Category Archives: News

ANAK KITA

Pengajian Muslimah di Akhir Musim Dingin

Musim dingin yang singkat di Goettingen pun mulai berakhir. Di pertengahan bulan Februari, pada tanggal 16, dilaksanakan pengajian muslimah di kediaman Wa Ode Kambalagit dan Uwe Joop.  Pengajian mulai dilaksanakan pada pukul 13.00, diawali dengan makan siang bersama dan sholat dhuhur.  Pada kesempatan tersebut hadir sekitar lima belas warga muslimah Kalam Goettingen, disertai dengan kehadiran hampir dua puluh anak-anak.

Pengajian diawali dengan pembacaan ayat suci Al Quran yang secara rutin dilaksanakan tilawah sebelum pengajian.  Selanjutnya, materi inti dibawakan oleh Nur Rochmah Kumalasari yang membahas mengenai peran wanita dalam mendidik anak sebagai masa depan dunia dan akhirat.  Dalam paparan tersebut disampaikan urutan tahapan pendidikan anak berdasarkan sunah Rasul dan peran utama wanita dalam mengasuh dan mendidik anak-anak dari sejak pernikahan, kehamilan, melahirkan hingga usia baligh. Sikap, sifat dan segala hal yang dilakukan oleh wanita sebagai ibu, merupakan contoh terdekat yang secara langsung akan ditiru oleh anak-anak.  Oleh karena itu, seorang wanita perlu memiliki pengetahuan mendasar dalam manjaga dan mendidik anak sehingga anak tumbuh menjadi generasi penerus yang shalih dan membawa keberkahan bagi umat.

Kajian diakhiri dengan diskusi singkat dan masukan dari warga mengenai pendidikan anak. Pengajian diakhiri dengan doa bersama untuk warga yang sedang sakit maupun tengah mempersiapkan ujian.  Sekitar pukul 16.00, warga muslimah Kalam mulai beranjak kembali ke rumah masing-masing.

Semoga kajian padat yang dibahas dalam pertemuan ini membawa hikmah untuk kehidupan selanjutnya.

 

Pengajian 28 12 13

Istiqomah dalam Menjaga Ibadah

Pengajian 28 12 13Oleh: dr. Ichsan, M.Sc*

Istiqomah secara etimologi bermakna tegak lurus, namun secara terminology istiqomah dapat memiliki beberapa pengertian.  Keempat sahabat Nabi memberikan pengertian tersendiri mengenai istiqomah.  Menurut Abu Bakar As Shiddiq ra, istiqomah berarti tidak menyekutukan Allah terhadap sesuatu apapun.  Sedangkan Umar bin Khattab ra menyebutkan bahwa istiqomah adalah komitmen terhadap perintah dan larangan tanpa menipu sebagaimana tipuan musang.  Utsman bin Affan ra mendefinisikan istiqomah dengan mengikhlaskan amal kepada Allah SWT.  Dan Ali bin Abu Thalib ra berkata bahwa istiqomah adalah melaksanakan kewajiban-kewajiban.  Ditambahkan dari Ibnu Taimiah bahwa orang yang beristiqomah dalam mencintai dan beribadah kepada Allah tanpa melihat kiri kanan.  Al Hasan menyebutkan bahwa istiqomah adalah melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.

Dari berbagai pengertian tersebut dapat ditarik benang merah bahwa istiqomah adalah keteguhan hati dan laku terkait suatu perbuatan dalam kehidupan yang sesuai dengan perintah dan larangan Allah SWT.

Selama beberapa waktu terjadi bias antara pemahaman mengenai istiqomah dan istighfar yang sebenarnya telah dijawab dalam QS. Al Fushshilat: 6 yang artinya: Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan (Nya)”.  Dengan penjelasan lebih lanjut dalam hadist dari Anas bin Malik ra, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Semua anak cucu adam berbuat kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang berbuat salah, adalah mereka-mereka yang bertaubat.” (HR.Tirmidzi)

Pemahaman dan pelaksanaan istiqomah merupakan suatu hal yang urgen karena telah diperintahkan Allah dalam QS. Hud: 112 yang artinya “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”.  Dengan imbalan surga untuk orang-orang yang senantiasa beristiqomah sebagaimana yang dijanjikan Allah dalam QS Al Fushshilat: 30 dan QS Al Ahqaaf: 13 – 14.  Dan istiqomah merupakan suatu keutamaan dalam memeluk agama Islam, sebagaimana sabda Rasulullah “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqomahlah (jangan menyimpang).‘“

Dalam kajian ini dibahas mengenai upaya seorang muslim dalam beristiqomah di negeri minoritas, karena tentu ada banyak perbedaan dengan negeri mayoritas muslim, sebagaimana Indonesia.  Meskipun ada banyak kekurangan dalam kehidupan di Indonesia, namun mau tidak mau harus diakui bahwa dalam banyak hal kondisi di Indonesia lebih mendukung untuk seorang muslim menjalankan kewajiban dan mempermudah menghindar dari maksiat.  Sebagai contoh, pada saat masuk waktu sholat akan terdengar adzan berkumandang, pada saat puasa Ramadhan hampir semua orang menyambut dengan gembira (mengadakan buka bersama dan saling membantu untuk membangunkan sahur) dan sebagainya.

Kondisi tersebut tentu saja sangat jauh dari kondisi yang ada di Jerman, di mana muslim merupakan komunitas minoritas.  Ada beberapa kondisi yang membuat seorang muslim di negeri ini perlu melakukan usaha besar untuk dapat menjalankan kewajiban dari Allah dan menghindar dari perbuatan yang terlarang.  Dalam kasus sederhana, sebagai mahasiswa yang memiliki tugas untuk menuntut ilmu terbentur pada jadwal kuliah atau praktikum yang kurang bersahabat dengan jadwal sholat.  Misalkan permasalahan waktu shalat Jumat yang terbatas untuk lelaki sementara ada jadwal praktikum yang bersamaan.  Dalam hal ini tentu saja seorang muslim harus berusaha keras untuk dapat tetap melakukan kewajibannya dengan baik tanpa menyebabkan masalah yang berarti.  Begitu pula dengan perubahan musim yang sangat berpengaruh terhadap pergeseran waktu sholat dan puasa.  Jika di negara tropis perubahan waktu sholat dan panjang waktu puasa berada dalam kisaran menit, maka waktu ibadah di negeri subtropis ini sangat beragam antar musim.  Oleh karena itu, dalam menjalankan kewajiban ibadah kepada Allah, seperti sholat, puasa, tilawah Al Quran, zakat, infak dan sadaqah diperlukan kesadaran sepenuhnya untuk seorang muslim terus istiqomah.

Menjaga diri untuk tetap istiqomah menjauhi larangan Allah pun mendapatkan tantangan tersendiri.  Beberapa hal yang perlu dijaga diantaranya adalah pergaulan, makanan (hala/haram), birul walidain, internet dan hal yang melalaikan.  Misalkan untuk menjaga hubungan baik dengan rekan, teman atau profesor tanpa mengorbankan nilai-nilai Islam atau terjerumus dalam perilaku yang dilarang.  Perbedaan lingkungan dengan tata cara pergaulan yang berbeda, sedikit banyak perlu dicermati dan dipelajari agar hubungan baik tersebut tidak mengganggu kebutuhan seorang muslim untuk menjaga kuantitas dan kualitas ibadahnya.  Demikian pula pada saat seorang muslim dihadapkan pada pilihan makanan yang tidak diketahui secara pasti asal muasal dan proses pengolahannya, diperlukan keimanan untuk dapat menghindar dari makanan yang diharamkan Allah.  Ada banyak alternatif yang disediakan alam untuk dapat dikonsumsi secara normal, seperti buah, sayuran, cerealia dan berbagai ikan.  Tak lupa disinggung hubungan interaksi antara lelaki dan perempuan yang nyaris tanpa batas di negeri ini.  Untuk seorang dewasa yang telah mencapai kematangan maka menyegerakan pernikahan adalah hal yang terbaik untuk mencegah perbuatan mungkar.  Adanya berbagai fasilitas yang dapat memudahkan kehidupan manusia hendaknya tidak menyebabkan seorang muslim lalai untuk beribadah kepada Allah.

Istiqomah sebagaimana dijanjikan Allah adalah jalan menuju surga (QS Al Fushshilat: 30 – 32).  Orang yang senantiasa istiqomah dapat memperoleh pertolongan dari malaikat (ta’yiid) karena merupakan amalan yang paling dicintai Allah.  Disebutkan bahwa ibadah seperti membaca beberapa ayat Al Quran yang dilakukan secara terus menerus setiap hari lebih disukai Allah daripada membaca Al Quran sebanyak-banyaknya dalam satu waktu.  Istiqomah akan memunculkan sifat berani (syaja’ah), tenang (ithmi’nan) dan optimis (tafa’ul) dalam menghadapai kehidupan.

Ada beberapa langkah yang perlu ditempuh menuju istiqomah, yaitu 1) memurnikan aqidah, 2) banyak menghadiri majelis ilmu, 3) memperbanyak amal shalih, 4) ikhlas dalam beramal, 5) bertahap dalam beramal, 6) melatih sifat sabar dalam beribadah, menjauhi larangan Allah dan menghadapi musibah, 7) menjaga mushahabah, 8) mempelajari kisah para Nabi dan sahabat, serta 9) senantiasa berdoa agar dapat istiqomah.  Salah seorang Nabi yang tetap istiqomah dalam keadaan susah adalah Nabi Ayyub as, yang mendapat cobaan dengan diambil nikmat kekayaannya hingga menjadi orang yang miskin dan penuh dengan penyakit.  Nabi Ibrahim as adalah salah seorang nabi yang diuji dengan kehadiran anak yang telah dinanti selama bertahun-tahun.  Ada pula sahabat Nabi yang diuji dengan kekayaan, yaitu Sa’labah.

Semoga dari paparan tersebut dapat diambil hikmah untuk seorang muslim senantiasa istiqomah di jalan Allah SWT.

*)Resume Pengajian Kalam Goettingen, 28 Desember 2013

Download presentasi Istiqomah dalam Menjaga Ibadah

Pengajian 231113

Ridho des Allah S.W.T zum Lernens

pngajiankalam231113Die Reflexion:

Ein wachsender Gedanke fuehrt an die Regel des Islams,  dessen mordernes Wissen nicht mehr relevant ist. Es geht darum, dass die schnelle Entwicklung der Wissenschaft und der Technologie ausgerichtet werden muss.  Dabei geht es darum, sowohl die Wissenschaft als auch die Technologie von der Religion zu trennen.

Dieser Gedanke erscheint nicht nur bei anderen Religion sondern auch beim Islam, dessen mordernes Wissen so weit von allen hingestellt wurde, dass sich dies sehr schlecht an den Werten und Normen des Islams auswirkt und mit laufender Zeit die Mauer zwischen den modernen und alten Gedanken immer groesser wird.

Der Mauer der Gedanken:

Das Wissen und die Wissenschaft gehoeren zu Allah S.W.T “azza wa jalla”; Die Menschheit habe es in Wirklichkeit gar nicht. Die Leute koennen nur lernen was Allah SWT erschaffen hat.  Die Ideen , die aus unseren Gedanken und Worten erscheint ist so zu sagen ein Geschenk Allahs S.W.T “azza wa jalla”. Dieses Verhalten muss in unserem Leben und unseren Gedanken aufgebaut werden, damit wir die Ideen kriegen und uns sicher sein koennen, dass die Ideen von Allah S.W.T kommen “azza wa jalla”, sodass wir nicht arrogant sind.

Der Koran ist eine Quelle des Wissens und die vollstaendige Wirklichkeit gibt’s nur im Koran. Diese kommt nur von Allah S.W.T und nicht von uns. Alles was wir denken und sagen kann veraendert werden, aber niemand kann etwas veraendern was von Allah S.W.T kommt. Trotz dem Alter des Kurans ist sie dennoch eine richtige Quelle, von der wir bis heute noch lernen koennen. Es hat die Faehigkeit die Entwicklung des heutigen mordernen Wissens zu beeinflussen, so steht in Surah  (Fuslihat (41): 53) :

Bald werden Wir sie Unsere Zeichen sehen lassen überall auf Erden und an ihnen selbst, bis ihnen deutlich wird, dass es die Wahrheit ist. Genügt es denn nicht, daß dein Herr Zeuge ist über alle Dinge?”

Diese Surah sagt aus, dass der Mensch von den Zeichen Allahs SWT lernen mussen “azza wa jalla”.

Einblick in den Islam, wie wichtig ist das Wissen im Islam? Das Wissen bleibt der hoechste Platz im Islam, dieses Argument zeigt sich mit der mehrere Surah im Koran. Wer von uns einen besseren Gedanken oder ein gutes Wissen hat, wird in die Naehe des Hadist von unserem Propheten gestellt, was zugleich eine Motivation fuer uns ist mehr lernen zu wollen. Es gibt ungefaehr 780 Saetze bezueglich des Wissens im Koran.

In der Surah Al-Alaq steht beispielsweise sehr deutlich, dass das Lesen fuer uns sehr wichtig ist.

“Lies im Namen deines Herrn, Der erschuf, Erschuf den Menschen aus einem Klumpen Blut. Lies! denn dein Herr ist der Allgütige, Der (den Menschen) lehrte durch die Feder, Den Menschen lehrte, was er nicht wusste.”

Mit der oben gennanten Surah wird im Koran die Motivation des Studierens dargestellt. Iqro, es hat mehrere Zwecke und nicht nur zum “Lesen!” aber es kann auch als eine Anweisung gedeutet werden, z.B des Lernens, des Analysierens oder des Wissens.

Was sollen wir tun?  Forschen ist fuer uns wichtig und es ist auch eine wichtige Aufgabe fuer uns.

Und verfolge nicht das, wovon du keine Kenntnis hast. Wahrlich, das Ohr und das Auge und das Herz – sie alle sollen zur Rechenschaft gezogen werden. (Q.S Al-Isra:36)

Dazu gibt es auch einige Gelegenheiten, um dies zu machen, naemlich : Die Korrigierung unseres Zieles. Das Ziel bedeutet ein Willen (al-qasdu) aber allgemein bedeutet es ein Wunsch. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sagte :

“die ihr glaubt, wenn in Versammlungen zu euch gesprochen wird: آ«Macht Platz!آ»- dann macht Platz; Allah wird ausgiebigen Platz für euch machen. Und wenn gesprochen wird: آ«Erhebt euch!آ» – dann erhebt euch; Allah wird die unter euch, die gläubig sind, und die, denen Wissen gegeben ward, in Rängen erhöhen. Und Allah ist wohl kundig dessen, was ihr tut.”

Die oben genannte Erklaerung richtet uns an unser Ziel zu Studieren “azza wa jalla”. Wenn unser Ziel sich nicht auf dem richtigen Weg befindet, dann ist alles was wir lernen umsonst.

“Sprich: آ«Sollen Wir euch die nennen, die in ihren Werken die größten Verlierer sind?. Die, deren Mühe verloren ist in irdischem Leben; und sie denken, sie täten gar Gutes.آ” (Sūrat Al-Kahf: 103-104)

Der Schluessel, um das Vergnügen Allahs des Allmächtigen in ihrem Forschen zu gewinnen, ist die Aufrichtigkeit. Ohne alle aufrichtigen Absichten wuerden wir nichts bekommen wonach wir sehnen.

Muhammad sallallahu alaihi wa sallam sagte:

“Wer nur fuer seine eigenen Zwecke lernt, jedoch nich den Segen Allahs erhaelt wird niemals den Duft des Paradies am Tage des Gerichtes riechen koennen. ” (Abu Dawud )

“Und auch bei Mensch und Tier und Vieh verschiedene Farben? So ist’s. Nur die Wissenden unter Seinen Dienern fürchten Allah. Wahrlich, Allah ist allmächtig, allverzeihend.” (QS. Fathir : 28)

“Und was euch auch an Dingen gegeben ward, es ist nur ein zeitweiliger Genuss dieses Lebens und sein Schmuck; und das, was bei Allah ist, ist besser und bleibender. Wollt ihr denn nicht begreifen?” (Sūrat Al-Qaşaş: 60)

Gott gibt den Menschen nur sehr wenig  über die Wissenschaft. Wenn man mit der Fingerspitze in den Ozean eintaucht waere es nur ein Wassertropfen, das Gott dem Menschen gegeben hat. Geben wir jetzt zu in Wahrheit arrogante Wesen zu sein?  Wallahu a’lam.

Dr. Yayan Apriyana  (Pengajian Keluarga Kalam Goettingen,  23 November 2013)

Deutsch (German) translated by: Megandani Adi

>>>Versi Bahasa Indonesia

 

 

Pengajian Muslimah 161113

Pengajian Muslimah di Musim Gugur: Hidayah dan Pilar Islam

Pengajian Muslimah 161113Sabtu, 16 November 2013. Di tengah cuaca mendung yang menggayut rendah di kota Goettingen, Ibu-ibu dan anak-anak beriringan menuju HRS 9, kediaman keluarga Bapak Edy Supriyanto dan Ibu Rahayuwati. Pada hari itu direncanakan akan diselenggarakan pengajian anak dilanjutkan dengan pengajian muslimah Kalam Goettingen.
Pengajian anak berlangsung kurang lebih selama satu setengah jam dengan kegiatan berupa membaca iqro dan Al Quran dilanjutkan dengan hafalan surat-surat pendek. Anak-anak tampak bersemangat mengikuti pengajian yang diselingi dengan permainan dan Basteln.
Jeda sekitar satu jam dimanfaatkan untuk sholat, berbincang-bincang dan makan siang yang telah disediakan. Acara dilanjutkan dengan pengajian muslimah dengan acara terdiri dari pembukaan, pembacaan ayat suci Al Quran, sharing dasar pembuatan mie, kajian dasar Islam (hidayah dalam kehidupan), doa dan penutup.
Dalam sharing dasar pembuatan mie, Ibu Rahayuwati menjelaskan bahwa kekenyalan mie tergantung dari bahan tepung yang digunakan. Meski hampir setiap jenis tepung dapat digunakan, namun tepung berprotein tinggi (550) terbukti memberikan kekenyalan yang lebih baik. Ukuran telur yang digunakan juga berpengaruh pada tekstur adonan, karena jika ukuran telur besar (L), dapat menyebabkan adanan kelebihan cairan sehingga lebih lengket. Untuk itu dianjurkan untuk menggunakan tiga telur ukuran sedang (M) atau menggunakan dua setengah telur ukuran besar (L). Untuk resep selengkapnya dapat dibaca di blog Ibu Rahayuwati

membuat mieDalam kajian dasar Islam, Ibu Sri Wahyuni menjelaskan bahwa hidayah dapat datang melalui panca indra, insting, akal dan agama. Melalui panca indra dan insting, secara tidak langsung manusia dapat mengenali kebesaran Allah, namun tanpa olah akal dan petunjuk agama dapat berakhir pada kesesatan dan turunnya derajat manusia hingga menyerupai hewan yang tidak memiliki akal dan tidak mengetahui adanya agama. Agama itu sendiri tercermin dalam aqidah, akhlak dan hukum/syariah, yang ketiganya merupakan bagian dari pilar tegaknya agama.
Permasalahan yang muncul selama ini adalah agama hanya masuk dalam tataran aqidah, namun belum terwujud dalam kehidupan sehari-hari sebagai akhlak yang melekat pada diri individu. Akibatnya sering kali muncul gambaran negatif tentang Islam yang berasal dari permasalahan seorang/masyarakat muslim. Tegaknya agama Islam tidak dapat terjadi melalui jika hanya ada salah satu pilar yang kokoh, namun selalu perlu penguatan yang seimbang di ketiga pilar tersebut. Hingga saat ini hukum/syariah Islam belum diterapkan secara menyeluruh, meskipun di negara-negara yang menyebutkan dirinya sebagai negara Islam.
Diskusi berlanjut dengan seru hingga tak terasa hampir tiga jam kajian muslimah berlangsung sore hari itu. Kajian diakhiri dengan doa penutup dan mencicip mie home made.

Halal Bihalal 18 Agustus 2013_13

Halal Bihalal Kalam Goettingen dan Temu Warga Indonesia di Goettingen-Jerman

Halal Bihalal 18 Agustus 2013_6Pada tanggal 18 Agustus 2013, PPI Goettingen bekerjasama dengan Kalam Goettingen kembali melaksanakan  “Halal bihalal dan Temu  Warga-Indonesia  Goettingen” .

Acara ini dihadiri oleh  sekitar 150 orang terdiri warga Indonesia di Goettingen dan  tamu undangan dari kota sekitar. Beberapa diantaranya  warga negara Jerman dan  juga negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand yang tinggal di Goettingen.   Hadir pula dalam acara ini  Atase Pendikan dan Kebudayaan KBRI Berlin, Bapak Agus Rubiyanto dan Konjen KJRI Hamburg,  Ibu Marina Estella.

Acara mulai sekitar pukul 14.30 dengan kaffe trinken (welcome snack and coffee) yang menyajikan kue dan snack khas Indonesia.  Setelah acara pembukaan dilanjutkan dengan pentas anak-anak sholeh yang membacakan hafalan  surat-surat  Al -Quran  dan bersholawat nabi bersama-sama.  Setelah itu dilakukan pembagian hadiah lomba mewarnai dan menggambar yang sudah dilakukan sehari sebelumnya.   Hasil karyanya  juga dipajang di salah satu sisi dinding ruangan sehingga para tamu undangan dapat melihat hasil karya anak-anak bangsa ini.  Pentas anak dan pembagian hadiah ini disambut dengan senang dan penuh antusias dari tamu dan orang tua yang hadir.

Tarian Remo yang merupakan tarian khas Jawa Timur oleh Lyla Rahmaningtyas  juga ikut mengiringi suasana pembukaan  yang disambut  meriah oleh tamu undangan.

Dalam sambutannya,  ketua pelaksana Sunardi Raharjo menyampaikan ucapan Selamat Idul Fitri 1434 H dan permohonan maaf lahir dan batin serta berharap semua warga PPI beserta tamu undangan dapat melapangkan hati dan saling memaafkan.  Dengan adanya acara ini diharapkan dapat terwujudnya jalinan silaturahmi yang baik antar seluruh warga Indonesia di Goettingen, Jerman pada khususnya dan seluruh warga Indonesia pada umumnya. Sehingga dapat memberikan sumbangsih menuju kemerdekaan yang hakiki dalam mewujudkan mayarakat  yang makmur adil dan sejahtera dalam bingkai ketakwaan kepada  Tuhan yang Maha Esa.

Dalam kesempatan ini,  Ibu Marina Estella,  Konjen  KJRI Hamburg berkenan memberikan sambutan dan memberikan ucapan ucapan Selamat Idul Fitri 1434H dan permohonan maaf lahir dan batin serta berharap ke depannya  kita dapat meningkatkan lagi amal dan ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Materi tausyiah sampaikan oleh Ustadz  M Ferous dari PKPU.  Dalam Tausyiahnya, beliau meyampaikan arti pentingnya meningkatkan “Silaturahmi dan Ukhuwah dalam Kehidupan”.  Pada sesi sambutan Peringatan HUT RI Ke  68 yang disampaikan oleh Bpk. Agus Rubiyanto selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar RI Berlin.  Tema yang disampaikan adalah Nilai Kebangsaan dan Peran Serta Pelajar dalam Kemajuan Bangsa“ .

Pelepasan alumni yang akan kembali ke tanah air diawali dengan pemutaran film pendek yang berisi cerita singkat seputar aktifitas calon alumni di Goettingen dan juga kesan dan pesan dari warga.  Sambutan diwakili oleh Bpk Jaenal Effendi yang telah berhasil  menyelesaikan studi di Goettingen.  Suasana harupun meliputi warga PPI dan calaon alumni yang  hendak kembali ke tanah air.

Acara yang berlangsung santai ini juga diselingi dengan  medley lagu nasyid oleh tim nasyid ibu-ibu.  Rangkaian acara diakhiri doa dan salam-salaman antara warga Indonesia dan dilanjutkan makan malam bersama dengan menu hidangan khas lebaran Indonesia, opor dan ketupat .  Iringan lagu dan alunan musik dari tim musik Belinggo Goettingen ikut memeriahkan acara sampai selesai. (kalam-ppigoe/sr)

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Suasana Idul Fitri 1434 H di Goettingen Jerman

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Perayaan Idul Fitri tahun ini berlangsung dengan sederhana namun penuh makna bagi penduduk muslim di Göttingen. Goettingen merupakan sebuah kota kecil di wilayah Niedersachsen, German.  Kota ini dikenal sebagai kota pelajar dengan penduduk sekitar 130.000 jiwa, terdapat sekitar 25000 orang pelajar.  Di kota ini terdapat sekitar 6000 muslim yang tersebar di berbagai area, mulai dari desa hingga kota.  Umumnya muslim di sini merupakan pendatang.

Perayaan diawali dengan sholat Idul Fitri yang dilaksanakan pada waktu yang berurutan di tiga masjid yang berbeda di Goettingen.  Sholat Idul Fitri diselenggarakan pertama kali di Masjid Turki (Ministry of Turkish Islamic Cultural Association) pada pukul 07.00, di Masjid Al Iman pada pukul 08.00, dan terakhir pukul 09.00 diselenggarakan di Masjid At Taqwa.  Perbedaan waktu pelaksanaan ini dimaksudkan untuk mengakomodir kebutuhan warga yang memiliki beragam kegiatan karena hingga saat ini muslim di Goettingen belum memiliki hari libur tersendiri.

Kebanyakan warga Indonesia di Goettingen pada tahun ini memilih melaksanakan sholat Idul Fitri di Masjid At Taqwa.  Termasuk keluarga kami, yang tinggal di Albrecht Thaer Weg.  Sekitar pukul  08.00, sekitar 6 keluarga Indonesia bersiap berangkat dengan jalan kaki menuju ke masjid.  Anak-anak bersiap dengan semangat, berlari-lari kecil dan bercanda ria sepanjang perjalanan.  Rombongan ini tiba di masjid sekitar pukul 08.45 dan segera berpisah menuju kelompok masing-masing. Bapak-bapak dan anak-anak lelaki menuju shaf pria sedangkan ibu-ibu dan anak perempuan menuju shaf wanita, bergabung dengan warga muslim dari berbagai belahan dunia  yang tinggal di Goettingen.

Sekitar pukul 09.00, takmir masjid mengumumkan pelaksanaan sholat Ied yang akan segera dilakukan.  Sedikit berbeda dengan sholat Ied yang biasa dilakukan di Indonesia, takbir sholat Ied ini dilakukan hampir tanpa jeda.  Melampaui berbagai perbedaan, setiap orang hanyut menyatu dalam melaksanakan ibadah sholat Ied, tanpa batas ras, suku maupun negara.  Sholat dilaksanakan sekitar sepuluh menit, kemudian dilanjutkan dengan khotbah berbahasa Arab dan Jerman diakhiri dengan doa bersama.  Perbedaan ini tidak mengurangi rasa gembira warga, meskipun pengetahuan bahasa kami terbatas untuk mengerti sepenuhnya khotbah yang disampaikan.  Saat khotbah dan doa berakhir, seorang takmir masjid memberitahukan jika tersedia sarapan pagi di lantai bawah gedung masjid.  Warga Indonesia tak lupa memanfaatkan kesempatan untuk berkumpul di masjid, bertemu dan bersalam-salaman.

Sekitar pukul 10.00 warga Indonesia mulai beranjak meninggalkan masjid dengan gembira bersama rombongan masing-masing.  Halal bihalal warga Indonesia secara resmi akan diselenggarakan oleh KALAM Goettingen pada hari minggu, 18 Agustus 2013 di Mahatma Gandhi Haus.

Selamat Idul Fitri

Selamat Idul Fitri 1434 H

Selamat Idul FitriKeluarga Muslim Indonesia Goettingen

Mengucapkan Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1434 H “Minal Aidin wal faizin”

Mudah-mudahan kita disampaikan pada hari yang fitri dan mendapat ampunan dosa dari Allah SWT, serta mendapat pahala yang besar selama menjalankan ibadah Ramadhan.

Semoga ketaatan beribadah selama bulan Ramadhan akan selalu terbawa dalam bulan-bulan setelahnya dan kita disampaikan kembali pada Ramadhan tahun depan.

Dengan kerendahan hati, segenap pengurus kalam memohon maaf atas segala kesalahan, kekurangan, kekhilafan tindakan dan ucapan yang kurang berkenan.