Kalam Goettingen, Jerman  23 November 2013

>>>Download Materi Presentasi

>>>Deutsch (German Version)

Pengajian Muslimah 161113

Pengajian Muslimah di Musim Gugur: Hidayah dan Pilar Islam

Pengajian Muslimah 161113Sabtu, 16 November 2013. Di tengah cuaca mendung yang menggayut rendah di kota Goettingen, Ibu-ibu dan anak-anak beriringan menuju HRS 9, kediaman keluarga Bapak Edy Supriyanto dan Ibu Rahayuwati. Pada hari itu direncanakan akan diselenggarakan pengajian anak dilanjutkan dengan pengajian muslimah Kalam Goettingen.
Pengajian anak berlangsung kurang lebih selama satu setengah jam dengan kegiatan berupa membaca iqro dan Al Quran dilanjutkan dengan hafalan surat-surat pendek. Anak-anak tampak bersemangat mengikuti pengajian yang diselingi dengan permainan dan Basteln.
Jeda sekitar satu jam dimanfaatkan untuk sholat, berbincang-bincang dan makan siang yang telah disediakan. Acara dilanjutkan dengan pengajian muslimah dengan acara terdiri dari pembukaan, pembacaan ayat suci Al Quran, sharing dasar pembuatan mie, kajian dasar Islam (hidayah dalam kehidupan), doa dan penutup.
Dalam sharing dasar pembuatan mie, Ibu Rahayuwati menjelaskan bahwa kekenyalan mie tergantung dari bahan tepung yang digunakan. Meski hampir setiap jenis tepung dapat digunakan, namun tepung berprotein tinggi (550) terbukti memberikan kekenyalan yang lebih baik. Ukuran telur yang digunakan juga berpengaruh pada tekstur adonan, karena jika ukuran telur besar (L), dapat menyebabkan adanan kelebihan cairan sehingga lebih lengket. Untuk itu dianjurkan untuk menggunakan tiga telur ukuran sedang (M) atau menggunakan dua setengah telur ukuran besar (L). Untuk resep selengkapnya dapat dibaca di blog Ibu Rahayuwati

membuat mieDalam kajian dasar Islam, Ibu Sri Wahyuni menjelaskan bahwa hidayah dapat datang melalui panca indra, insting, akal dan agama. Melalui panca indra dan insting, secara tidak langsung manusia dapat mengenali kebesaran Allah, namun tanpa olah akal dan petunjuk agama dapat berakhir pada kesesatan dan turunnya derajat manusia hingga menyerupai hewan yang tidak memiliki akal dan tidak mengetahui adanya agama. Agama itu sendiri tercermin dalam aqidah, akhlak dan hukum/syariah, yang ketiganya merupakan bagian dari pilar tegaknya agama.
Permasalahan yang muncul selama ini adalah agama hanya masuk dalam tataran aqidah, namun belum terwujud dalam kehidupan sehari-hari sebagai akhlak yang melekat pada diri individu. Akibatnya sering kali muncul gambaran negatif tentang Islam yang berasal dari permasalahan seorang/masyarakat muslim. Tegaknya agama Islam tidak dapat terjadi melalui jika hanya ada salah satu pilar yang kokoh, namun selalu perlu penguatan yang seimbang di ketiga pilar tersebut. Hingga saat ini hukum/syariah Islam belum diterapkan secara menyeluruh, meskipun di negara-negara yang menyebutkan dirinya sebagai negara Islam.
Diskusi berlanjut dengan seru hingga tak terasa hampir tiga jam kajian muslimah berlangsung sore hari itu. Kajian diakhiri dengan doa penutup dan mencicip mie home made.

P1030436

Hakikat Hidup dan Berkehidupan

Oleh: Ditdit Nugeraha Utama

Bismillah…

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam islam secara menyeluruh. Dan janganlah mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan adalah musuhmu yang nyata” (Q.S. Al-Baqarah[2]: 208).

P1030436Syukur adalah reaksi nyata yang harus dilakukan manusia, atas bergunung kenikmatan yang datang dari ALLAH tanpa henti. Syukur adalah sikap jelas yang harus dilakukan manusia, atas berjuta limpahan barokah yang datang dari ALLAH tanpa henti. Syukur bukan hanya bergulat pada makna terima kasih yang tersampaikan oleh lisan dan teryakini oleh hati saja; namun, syukur haruslah menjadi ejawantah eksplisit melalui sikap, aksi dan prilaku real berkaidah kebenaran dari setiap individu, atas respon segala jenis curahan kasih dan sayangnya ALLAH.

Sebuah contoh yang sempit dapat kita amati; berapa banyak orang yang berkeinginan untuk melanjutkan pendidikkan ke jenjang yang lebih tinggi, berapa banyak orang yang membuncah harapnya karena berkeinginan untuk melanjutkan studi ke luar negeri; namun ketika ALLAH tidak menghendaki itu terjadi, hanya nol besar tanpa kenyataan pada akhirnya. Namun, pada sisi yang lain, ada sebagian kita telah dijadikan dan disampaikan oleh ALLAH untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi (S2 bahkan S3), diterbangkan oleh ALLAH belasan ribu kilometer menuju Jerman, diberi kesempatan olehNYA untuk dapat mengenyam pendidikan pada lingkungan pendidikan yang kondusif dan terstruktur rapi dengan berbagai macam pengalaman positifnya; lantas pertanyaan sederhana muncul, apa sikap kita atas nikmat ALLAH yang berlimpah tersebut? Apa sikap kita untuk lebih bersyukur atas karuniaNYA yang sangat agung tersebut? Kalau sikap syukur atas nikmat ALLAH tersebut hanyalah terucap lisan dan teryakini hati saja; tidaklah usah kita mengenyam pendidikan lebih tinggi. Kalau sikap syukur atas nikmat ALLAH tersebut hanya terucap lisan dan teryakini hati saja; ya tidak usah jauh-jauh kita diterbangkan oleh ALLAH ke Jerman ini. Intinya, pastilah ada tuntutan lebih dari ALLAH atas skenarioNYA menjalankan para kandidat master dan doktor ini terbang ke negara dream land Jerman ini, sejauh sebih dari enam belas ribu kilometer dari negara kita tercinta, Indonesia.

Solawat beserta salam, semoga terus tercurah pada junjungan bumi dan langit; nabi besar Muhammad SAW. Seorang manusia pilihan ALLAH. Rasul adalah manusia yang merupakan pilihan ALLAH. Manusia, karena dijadikannya sebagai tauladan bagi manusia lain. Manusia, karena agar manusia lain dapat mengikutinya dengan sangat dekat. Sehingga hanya akan ada dua konsekwensi logis bagi umat manusia lain atas pemilihan manusia (Rasul) oleh ALLAH sebagai uswah; jika kita mengaku diri ini adalah manusia, maka ikutilah Rasul (manusia juga) pada setiap tingkah dan geraknya; atau, jika kita tidak mau mengikuti manusia pilihan ALLAH tersebut (Rasul), ya jangan sekali-sekali kita mengaku-ngaku menjadi manusia.

Rasul adalah manusia pilihan yang sangat tahu percis memposisikan Al-Qur’an sebagai cahaya yang membawa alam gelap menuju terang benderang (Q.S. Al-Baqarah[2]: 1). Ibarat matahari (cahaya), matahari akan menerangi alam semesta, ketika dia berada di atas; karena ketika matahari berada di bawah (di bagian bumi lain), alam semesta gelap pada akhirnya. Rasul tahu percis hakikat ini semua, makannya Rasul meletakkan Al-Qur’an di atas segala urusan manusia; dengan sunnahnya sebagai implementasi atas segala yang tersurat dan tersirat pada Al-Qur’an. Rasul pun paham benar, bahwa cahaya (Al-Qur’an) dengan spektrumnya mampu membuat semua objek di area sinarnya menjadi nampak jelas perbedaan dan warnanya; sebuah objek menjadi nampak berwarna tertentu, karena objek tersebut hanyalah mampu memantulkan jenis warna cahaya dengan panjang gelombang yang sama dengan partikel dan molekul penyusun objek tersebut. Maka, sangat teryakinkan, bahwa Al-Qur’an sebagai pembeda (Al-Furqon) – antara yang haq dan bathil – memang telah diskenariokan dengan sangat logis dan penuh kandungan ilmu oleh penciptannya, ALLAH Azza wa Jalla.

Masuk ke dalam inti tema kali ini. Tujuan merupakan sebuah keniscayaan adalah benar adanya; namun tujuan dijadikan orientasi hidup menjadi salah adanya. Tujuan menjadi sebuah statemen yang telah digariskanNYA adalah mahfum adanya; namun tujuan dijadikan sebuah orientasi berkehidupan adalah salah kaprah. Sebuah statemen yang menyatakan bahwa ‘kesuksesan adalah hak setiap orang’ menjadi sangat tidak logis dan tidak masuk akal. Bagaimana bisa, sebuah kesuksesan sebagai hak prerogatif ALLAH diakuisisi menjadi haknya manusia? Atau sebuah statemen yang menyatakan bahwa ‘kaya adalah hak setiap orang’ menjadi lebih gila; sepertinya manusia telah bisa menentukan status kaya dan miskin dirinya sendiri. Bahwa sukses atau gagal, sehat atau sakit, kaya atau miskin adalah menjadi sebuah status dan keniscayaan adalah sangat logis; namun jika hal-hal tersebut menjadi sebuah orientasi jelas merupakan hal yang sangat tidak masuk akal. Maka, untuk urusan dimana ALLAH berperan mutlak, domain keimanan menjadi landasannya. Biarkan saja, bahwa di ranah gaib ini, keimanan menjadi basis pijakannya. Yakini saja bahwa sehat, sakit, kaya, miskin, sukses, gagal, bahkan hidup dan mati, termasuk surga dan neraka; semua adalah hak prerogatif ALLAH dan kita mengimaninya sepenuh jiwa; iman yang terucap lisan, teryakini hati dan teraplikasikan pada kesehariannya.

Lantas adakah peran manusia? Jelas ada. Secara hakikat, berkehidupannya manusia di muka bumi adalah menjalankan peran yang telah terpilihkan oleh ALLAH, tanpa kita bisa membantah atau menyangkalnya. Menjadi orang tua sekaligus menjadi anak, menjadi sahabat, menjadi istri atau suami, menjadi tetangga, menjadi pendidik, menjadi pegawai atau business man, menjadi… menjadi…; merupakan peran-peran yang telah terpilihkan ALLAH dalam satu waktu yang bersamaan yang – mau tidak mau – harus kita jalankan. Boleh saja kita bermimpi menjadi seorang Bapak, namun ketika peran itu belumlah ALLAH pilihkan buat kita, apa pun kondisinya tidak akan pernah terwujud. Bolehlah kita berkhayal menjadi seorang kaya, namun ketika ALLAH tidak memilihkan peran itu buat kita, sampai kapan pun tidak akan pernah terlaksana. Jadi esensinya, kita berkehidupan hanyalah sedang menjalankan peran yang telah terpilihkan oleh ALLAH. Inilah hakikat domain keislaman. Sebuah domain, dimana manusia diberi keleluasaan oleh ALLAH untuk menentukan dan memilih – dengan ditopang oleh akal yang telah ALLAH ilhamkan – untuk menjalankan mana yang terbaik dan terbenar. Inilah hakikat berkehidupan, inilah hakikak berislam, inilah hakikat bersyariat; hakikat dimana kita harus pandai-pandai mengejawantahkan, mengimplementasikan dan mengaplikasikan pada berkehidupan nyata setiap rukun islam yang telah tergorekan atas setiap muslim.

Alhamdulillah…

Disampaikan pada  Tausyiah Buka Bersama Pengajian KALAM – Göttingen, 3 August 2013

>>>Lihat foto Kegiatan

Download >>> file PDF  >>>File Presentasi

 

Pengajian Kalam dirumah Ibu Diana Hesse

Berbagi Pengalaman dalam Meniti Jalan Islam: “Membangun Iman dengan Kebaikan dan Kejujuran”

Pengajian Kalam 29 JUni 2013

Pengajian Kalam 29 Juni 2013 di rumah Keluarga Hesse

Kajian keluarga muslim Goettingen, Sabtu 29 Juni 2013 diselenggarakan di rumah keluarga Hesse, Kleinschneen/Friedland, Goettingen.  Dalam kajian ini, jamaah mendapatkan pencerahan dari tuan rumah, Gregor Noor Hesse, mengenai pilihan hidup beliau untuk meniti jalan Islam.

Gregor H. terlahir  dan dibesarkan di Jerman, tumbuh dalam keluarga Katolik.  Pada umur 12 tahun sempat mengenyam pendidikan sekolah di Boarding School di Belanda kemudian melanjutkan ke sekolah bisnis dan belajar di Paderborn.  Dengan berbekal keahliannya, Gregor H. sempat bekerja di USA, menikmati hidup sebagai pria Jerman single dengan bekerja, bersenang-senang, pesta, alkohol dan tidur. Sayangnya semua hal yang terlihat normal itu terasa tak berarti mendalam.  Ada banyak pertanyaan hidup yang belum terjawab.  Samapi satu saat sempat mencari makna hidup melalui Scientologie*) dan membaca buku-buku karya Ron Hubarts, namun ada terlalu banyak tekanan yang membuat segalanya terasa absurd.

Hingga pada tahun 1987, sekembalinya dari Amerika, Gregor H. berlibur ke Bali dan Lombok.  Di sana, Gregor H. bertemu dengan seorang wanita yang membuka jalan perkenalan pertama dengan agama Islam, Diana, seorang muslimah taat.  Dari hubungan ini,  Gregor H. tertarik untuk mempelajari Islam lebih lanjut, terutama karena ketentuan pernikahan Islam yang mengharuskan wanita muslim menikah dengan pria muslim.  Tahun 1988 akhirnya menjadi titik balik kehidupan spiritual Gregor H. dengan memutuskan memilih untuk meniti jalan Islam dan menikah dengan muslimah yang taat dan baik, Diana.

Tak dapat dipungkiri kehidupan sebagai muslim tidak semudah membalik telapak tangan.  Namun Gregor H. berusaha untuk terus meningkatkan keimanannya, percaya kepada Allah dengan sepenuh hati tanpa perlu adanya perantara.  Gregor H. banyak mencari ilmu dengan bertanya kepada orang-orang yang lebih memahami Islam, dan tak berhenti berusaha mempelajari Al Quran dan Hadist.  Beruntung Gregor H. mendapat dukungan penuh dari Diana yang memberikan banyak bantuan dalam menentukan langkah menuju kebaikan Islam yang hakiki.  Setiap hal baru yang ditemui dalam Islam terasa mudah untuk diterima dan dimengerti melalui akal. Termasuk dalam menunaikan haji sebagai salah satu pendekatan pemahaman spiritual akan keberadaan Allah.  Hingga pada akhirnya, pemahaman itu membawa Gregor H. pada kebutuhan untuk beribadah kepada Allah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan.  Pada saat ini, ibadah adalah kebutuhan hidup sebagaimana makan, minum dan bernafas.

Keindahan dan kedalaman makna dimensi Islam membawa pada keinginan untuk terus berusaha melakukan yang terbaik untuk hidup.  Gregor H. memaknai Islam dengan akhlakul karimah yang menjadi cerminan dalam kehidupan. Menjadi ayah dan suami yang baik, bussinessman yang baik bagi kolega dan karyawan dan tetangga yang baik dalam lingkungan.  Nilai-nilai ini banyak sekali membantu dalam menunjukan identitas Islam sebenarnya dalam lingkungan non muslim yang kadang penuh dengan prasangka.   Gregor H. menjelaskan bahwa orang Jerman menyukai kejujuran dalam hidup sehingga seorang muslim perlu secara jujur menjelaskan beberapa hal penting selama berinteraksi.  Penjelasan yang jujur, santun dan ilmiah akan lebih mudah diterima dibandingkan upaya untuk menutup-nutupi kebenaran.  Bahkan secara langsung maupun tak langsung menjadi bagian dari dakwah dalam komunitas lingkungan.

Beberapa hal yang menjadi catatan khusus Gregor H. tentang Islam adalah masih terkotak-kotaknya muslim dalam bingkai kebanggaan kebangsaan dan kesukuan. Padahal pada dasarnya Islam secara sempurna diturunkan untuk seluruh umat manusia dengan dasar Al Quran dan Hadist yang  memandang sama semua insan tanpa perbedaan di hadapan Allah.  Setiap hal mendasar dalam kehidupan telah ditanamkan sebagai sarana kehidupan yang lebih baik, seperti disiplin, kejujuran, kesabaran, penuh kasih, dan kebersahajaan.  Sayangnya banyak muslim lebih memilih terpaku dalam tradisi yang menyebabkan hilangnya solidaritas dan toleransi dalam umat Islam sendiri.  Jika seandainya muslim lebih berfokus pada kesamaan aqidah dibandingkan perbedaan-perbedaan kecil, niscaya ada kehidupan yang jauh lebih baik untuk umat Islam secara keseluruhan.

Sebagai tambahan, Gregor H. menekankan pentingnya umat Islam untuk mempelajari bahasa Arab terutama untuk meningkatkan pemahaman dalam mempelajari Al Quran dan Hadist.  Gregor H. yakin setiap muslim akan lebih bisa memahami al quran, betapa indahnya Allah dalam membuat perumpamaan-perumpamaan yang terdapat di kalam-Nya, jika dia memiliki pengetahuan bahasa Arab sebagaimana yang digunakan dalam Al Quran.  Pengetahuan ini pada akhirnya nanti akan mendekatkan setiap pribadi kepada Allah secara langsung.  Pada saat seseorang telah memilih jalan Islam, maka tak ada hal lain yang perlu dilakukan selain meningkatkan keimanan kepada Allah sebagai konsekuensi untuk hidup berdasar Al Quran dan Hadist.  Oleh karena itu, Gregor H. juga mengingatkan arti pentingnya niat dalam beribadah karena iman kepada Allah bukan hanya karena rutinitas atau kebiasaan sehari-hari.

 ——————————-

*)Scientology adala sekumpulan ajaran dan teknik terkait yang dikembangkan oleh pengarang Amerika, L. Ron Hubbard selama sekitar 30 tahun, dimulai pada 1952 sebagai suatu filosofi pertolongan diri-sendiri, perkembangan dari sistem pertolongan diri-sendirinya yang lebih awal. (http://id.wikipedia.org/wiki/Scientology)

Materi disampaikan oleh Bpk. Gregor Hesse pada pengajian Kalam Goettingen 29 Juni 2013, Resume kajian oleh Nur Rochmah K.