Category Archives: Resume Kajian

Pengajian bersama Ustadz Adnan Al-Bahry dengan tema: Mencintai Rasulullaah dan Ahlul-Bayt

Pengajian bersama Ustadz Adnan Al-Bahry

Dengan tema: Mencintai Rasulullaah dan Ahlul-Bayt

– Sebuah Ringkasan ceramah –

Oleh : BardanBardan

Alhamdulillaahi rabbil ´alamin, puji serta syukur selalu kita panjatkan kepada Allah SWT, serta Shalawat dan taslim tidak pernah lupa juga kita sampaikan kepada junjungan kita, nabi besar Muhammad SAW, sang penutup serta penyempurna risalah para nabi dan Rasul, beserta para keluarga, sahabat serta ummat beliau hingga akhir zaman nanti.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, yang bertepatan pada hari minggu, 29 Oktober 2017 Kalam Göttingen mengadakan pengajian bersama Ustadz Adnan Al-Bahry, dengan tema “Mencintai Rasulullaah dan Ahlul-Bayt“, dengan tujuan untuk lebih memahami serta mencintai Rasulullah serta Ahlul-Bayt beliau, beserta para sahabat beliau yang mulia.

            Pengajian dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang di bawakan oleh saudara Fahmi, lalu pemateri mengajak jama’ah untuk bersama-sama membaca Syahadatain untuk lebih menegaskan keimanan para hadirin. Masih pada bagian pembukaan, pemateri juga menyampaikan betapa besar kemuliaan yang Rasulullah  dapatkan, yakni namanya disandingkan setelah mengucapkan kata Allah dalam dua kalimat syahadat, yang tanpanya tidak sempurnalah syahadat seseorang.

            Masuk kepada inti materi, pemateri menyampaikan betapa mulianya keluarga nabi Muhammad SAW dan juga keluarga-keluarga lain yang Allah sebutkan dalam Qur’an seperti keluarga ‘Imran,  yang mana salah satu keturunannya merupakan salah seorang nabi dan Rasul yang umat islam amat hormati yakni nabi ‘Isa AS., yang Allah berikan Injil kepadanya.

            Contoh keluarga mulia yang lain adalah keluarga nabi Musa A.S. Beliau A.S memiliki seorang saudara yang merupakan seorang nabi, yakni nabi Harun A.S, memiliki mertua yang juga seorang nabi, yaitu nabi Syu’aib A.S, serta masih banyak lagi conton-contoh keluarga mulia yang Allah abadikan namanya dalam Qur’an, agar kita dapat mencontohi serta mengambil pelajaran dari mereka.

            Lebih jauh lagi pemateri juga memberikan nasehat kepada para hadirin, wabil khusus kepada para hadirin yang telah berkeluarga, dimana beliau menerangkan: jikalau kita berharap keluarga kita menjadi keluarga yang mulia, hendaklah kita mencontohi keluarga-keluarga mulia yang yang Allah abadikan dalam Qur’an seperti yang telah diterangkan di atas.

            Di pertengahan pemateri juga menyampaikan tidak adanya perbdedaan dalam islam dari sudut pandang ras; baik orang arab atau orang ajami (non-arab) tetaplah seseorang itu  dapat mencapai kemuliaan, karna pada hakikatnya perbedaan terletak pada ketaqwaan kita dan bukan pada warna kulit atau ras kita, jadi biarpun kita seorang non-arab, tidak mengurangi potensi atau kesempatan kita untuk mencontohi sifat-keteladanan nabi Muhammad  beserta keluarga dan para sahabat beliau, biarpun pada hakikatnya mereka semua orang arab.

            Walaupun demikian hendaklah kita juga mencintai (bahasa) arab, dikarenakan Rasulullah  pernah menyampaikan dalam salah satu haditsnya yang artinya:

„[…] jagalah hak-hak ku melalui Arab karena tiga hal : pertama, karena aku orang Arab, kedua Alquran berbahasa Arab dan ketiga pembicaraan ahli surga dengan bahasa arab.“

            Pada bagian akhir ceramah, pemateri menyampaikan beberapa sifat Rasulullah  yang dapat kita contoh dalam kehidupan keseharian kita, yang dimana perilaku ini biarpun terlihat simpel, tapi justru inilah yang membuat nabi Muhammad  disegani banyak orang, contoh dari beberapa sifat nabi tersebut iyalah: (1) berjalan cenderung cepat, (2) dan saat berbicara  maka beliau  menghadapkan seluruh badannya kepada orang yang sedang berbicara dengannya, dan tidak setengah-setengah.

            Masih pada bagian akhir ceramah, pemateri juga menyampaikan bahwa Ahlul-Bayt nabi pun tentunya tidak luput dari kesalahan dan kesilapan, contoh konkrit yang beliau kemukakan adalah salah satu tokoh komunis Indonesia, yakni DN Aidit, yang – amat disayangkan – juga masih merupakan keturunan Ahlul-Bayt, biarpun masih simpang siur informasi tentang keabsahan informasi ini. Juga pada akhir cermah, pemateri menyampaikan beberapa fakta penting tentang keterkaitan keluarga nabi Muhammad  dengan bangsa Indonesia. Diantaranya:

1.      Sultan Hamid 2 dari Pontianak yang juga masih keturunan Rasulullah , sultan Hamid 2-lah yang merancang lambing Garuda Indonesia

2.      Sultan Syarif Kasim dari Kesultanan Siak yang memberikan kerajaannya untuk NKRI dll.

 

Berikut kesimpulan dari apa yang telah kita bahas panjang lebar diatas:

1.      Hendaklah kita mencontohi keluarga nabi Muhammad SAW, agar keluarga kita pun dapat menjadi keluarga yang mulia di sisi Allah

2.      Hendaklah kita menjadi duta-duta islam, dengan cara berdakwah dengan kebaikan, seperti melalui sifat-sifat keseharian yang membuat orang lain nyaman berada di dekat kita, sebagaimana orang-orang pun nyaman berada di dekat Rasulullah , dan bukan dengan kekerasan

3.      Hendaklah kita menjaga keislaman kita dengan selalu berpegang teguh kepada Kitabullah Al-Qur’an dan sunnah nabi Muhammad  serta juga dengan mencontohi perilaku keluarga dan para sahabat beliau.

 

            Sekian, dan kurang lebihnya mohon maaf, mudah-mudahan Allah senantiasa menjaga kita, kesehatan kita, harta dan keluarga kita, serta menjadikan hidup kita mulia dengan islam dan kita menutup kehidupan kita dengan syahid dijalan-Nya, aamiin.

 

Wassalamu’alaikum warahmatuLlaahi wa barakaatuh.

IMG_20171029_130534-min IMG_20171029_130514-min

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ikatan Iman: Dasar Mewujudkan Amal Ihsan dalam Keseharian

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kata ihsan (al-ihsân) secara bahasa artinya kebaikan dan kemurahan hati.  Rasulullah SAW ketika ditanya Malaikat Jibril tentang makna ihsan.  Beliau memberikan pengertian ihsan: “Engkau mengabdi kepada Allah seakan-akan engkau melihat Dia.  Kalau engkau tidak dapat melihat Dia, maka sesungguhnya Dia melihat kamu” (HR. Muslim) . 

Membaca hadist di atas dapat kita ketahui bahwa amalan perbuatan seseorang yang dilandasi pada keinginan semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT dan seakan-akan melihat Allah SWT sehingga menimbulkan perasaan bahwa Allah SWT yang senantiasa mengawasi apa yang kita perbuat. Dengan demikian akan mendorong untuk  selalu taat pada Allah SWT dan dapat mendekatkan ke amalan yang bersifat ihsan.

Mewujudkan Amal ihsan

Kata ihsan mudah sekali di ucapkan dan di hafal.  Seringkali terdengar dalam obrolan  diskusi, majelis  dan keseharian kita. Tetapi dalam pengamalannya tidaklah mudah seperti ucapan.  Untuk mendapatkan perbuatan yang tergolong dalam amal ihsan diperlukan pemahaman lebih jauh.  Seorang muslim yang baik tidak akan menginginkan perbuatan yang sia-sia karena hal kecil yang terlewat.  Pemahaman yang benar tentang Iman dan Islam mutlak diperlukan  karena berfungsi sebagai landasan dalam setiap perbuatan seorang muslim dalam beramal ihsan.

Sebuah contoh: dalam mengerjakan sholat sering kali tidak bisa khusu‘, berbagai pikiran muncul pekerjaan, bermain, jalan-jalan berbelanja dan lain sebagainya. Contoh lain ketika kita ingin bersedekah, membuang duri atau pecahan botol di jalan sering kali muncul pikiran untuk menunda atau justru tidak peduli.

Aqidah Islam:

Makna aqidah menurut istilah  adalah pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan, sebelum dan sesudah kehidupan dunia, serta hubungan kehidupan dunia dengan apa yang ada sebelum dan sesudahnya tersebut. Secara bahasa berarti ikatan.

Dalam konteks Islam, aqidah Islam bisa didefinisikan dengan iman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Kiamat, Takdir (Qadha dan Qadar) dimana baik dan buruknya semata-mata dari Allah, yang diyakini oleh qalbu dan diterima oleh akal, sehingga menjadi pembenaran (keyakinan) yang bulat, sesuai dengan realitas, dan bersumber dari dalil (dikenal dengan rukun iman)

Sedangkan makna iman berarti pembenaran pasti yang sesuai dengan kenyataan dan ditunjang dengan dalil/bukti.  Pembenaran pasti artinya seratus persen kebenaran/ keyakinannya tanpa ada keraguan sedikitpun.

Sedang Islam dibangun atas lima yaitu Syahadat, Sholat, Zakat, Puasa Ramadhan dan Haji bagi yang mampu (dikenal dengan Rukun islam) sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

Berikut potongan sabda Rasulullah SAW.

“Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “

 ….“ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “…(HR. Muslim).

Aqidah tidak hanya dibangun atas dasar doktrin atau taklid semata tetapi dibarengi dengan proses berfikir  secara rasional dengan akal. Dengan demikian akan memperkuat aqidah dan keimanan karena dibangun berdasarkan rasional dan bukti yang  nyata.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” [QS.Al-Baqarah: 164]

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” [QS. Ali Imran: 190]

Landasan Beramal

Perbuatan seorang muslim seharusnya selalu berlandaskan pada aqidah islam.  Hal ini akan membuat seorang muslim senantiasa berbuat dan bertindak, berusaha untuk terikat dengan hukum syara yang baik yang diperintahkan maupun meninggalkan apa yang dilarang Allah SWT.

Perbuatan atau amalan baik hendaknya selalu dilandaskan pada aqidah atau keimanan benar. Hal ini sebagai syarat agar diterima dan mendapat balasan pahala Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam  ayat Al Quran.

“Siapa yang melakukan amal shalih, baik laki-laki atau perempuan sedang dia itu mukmin, maka Kami akan berikan kepadanya penghidupan yang baik serta Kami akan memberikan kepadanya balasan dengan balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka amalkan” [QS. An Nahl : 97].

“Dan siapa yang melakukan amal-amal shalih sedang dia itu mukmin, maka dia tidak takut dizhalimi dan tidak pula takut akan dikurangi” [QS. Thaha : 112]

Sedangkan perbuatan-perbuatan baik yang  tidak didasarkan pada keimanan yang benar tidak bernilai ibadah di sisi Allah SWT walaupun perbuatan tersebut tidak bertentangan dengan Islam.

“Dan orang-orang kafir amalan mereka itu bagaikan fatamorgana di tanah lapang, yang dikira air oleh orang yang dahaga, sehingga tatkala dia mendatanginya ternyata dia tidak mendapatkan apa-apa, justeru dia mendapatkan (ketetapan) Allah disana kemudian Dia menyempurnakan penghisaban-Nya” [QS. An Nur : 3]

Koridor Islam

Islam mengajarkan bagaimana manusia untuk mengenal dan menyembah Allah SWT dengan cara yang benar.  Islam sudah memberikan koridor dan juga petunjuk kepada manusia untuk mengikuti perintah dan menjauhi larangan Allah SWT. Islam memerintahkan manusia untuk tunduk kepada Allah SWT, berbuat baik kepada orang tua, adil, bersikap jujur, menyantuni anak yatim dan orang miskin.

Bersikap  jujur dan menepati janji secara universal adalah sebagai hal yang sangat baik.  Integritas seseorang  dapat terpancar dari kejujurandan juga dalam menepati janjinya.

Ucapan dua kalimat syahadat yaitu bersaksi tidak meyembah tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah adalah syarat untuk menjadi Muslim.  Dua ucapan tersebut adalah janji untuk taat dan patuh kepada Allah SWT. Konsekuensi berjanji adalah kewajiban untuk menepatinya yaitu dengan mempelajari dan mengamalkan Al-Quran dan sunah Rasul-Nya dalam kehidupan.

Ketika ketaatan kepada Allah SWT diabaikan atau bahkan menyalahinya maka integritas sebagai seorang muslim tentu patut dipertanyakan. Muslim yang baik akan selalu menjaga integritas untuk selalu berusaha dalam ketaatan kepada Allah SWT.

IIman Islam dan Ihsan merupakan hal yang saling terkait dan tidak bisa dipisahkan dalam keseharian seorang muslim yang taat. Keteguhan iman dan ketaatan dalam ber-Islam akan memberikan kekuatan untuk istiqomah melaksanakan peraturan Islam di dalam kehidupan individu, keluarga, masyarakat maupun dalam kehidupan bernegara.  Islam telah memberikan aturan sempurna di segala aspek kehidupan sosial,  ekomoni, maupun politik. Dengan tetap berlandaskan keimanan dan Islam, akan muncul keterikatan kepada Allah SWT dalam keseharian. Tugas kita sebagai muslim adalah mempelajari islam dan berusaha senantiasa mengamalkannya.  Wallahu a’lam bishawab.

Oleh Sunardi Raharjo

*)Disampaikan pada Pengajian Kalam Göttingen 30 Maret 2014 di Kediaman Ibu Atiet.

kajian22 feb

Kepribadian Manusia dalam Al-Quran

kajian22 feb

Oleh: Reza Fathurrahman

Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat “dzikrukum” (penyebutan tentang dirimu atau sebab-sebab kemuliaan bagimu). Maka apakah kamu tiada memahaminya? (QS. Al-Anbiya : 10)

Setiap diri manusia sebagai sebuah entitas senantiasa memiliki dua sisi koin yang selalu berdampingan: Ia memiliki sejumlah KEUNIKAN (yang membuatnya berbeda dari yang lain) sekaligus KESAMAAN (yang membuatnya sama dengan satu atau beberapa manusia yang lain). Fenomena inilah yang dikenal dengan istilah “Kepribadian”. Kluckhohn & Murray (1948) merangkum gambaran kepribadian  manusia sebagai berikut: “ Each person is, in certain respects, like all other persons, like some other persons, and like no other person”.

Kutipan QS. Al – Anbiya ayat 10 di atas memberikan sebuah anjuran bagi kita untuk melakukan penelusuran ayat demi ayat Al-Quran sebagai sebuah sarana untuk mengenal lebih dekat diri kita sendiri (manusia). Gambaran yang diberikan oleh Kluckhohn & Murray akan kita gunakan sebagai alat bantu untuk menganalisa lebih lanjut gambaran kepribadian dalam Al-Quran ke dalam tiga bagian (level of analysis): “Like all others“; “Like some others“; dan “Like no others“.

Like all others    

Sebagai starting point kita akan bersama-sama mengkaji mengenai asal-usul penciptaan manusia serta peran utamanya sebagai “Khalifah di muka bumi” yang melatar belakangi proses penciptaan manusia. Dalam QS. Al- Mu’minuun 12 – 16 digambarkan bahwa siklus kehidupan manusia pada hakikatnya diawali dari saripati tanah –> dihidupkan –> dimatikan –> dibangkitkan. Manusia terlepas dari perbedaan suku/ras/agama memiliki sejumlah persamaan yang melekat padanya, antara lain: terlahir dalam keadaan fitrah dan memiliki kesempatan untuk memilih salah satu dari dua jalan (jalan kebaikan atau jalan kejahatan)

Like some others

Manusia dengan segala perangkat yang Allah karuniakan kepadanya, termasuk akal yang dimilikinya kemudian membuat beragam pilihan atas hidupnya. Lingkungan tempat ia menjalani hidup tentunya memberikan sejumlah pengaruh atas segenap pilihan yang ia ambil. Atas dasar inilah Al-Quran kemudian memberikan klasifikasi terhadap manusia sebagai konsekuensi pilihan hidupnya, antara lain: Muslimun, Munafiqun, dan Kaafirun.

Like no others           

                Seiring dengan berjalannya waktu, manusia akan tumbuh menjadi sosok yang memiliki kepribadian unik yang membedakannya dengan yang lain. Tidak terkecuali para Rasul Allah dan sahabatnya sebagaimana yang termaktub dalam berbagai cuplikan ayat yang mendeskripsikan beragam dinamika kisah hidup mereka.

Kesimpulan

Terlepas dari keragaman kepribadian yang dimiliki oleh setiap pribadi mukmin, syahadat yang kita ikrarkan telah membuat keragaman tersebut menjadi warna-warni pelangi yang indah dalam keimanan kepadaNya.  Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 138 :

“Celupan warna Allah, dan siapakah yang lebih baik celupan warnanya daripada Allah? Dan hanya kepadaNyalah kami menyembah” 

Disampaikan pada Pengajian Keluarga KALAM Göttingen, 22 Februari 2014

Auf Deutsch

Die Persönlickeiten des Menschens im Koran

Laqad ‘Anzalnā ‘Ilaykum Kitābāan FīhiDhikrukum  ۖ  ‘Afalā Ta`qilūna

Wir haben euch ein Buch hernieder gesandt, worin eure Ehre liegt; wollt ihr denn nicht begreifen? (QS. Al-Anbiya : 10)

Jeder Mensch haben bestimmt zwei Dinge, nämlich Enzigartigkeit (das macht man anders!) und Änhlickeit (das macht man gleich!) nach Kluckhohn & Murray (1948) definiert die Persönlichkeiten “Jeder Mensch ist in gewisser Hinsicht, wie alle anderen Personen, wie einige andere Personen, und wie keine andere Person”

Die oben genannte Sure sagt aus, dass wir im Koran die Suren Stueck fuer Stueck lesen muessen, um uns selbst und auch die Mitmenschen besser kennen lernen zu koennen. Die Aussagen von Kluckhohn und Murray stellen eine Art Hilfe dar, um die Persoenlichkeiten aus dem Koran besser analysieren zu koennen. Was sie mit der Aussage ‘’Jeder Mensch ist in gewisser Hinsicht, wie alle anderen Personen, wie einige andere Personen, und wie keine andere Person’’ meinen wird im Folgenden erklaert.

‘’Jeder Mensch ist wie alle anderen Personen’’

Als Startpunkt beschaeftigen wir uns mit dem Ursprung des Menschen und seiner Beschaffenheit.

(QS: 23 Al-Mominun 12-16)

Wa Laqad Khalaqnā Al-‘Insāna MinSulālatin Min Ţīnin (:12)

Thumma Ja`alnāhu Nuţfatan Fī QarārinMakīnin (:13)

Thumma Khalaqnā An-Nuţfata `Alaqatan Fakhalaqnā Al-`Alaqata Muđghatan Fakhalaqnā Al-Muđghata `Ižāmāan Fakasawnā Al-`Ižāma Laĥmāan Thumma ‘Ansha’nāhuKhalqāan ‘Ākhara  ۚ  Fatabāraka Al-Lahu ‘Aĥsanu Al-Khāliqīna (:14)

Thumma ‘Innakum Ba`da Dhālika Lamayyitūna (:15)

Thumma ‘Innakum Yawma Al-Qiyāmati Tub`athūna (:16)

[23.12] Wahrlich, Wir erschufen den Menschen aus reinstem Ton;

[23.13] Dann setzten Wir ihn als Samentropfen an eine sichere Ruhestätte;

[23.14] Dann bildeten Wir den Tropfen zu geronnenem Blut; dann bildeten Wir das geronnene Blut zu einem Fleischklumpen; dann bildeten Wir aus dem Fleischklumpen Knochen; dann bekleideten Wir die Knochen mit Fleisch; dann entwickelten Wir es zu einer anderen Schöpfung. So sei denn Allah gepriesen, der beste Schöpfer.

[23.15] Dann, nach diesem, müßt ihr sicherlich sterben.

[23.16] Dann werdet ihr am Tage der Auferstehung erweckt werden.

Wir alle befinden uns naemlich in einem Prozess, welches in der Erde gestartet hat und auch dort wieder enden wird. Denn jeder Mensch wurde laut dem Koran aus der Erde heraus erschaffen und zum Leben erweckt. In dieser Erde werden wir einen Tages unseren Tod finden und aus diesem am Tag des juegsten Gericht wieder auferweckt, um den Prozess im Jenseits zu vollenden. Die Gemeinsamkeit jedes Menschen besteht nun darin, dass wir alle suendenfrei und rein auf die Welt gekommen sind. Der Unterschied jedoch besteht darin, dass wir nicht alle als solche wieder herauskommen werden, weil sich jedes Individuum auf der Erde verschieden entwickelt.

 ‘’Jeder Mensch ist wie einige andere Personen’’

Eine weitere gemeinsame Eigenschaft, die wir alle besitzen ist, dass jeder die gleichen Gliedmassen besitzt. In welcher Art und Weise jedoch wir diese von Gott gesegneten Gliedmassen verwenden liegt allein in unserer Entscheidung. Die Umgebung, in der wir leben spielt dabei ebenfalls eine Rolle, denn sie veruebt grossen Einfluss auf jedes Individuum und kann ihn sogar in komplett flasche Richtungen lenken. Aus diesem Grund versucht man mithilfe des Koran Klarheit zu verschaffen. Man sieht ihn als einen Wegweiser fuer. Und es wird Konsequenzen fuer diejenigen geben, die diesen Wegweiser nicht befolgen wollen. Demnach kann sich jeder Mensch aussuchen, ob er als Muslimun, Munafiqun oder Kaafirun leben moechte.

 ‘’Jeder Mensch ist wie keine andere Person’’

Jedes Individuum besitzt seine Eigenschaften und Persoenlichkeiten und zeichnet sich durch seine Einzigartigkeit aus. Die Unterschiede die wir besitzen sind jedoch nicht vergleichbar mit den Unterschieden, die die Propheten besassen. Denn wir besitzen sowohl unsere guten als auch unsre schlechten Seiten. Die Propheten im Koran widerum haben nur positive Seiten. Diese unterscheiden sich jedoch sehr stark von Prophet zu Prophet, obwohl es nur wenige Aspekte gibt.

 “Zusammenfassung”

Neben den oben genannten Eigenschaften die ein Muslim besitzt, gibt es die sogenannte Syahadat, die den Glauben an Gott festigt und vergleichbar ist mit einem Regenbogen, das unser Leben schoen gestalt und uns als eine Religionsgemeinschaft verbindet. Sowie in Sura (QS:2 Al- Baqarah: 138)

Şibghata Al-Lahi Wa Man ‘Aĥsanu MinaAl-Lahi Şibghatan Wa Naĥnu Lahu `Ābidūna

[2.138] (Sprich:) آ«Allahs Religion (wollen wir annehmen); und wer ist ein besserer (Lehrer) im Glauben als Allah? Ihn allein verehren wir.آ»

 #Original  Indonesisch: Reza Fathurrahman (Materi pengajian Kalam Göttingen 22 Februari 2014)  #Translate: Adi Megandani

Menjaga Hati*

oleh: Anisa Dwi Utami

Hati dalam bahasa Arab disebut dengan al-qalb, yang berarti bolak-balik. Disebut demikian, karena hati adalah dunia abstrak (closed area), unik, dan berkembang (developmental). Hati gampang berubah, sukar dibaca, senantiasa berkembang, dan pasang-surut.

Karena memiliki sifat seperti itu, maka hati harus dijaga dengan baik. Sebab, jika tidak dijaga, hati akan berubah menjadi hati yang sakit (al-qalb al-maridh). Begitu banyak manusia yang memiliki pikiran cerdas, tetapi akhirnya menjadi orang hina hanya karena memiliki hati yang sakit.

Rasul bersabda, “Dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya; dan jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah, itulah hati.” (Al-Hadis). Begitulah, menjaga kondisi hati untuk senantiasa istiqomah berada di jalan Allah, senantiasa bersih dari segala kotoran dan lembut dari segala kekerasan (hati), tidaklah mudah. Kesibukan dan rutinitas kita yang menguras tenaga dan pikiran, serta interaksi yang terus menerus dengan masalah duniawi, jika tidak diimbangi dengan “makanan-makanan” hati, terkadang membuat hati menjadi keras, kering, lalu mati… Padahal sebagai seorang mukmin, dalam melihat berbagai macam persoalan kehidupan, haruslah dengan mata hati yang jernih.

Sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kamu sekalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amalmu yang ikhlas.” (HR. Muslim).

Menurut riwayat dari Abi Sa’id RA, terdapat empat macam hati yang disebutkan oleh baginda Rasulullah SAW. Hadits ini bisa dijumpai juga dalam sebuah buku yang berjudul Kitab al-Kabair, karangan Syeikh Imam Abi al-Hasan Muhammad bin Abdul Wahab.

Pertama, Qalbun Ajrad (hati yang murni), yaitu hati laksana lentera yang memancarkan cahaya. Hati ini membuka pintu-pintunya untuk mendengar dan menerima kebenaran (alhaq).

Itulah hati orang-orang Mukmin yang menjalankan ketaatan kepada Allah dan RasulNya secara konsisten. Jenis hati ini disebut juga sebagai Qalbun Shaleh (hati yang sehat).

Kedua, Qalbun Aghlaf, hati yang keras dan tertutup untuk menerima kebenaran dan petunjuk dari Allah. Ia disebut juga sebagai Qolbun Mayyit (hati yang mati) karena tidak mengenal dan mengakui Allah sebagai Tuhannya.

Ketika diseru pun ke jalanNya, maka seruan itu tidak berfaedah sama sekali disebabkan hatinya sudah tertutup. (QS. Al-An’am [6]:25). Tidak lain, jenis hati ini adalah hatinya orang-orang kafir.

Ketiga, Qalbun Mankus (hati yang terbalik). Yaitu hati orang-orang munafik. Hati ini sebetulnya mengetahui kebenaran Islam sebagai agama samawi, akan tetapi ia berbuat inkar. Bahkan ia memusuhi dan menghalang-halangi orang lain untuk mengikuti kebenaran tersebut.

Kempat Qalbun Mushaffah. Yaitu, hati yang di dalamnya terdapat dua unsur sekaligus, keimanan dan kemunafikan. Kedua unsur ini saling tarik-menarik sehingga terkadang hati tersebut condong dan dekat kepada keimanan dan terkadang kepada kekufuran, tergantung kepada salah satu yang mendominasinya.

Jenis hati ketiga dan kempat ini disebut Qalbun Maridh (hati yang sakit) karena terdapat penyakit atau  virus yang menyerangnya, yaitu berupa fitnah syahwat (nafsu) dan shubhat (sikap ragu) dengan motivasi syaitan yang terkutuk.

Sebagai bahan muhasabah diri, masing-masing di antara kita dapat mengetahui secara jujur dan objektif, tipe hati manakah yang sebenarnya kita miliki dari keempat macam hati di atas. Ibnul Qayyim menjelaskan, agar hati bisa tetap sehat, ia bisa dilakukan dengan tiga cara; menjaga kekuatan hati, melindungi hati dari hal-hal yang membahayakan, dan membuang zat-zat yang berbahaya bagi hati. Kekuatan hati bisa didapatkan dengan iman. Dan iman merupakan sumber kekuatan hati paling utama. Jika iman hilang, hati akan menjadi sakit.

Mudah-mudahan kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mempunyai tipe hati yang pertama, yaitu hati yang murni dan sehat. Di antara kuncinya adalah mengamalkan do’a yang diajarkan al-Quran, sebagaimana disebutkan di atas.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah rahmat dari sisiMu kepada kami, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali Imran [3]:8).

Sumber: Republika, Al Quwwah

Disampaikan pada pengajian muslimah Kalam Goettingen 19 Januari 2014

Pengajian 28 12 13

Istiqomah dalam Menjaga Ibadah

Pengajian 28 12 13Oleh: dr. Ichsan, M.Sc*

Istiqomah secara etimologi bermakna tegak lurus, namun secara terminology istiqomah dapat memiliki beberapa pengertian.  Keempat sahabat Nabi memberikan pengertian tersendiri mengenai istiqomah.  Menurut Abu Bakar As Shiddiq ra, istiqomah berarti tidak menyekutukan Allah terhadap sesuatu apapun.  Sedangkan Umar bin Khattab ra menyebutkan bahwa istiqomah adalah komitmen terhadap perintah dan larangan tanpa menipu sebagaimana tipuan musang.  Utsman bin Affan ra mendefinisikan istiqomah dengan mengikhlaskan amal kepada Allah SWT.  Dan Ali bin Abu Thalib ra berkata bahwa istiqomah adalah melaksanakan kewajiban-kewajiban.  Ditambahkan dari Ibnu Taimiah bahwa orang yang beristiqomah dalam mencintai dan beribadah kepada Allah tanpa melihat kiri kanan.  Al Hasan menyebutkan bahwa istiqomah adalah melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.

Dari berbagai pengertian tersebut dapat ditarik benang merah bahwa istiqomah adalah keteguhan hati dan laku terkait suatu perbuatan dalam kehidupan yang sesuai dengan perintah dan larangan Allah SWT.

Selama beberapa waktu terjadi bias antara pemahaman mengenai istiqomah dan istighfar yang sebenarnya telah dijawab dalam QS. Al Fushshilat: 6 yang artinya: Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan (Nya)”.  Dengan penjelasan lebih lanjut dalam hadist dari Anas bin Malik ra, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Semua anak cucu adam berbuat kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang berbuat salah, adalah mereka-mereka yang bertaubat.” (HR.Tirmidzi)

Pemahaman dan pelaksanaan istiqomah merupakan suatu hal yang urgen karena telah diperintahkan Allah dalam QS. Hud: 112 yang artinya “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”.  Dengan imbalan surga untuk orang-orang yang senantiasa beristiqomah sebagaimana yang dijanjikan Allah dalam QS Al Fushshilat: 30 dan QS Al Ahqaaf: 13 – 14.  Dan istiqomah merupakan suatu keutamaan dalam memeluk agama Islam, sebagaimana sabda Rasulullah “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqomahlah (jangan menyimpang).‘“

Dalam kajian ini dibahas mengenai upaya seorang muslim dalam beristiqomah di negeri minoritas, karena tentu ada banyak perbedaan dengan negeri mayoritas muslim, sebagaimana Indonesia.  Meskipun ada banyak kekurangan dalam kehidupan di Indonesia, namun mau tidak mau harus diakui bahwa dalam banyak hal kondisi di Indonesia lebih mendukung untuk seorang muslim menjalankan kewajiban dan mempermudah menghindar dari maksiat.  Sebagai contoh, pada saat masuk waktu sholat akan terdengar adzan berkumandang, pada saat puasa Ramadhan hampir semua orang menyambut dengan gembira (mengadakan buka bersama dan saling membantu untuk membangunkan sahur) dan sebagainya.

Kondisi tersebut tentu saja sangat jauh dari kondisi yang ada di Jerman, di mana muslim merupakan komunitas minoritas.  Ada beberapa kondisi yang membuat seorang muslim di negeri ini perlu melakukan usaha besar untuk dapat menjalankan kewajiban dari Allah dan menghindar dari perbuatan yang terlarang.  Dalam kasus sederhana, sebagai mahasiswa yang memiliki tugas untuk menuntut ilmu terbentur pada jadwal kuliah atau praktikum yang kurang bersahabat dengan jadwal sholat.  Misalkan permasalahan waktu shalat Jumat yang terbatas untuk lelaki sementara ada jadwal praktikum yang bersamaan.  Dalam hal ini tentu saja seorang muslim harus berusaha keras untuk dapat tetap melakukan kewajibannya dengan baik tanpa menyebabkan masalah yang berarti.  Begitu pula dengan perubahan musim yang sangat berpengaruh terhadap pergeseran waktu sholat dan puasa.  Jika di negara tropis perubahan waktu sholat dan panjang waktu puasa berada dalam kisaran menit, maka waktu ibadah di negeri subtropis ini sangat beragam antar musim.  Oleh karena itu, dalam menjalankan kewajiban ibadah kepada Allah, seperti sholat, puasa, tilawah Al Quran, zakat, infak dan sadaqah diperlukan kesadaran sepenuhnya untuk seorang muslim terus istiqomah.

Menjaga diri untuk tetap istiqomah menjauhi larangan Allah pun mendapatkan tantangan tersendiri.  Beberapa hal yang perlu dijaga diantaranya adalah pergaulan, makanan (hala/haram), birul walidain, internet dan hal yang melalaikan.  Misalkan untuk menjaga hubungan baik dengan rekan, teman atau profesor tanpa mengorbankan nilai-nilai Islam atau terjerumus dalam perilaku yang dilarang.  Perbedaan lingkungan dengan tata cara pergaulan yang berbeda, sedikit banyak perlu dicermati dan dipelajari agar hubungan baik tersebut tidak mengganggu kebutuhan seorang muslim untuk menjaga kuantitas dan kualitas ibadahnya.  Demikian pula pada saat seorang muslim dihadapkan pada pilihan makanan yang tidak diketahui secara pasti asal muasal dan proses pengolahannya, diperlukan keimanan untuk dapat menghindar dari makanan yang diharamkan Allah.  Ada banyak alternatif yang disediakan alam untuk dapat dikonsumsi secara normal, seperti buah, sayuran, cerealia dan berbagai ikan.  Tak lupa disinggung hubungan interaksi antara lelaki dan perempuan yang nyaris tanpa batas di negeri ini.  Untuk seorang dewasa yang telah mencapai kematangan maka menyegerakan pernikahan adalah hal yang terbaik untuk mencegah perbuatan mungkar.  Adanya berbagai fasilitas yang dapat memudahkan kehidupan manusia hendaknya tidak menyebabkan seorang muslim lalai untuk beribadah kepada Allah.

Istiqomah sebagaimana dijanjikan Allah adalah jalan menuju surga (QS Al Fushshilat: 30 – 32).  Orang yang senantiasa istiqomah dapat memperoleh pertolongan dari malaikat (ta’yiid) karena merupakan amalan yang paling dicintai Allah.  Disebutkan bahwa ibadah seperti membaca beberapa ayat Al Quran yang dilakukan secara terus menerus setiap hari lebih disukai Allah daripada membaca Al Quran sebanyak-banyaknya dalam satu waktu.  Istiqomah akan memunculkan sifat berani (syaja’ah), tenang (ithmi’nan) dan optimis (tafa’ul) dalam menghadapai kehidupan.

Ada beberapa langkah yang perlu ditempuh menuju istiqomah, yaitu 1) memurnikan aqidah, 2) banyak menghadiri majelis ilmu, 3) memperbanyak amal shalih, 4) ikhlas dalam beramal, 5) bertahap dalam beramal, 6) melatih sifat sabar dalam beribadah, menjauhi larangan Allah dan menghadapi musibah, 7) menjaga mushahabah, 8) mempelajari kisah para Nabi dan sahabat, serta 9) senantiasa berdoa agar dapat istiqomah.  Salah seorang Nabi yang tetap istiqomah dalam keadaan susah adalah Nabi Ayyub as, yang mendapat cobaan dengan diambil nikmat kekayaannya hingga menjadi orang yang miskin dan penuh dengan penyakit.  Nabi Ibrahim as adalah salah seorang nabi yang diuji dengan kehadiran anak yang telah dinanti selama bertahun-tahun.  Ada pula sahabat Nabi yang diuji dengan kekayaan, yaitu Sa’labah.

Semoga dari paparan tersebut dapat diambil hikmah untuk seorang muslim senantiasa istiqomah di jalan Allah SWT.

*)Resume Pengajian Kalam Goettingen, 28 Desember 2013

Download presentasi Istiqomah dalam Menjaga Ibadah

Pengajian 231113

Menuju Ridho Allah Dalam Menuntut Ilmu

pngajiankalam231113

BAHAN RENUNGAN

Berkembangnya pemikiran yang menjurus kepada pemahaman bahwa aturan Islam sudah tidak relevan lagi dengan kemajuan ilmu pengetahuan modern karena perkembangan sains dan teknologi yang begitu cepat menjadi sesuatu hal yang perlu diluruskan. Pemikiran tersebut akan menjadi jurang pemisah yang semakin lebar antara aturan Islam dengan sains dan teknologi modern.  Pada gilirannya, akan mengakibatkan terjadinya pengkultusan terhadap ilmu itu sendiri dengan menganggap bahwa segala permasalahan yang dihadapi di muka bumi ini hanya dapat dipecahkan dengan ilmu pengetahuan modern.

Pemikiran tersebut bukan saja lahir dari kalangan non-muslim tetapi  juga berasal dari kaum muslimin itu sendiri yang meletakkan ilmu pengetahuan modern di atas segalanya dan menganggap bahwa aturan Islam tidak mampu menjangkau ilmu pengetahuan modern tersebut. Pemahaman tersebut berakibat kepada pengikisan nilai-nilai Islam dan lambat laun akan meninggalkan aturan Islam sebagai fondasi berfikir.

Dominasi  ilmu pengetahuan modern yang digerakkan oleh peradaban Barat non-Islam menjadi faktor yang sangat besar dalam kemunduran umat Islam padahal dalam sejarah awal berkembangnya, ilmu pengetahuan ummat Islam mampu membuktikan diri sebagai penggerak terdepan dalam perkembangan berbagai ilmu pengetahuan tersebut.  Namun kemajuan ilmu pengetahuan dunia Islam hingga saat ini terus menurun drastis seiring dengan terkikisnya kandungan nilai-nilai Islam dalam ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan modern semakin meluncur tanpa melibatkan aspek wahyu.

Komitmen terhadap Islam sebagai petunjuk dalam menuntut ilmu harus ditegakkan. Hal tersebut  agar kita terhindar dari kontaminasi pemikiran yang telah berkembang dalam peradaban Barat yang memang mempunyai paradigma dan filosofi yang berbeda dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Pemikiran tersebut bertumpu kepada pemahaman bahwa manusia sebagai mahluk rasional sehingga ilmu pengetahuan dan nilai-nilai etika yang diatur oleh manusia akan selalu berubah.

Mengembalikan pemahaman ilmu pengetahuan modern sebagai ilmu yang bermuatan nilai (values-laden sccience), bukan ilmu bebas-nilai (value-free science) menjadi suatu keharusan sehingga nilai moral berfondasi ajaran Islam akan selalu melekat dalam ilmu apapun. Bila itu dilakukan Insya Allah kita akan mendapat dua nilai, nilai kesuksesan di dunia dan nilai kesuksesan di akhirat, dan ilmu yang kita pelajari akan menuju kepada Ridho Allah ‘azza wa jalla.

FONDASI PEMIKIRAN

Ilmu itu milik Allah ‘azza wa jalla. Manusia tidak memilikinya dan sifatnya  hanya mempelajari ilmu tersebut. Ide-ide yang muncul baik tertuang dalam kata maupun pemikiran datangnya dari akal, dan akal adalah pemberian dari Allah ‘azza wa jalla  yang menciptakan kita. Sikap inilah yang harus pertama kali kita benamkan dalam-dalam pada pemikiran kita agar saat kita memperoleh ide maka kita yakin bahwa ide tersebut adalah pemberian dari Allah ‘azza wa jalla sehingga kita tidak terjebak dalam kesombongan dan pengkultusan terhadap ide tersebut.

Al Qur’an adalah sumber ilmu dan di dalamnya terdapat kebenaran mutlak bukan kebenaran semu. Kebenaran mutlak hanya datanya dari sang Khaliq -pencipta kita- sedangkan kebenaran semu datang dari manusia yang terkadang bisa salah, bisa dibantah dan bisa diperbaiki. Dengan demikian kita akan meyakini bahwa penjelasan ilmu yang ada di dalam Al Qur’an merupakan sumber informasi yang benar yang terus dipelajari hingga sekarang dan sangat mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan modern. Allah ‘azza wa jalla berfirman di dalam Al Qur’an:

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (Fushilat (41): 53).

Ayat  tersebut jelas menginformasikan bahwa manusia harus belajar dari tanda-tanda kekuasaan Allah ‘azza wa jalla yang pada gilirannya akalnya tunduk kepada kebenaran tersebut.

Pentingnya Ilmu Menurut Islam. Ilmu menempati kedudukan yang sangat penting dalam ajaran islam, hal ini ditunjukkan dengan banyaknya ayat al-Qur’an yang menyatakan orang berilmu dalam posisi yang tinggi dan mulia disamping hadits-hadits nabi yang banyak memberi motivasi bagi umatnya untuk terus menuntut ilmu. Informasi tentang ilmu di dalam Al Qur’an banyak sekali, terdapat sekitar 780 kali kata ilmu disebut  di dalam Al Qur’an. Salah satu ciri yang membedakan Islam dengan yang lainnya adalah penekanannya terhadap masalah ilmu (sains), Al Qur’an dan Al–Sunah mengajak kaum muslim untuk mencari dan mendapatkan Ilmu dan kearifan, serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat tinggi (Ghulsyani 2001).

Islam telah sejak awal menekankan pentingnya membaca, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah yang pertama diturunkan yaitu surat Al-Alaq yang artinya:

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan kamu dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui”.

Motivasi untuk menuntut ilmu digambarkan Al-Qur’an pada wahyu pertama tersebut di atas. Iqro, itulah redaksi awal perintah tersebut. Kata tersebut mengandung arti luas bukan saja hanya diartikan sebagai perintah “bacalah”, tapi juga lebih diartikan sebagai perintah untuk mempelajari, meneliti, menganalisis, mendalami serta mengetahui. Pada ayat tersebut, tidak disebutkan tentang apa yang harus “dibaca” tetapi memberikan penekanan dengan nama Rabb yang menunjukkan bahwa aktivitas itu harus bernilai ibadah dan secara umum juga bermakna bagi kehidupan. Untuk itu, maka pelajarilah alam sekitar, pelajarilah kehidupan, sampai pelajarilah tentang manusia itu sendiri. Alat untuk mempelajari itupun sudah dipaparkan secara eksplisit di dalam Al-Qur’an. Potensi yang dimiliki manusia untuk memahami pengetahuan adalah akal, pendengaran, penglihatan, dan hati. Ayat  tersebut, jelas merupakan sumber motivasi bagi umat Islam untuk tidak pernah berhenti menuntut ilmu, untuk terus membaca, serta untuk menguasai teknologi. Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akhirat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”. (HR. Turmudzi)

Dari ayat dan hadits tersebut semakin jelas komitmen ajaran Islam pada ilmu, yang menunjukkan bahwa menuntut ilmu menduduki posisi fardhu (wajib) bagi umat islam. Hal tersebut menjadi semakin kuat dengan pernyataan dalam Al-Qur’an bahwa alam ditundukkan untuk dikuasai manusia sehingga posisi para penuntut ilmu yang tinggi dihadapan Allah akan tetap terjaga.

APA YANG HARUS DILAKUKAN?

Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap individu muslim dan muslimah yang tidak bisa diwakilkan kepada siapapun juga, karena ilmu yang kita peroleh akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah ‘azza wa jalla kelak. Firman Allah azza wa jalla dalam Al Qur’an:

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.(Q.S Al-Isra:36).

Untuk itu ada beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:

Memperbaiki niat. Niat pada asalnya mempunyai arti kehendak (al-qasdu). Kemudian niat pada umumnya diartikan sebagai keinginan. Niat kita dalam penuntut ilmu tentunya harus disandarkan kepada kewajiban.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan niat-niatnya dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan, maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak dia raih atau karena wanita yang hendak dia nikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrah kepadanya”. (HSR. Bukhary-Muslim dari ‘Umar bin Khoththob radhiallahu ‘anhu)

Rasulullah SAW bersabda:

“Mencari ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ahamad dan Ibnu Majah). Dampak dari niatan tersebut akan menjadikan kita sebagai  orang beriman  yang diangkat derajatnya oleh Allah ‘azza wa jalla. Firman Allah ‘azza wa jalla dalam Al Qur’an:

“Niscaya Allah akan meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (Qur’an Al mujadalah 11)

Dari penjelasan di atas akan mengarahkan kita kepada niatan menuntut ilmu karena ‘azza wa jalla  bukan karena maksud lainnya. Karena sedikit saja niatan kita melenceng maka akan sia-sialah amalan kita dalam menuntut ilmu. Firman Allah ‘azza wa jalla  dalam Al Qur’an:

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia amalannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya. (Al-Kahfi: 103-104)

Ikhlas dalam menuntut ilmu. Keikhlasan adalah kunci untuk memperoleh keridhoan Allah ‘azza wa jalla dalam menuntut  ilmu, tanpa niat ikhlas semua amalan perbuatan yang dilakukan tidak akan memperoleh nilai di hadapan Allah ‘azza wa jalla.

Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

“Barangsiapa menuntut ilmu yang biasanya ditujukan untuk mencari keridhaan, tiba-tiba ia tidak mempelajarinya, kecuali hanya untuk Mendapatkan harta benda keduniaan, maka ia tidak akan memperoleh bau harumnya surga pada hari kiamat. ” (HR Abu Dawud)

Dengan demikian sebelum kita berangkat mencari ilmu, modal utama yang harus kita miliki adalah niat kuat karena Allah ‘azza wa jalla. Niat mencari ilmu untuk meraih ridho-Nya sekaligus mengagungkan risalah-Nya. Allah ‘azza wa jalla akan menjamin kesuksesan di dunia dan akhirat bila niatan kita karena-Nya. Sebaliknya semua nilai kebaikan dalam mencari ilmu akan kosong, ketika niat kita bukan karena-Nya. Hanya kebanggaan diri, pujian manusia dan gelar-gelar duniawi saja yang akan diperoleh, sementara di hadapan Allah ‘azza wa jalla tidak mempunyai nilai sama sekali. Sangat merugilah apa yang dilakukan, waktu, tenaga, fikiran dan lain sebagainya hanya untuk memperoleh kenikmatan dunia sementara di akhirat tidak memperoleh apapun bahkan Allah ‘azza wa jalla tidak mengijinkan untuk menghirup wanginya syurga…Na’uzdu billahi min dzalik.

Bila muatan nilai keikhlasan karena ingin mencapai ridho Allah ‘azza wa jalla maka akan diperoleh ilmu yang bermanfaat sesuai sabda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Permisalan petunjuk dan ilmu yang Allah utus diriku dengan membawa keduanya sebagaimana permisalan hujan lebat yang membasahi bumi. Diantara tanah yang diguyur air hujan, ada tanah yang subur, yang menyerap air sehingga dapat menumbuhkan tetumbuhan dan rerumputan yang lebat” (HR. Bukhari)

Seperti itulah permisalan ilmu yang bermanfaat bagi seorang hamba. Ilmu tersebut akan memberikan manfaat kepada dirinya, dengan membuat hatinya semakin lembut, jiwanya semakin tunduk kepada Rabb-nya, lisan dan pandangannya semakin terjaga, serta ahlaknya semakin mulia.

Mengamalkan ilmu. Ketika seseorang mempunyai niatan yang ikhlas dalam menuntut ilmu tentunya sangat memahami bahwa ilmu yang dicari bukan hanya sebatas dimiliki saja akan tetapi mengamalkannya, karena dia yakin bahwa ilmu yang diperolehnya pasti akan ditanya oleh Allah ‘azza wa jalla. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki hamba di hari kiamat sampai ia ditanya,(salah satunya) tentang ilmunya, apa yang sudah dia amalkan?” (HR. Tirmidzi)

Semakin takut kepada Allah ‘azza wa jalla. Sebagai buah dari ilmu yang diperolehnya adalah semakin bertambah ilmu nya maka akan semakin takut kepada Allah ‘azza wa jalla. Ini adalah buah dari ilmu yang bermanfaat, ilmu yang dicari semata-mata karena mengharap Ridho-Nya. Seseorang yang telah berilmu tentang Allah, maka ia akan mengetahui keagungan dan kebesaran Rabb-nya sehingga ia akan semakin takut dan tunduk kepada-Nya serta selalu merasa diawasi oleh-Nya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Sesungguhnya yang yang takut kepada Allah diantara para hamba-Nya hanyalah orang yang berilmu” (QS. Fathir : 28)

Pada ayat di atas Allah menyebutkan bahwa orang yang takut kepada-Nya adalah orang yang berilmu. Oleh karena itu, semakin bertambah ilmu seseorang, semakin tunduk ia kepada Rabb-nya.

Marilah kita luruskan niat kita hanya karena mengharapkan balasan Allah semata, karena apa yang ada disisi Allah adalah kekal dan semua yang ada di dunia ini adalah sementara baik harta, jabatan, popularitas, pujian dan lain-lain maka semua itu pasti akan sirna. Firman Allah‘azza wa jalla :

“Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?.” (Q.S. Al-Qashas : 60).

Allah hanya memberikan sedikit saja tentang ilmu pengetahuan kepada manusia, ibarat mencelupkan ujung jari di lautan, dan setetes air itulah ilmu yang Allah berikan kepada manusia. Masihkah kita merasa sombong? Wallahu a’lam.

*) Disampaikan oleh: Dr. Yayan Apriyana di Pengajian Keluarga Kalam Goettingen, Jerman  23 November 2013

>>>Download Materi Presentasi

>>>Deutsch (German Version)

P1030436

Hakikat Hidup dan Berkehidupan

Oleh: Ditdit Nugeraha Utama

Bismillah…

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam islam secara menyeluruh. Dan janganlah mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan adalah musuhmu yang nyata” (Q.S. Al-Baqarah[2]: 208).

P1030436Syukur adalah reaksi nyata yang harus dilakukan manusia, atas bergunung kenikmatan yang datang dari ALLAH tanpa henti. Syukur adalah sikap jelas yang harus dilakukan manusia, atas berjuta limpahan barokah yang datang dari ALLAH tanpa henti. Syukur bukan hanya bergulat pada makna terima kasih yang tersampaikan oleh lisan dan teryakini oleh hati saja; namun, syukur haruslah menjadi ejawantah eksplisit melalui sikap, aksi dan prilaku real berkaidah kebenaran dari setiap individu, atas respon segala jenis curahan kasih dan sayangnya ALLAH.

Sebuah contoh yang sempit dapat kita amati; berapa banyak orang yang berkeinginan untuk melanjutkan pendidikkan ke jenjang yang lebih tinggi, berapa banyak orang yang membuncah harapnya karena berkeinginan untuk melanjutkan studi ke luar negeri; namun ketika ALLAH tidak menghendaki itu terjadi, hanya nol besar tanpa kenyataan pada akhirnya. Namun, pada sisi yang lain, ada sebagian kita telah dijadikan dan disampaikan oleh ALLAH untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi (S2 bahkan S3), diterbangkan oleh ALLAH belasan ribu kilometer menuju Jerman, diberi kesempatan olehNYA untuk dapat mengenyam pendidikan pada lingkungan pendidikan yang kondusif dan terstruktur rapi dengan berbagai macam pengalaman positifnya; lantas pertanyaan sederhana muncul, apa sikap kita atas nikmat ALLAH yang berlimpah tersebut? Apa sikap kita untuk lebih bersyukur atas karuniaNYA yang sangat agung tersebut? Kalau sikap syukur atas nikmat ALLAH tersebut hanyalah terucap lisan dan teryakini hati saja; tidaklah usah kita mengenyam pendidikan lebih tinggi. Kalau sikap syukur atas nikmat ALLAH tersebut hanya terucap lisan dan teryakini hati saja; ya tidak usah jauh-jauh kita diterbangkan oleh ALLAH ke Jerman ini. Intinya, pastilah ada tuntutan lebih dari ALLAH atas skenarioNYA menjalankan para kandidat master dan doktor ini terbang ke negara dream land Jerman ini, sejauh sebih dari enam belas ribu kilometer dari negara kita tercinta, Indonesia.

Solawat beserta salam, semoga terus tercurah pada junjungan bumi dan langit; nabi besar Muhammad SAW. Seorang manusia pilihan ALLAH. Rasul adalah manusia yang merupakan pilihan ALLAH. Manusia, karena dijadikannya sebagai tauladan bagi manusia lain. Manusia, karena agar manusia lain dapat mengikutinya dengan sangat dekat. Sehingga hanya akan ada dua konsekwensi logis bagi umat manusia lain atas pemilihan manusia (Rasul) oleh ALLAH sebagai uswah; jika kita mengaku diri ini adalah manusia, maka ikutilah Rasul (manusia juga) pada setiap tingkah dan geraknya; atau, jika kita tidak mau mengikuti manusia pilihan ALLAH tersebut (Rasul), ya jangan sekali-sekali kita mengaku-ngaku menjadi manusia.

Rasul adalah manusia pilihan yang sangat tahu percis memposisikan Al-Qur’an sebagai cahaya yang membawa alam gelap menuju terang benderang (Q.S. Al-Baqarah[2]: 1). Ibarat matahari (cahaya), matahari akan menerangi alam semesta, ketika dia berada di atas; karena ketika matahari berada di bawah (di bagian bumi lain), alam semesta gelap pada akhirnya. Rasul tahu percis hakikat ini semua, makannya Rasul meletakkan Al-Qur’an di atas segala urusan manusia; dengan sunnahnya sebagai implementasi atas segala yang tersurat dan tersirat pada Al-Qur’an. Rasul pun paham benar, bahwa cahaya (Al-Qur’an) dengan spektrumnya mampu membuat semua objek di area sinarnya menjadi nampak jelas perbedaan dan warnanya; sebuah objek menjadi nampak berwarna tertentu, karena objek tersebut hanyalah mampu memantulkan jenis warna cahaya dengan panjang gelombang yang sama dengan partikel dan molekul penyusun objek tersebut. Maka, sangat teryakinkan, bahwa Al-Qur’an sebagai pembeda (Al-Furqon) – antara yang haq dan bathil – memang telah diskenariokan dengan sangat logis dan penuh kandungan ilmu oleh penciptannya, ALLAH Azza wa Jalla.

Masuk ke dalam inti tema kali ini. Tujuan merupakan sebuah keniscayaan adalah benar adanya; namun tujuan dijadikan orientasi hidup menjadi salah adanya. Tujuan menjadi sebuah statemen yang telah digariskanNYA adalah mahfum adanya; namun tujuan dijadikan sebuah orientasi berkehidupan adalah salah kaprah. Sebuah statemen yang menyatakan bahwa ‘kesuksesan adalah hak setiap orang’ menjadi sangat tidak logis dan tidak masuk akal. Bagaimana bisa, sebuah kesuksesan sebagai hak prerogatif ALLAH diakuisisi menjadi haknya manusia? Atau sebuah statemen yang menyatakan bahwa ‘kaya adalah hak setiap orang’ menjadi lebih gila; sepertinya manusia telah bisa menentukan status kaya dan miskin dirinya sendiri. Bahwa sukses atau gagal, sehat atau sakit, kaya atau miskin adalah menjadi sebuah status dan keniscayaan adalah sangat logis; namun jika hal-hal tersebut menjadi sebuah orientasi jelas merupakan hal yang sangat tidak masuk akal. Maka, untuk urusan dimana ALLAH berperan mutlak, domain keimanan menjadi landasannya. Biarkan saja, bahwa di ranah gaib ini, keimanan menjadi basis pijakannya. Yakini saja bahwa sehat, sakit, kaya, miskin, sukses, gagal, bahkan hidup dan mati, termasuk surga dan neraka; semua adalah hak prerogatif ALLAH dan kita mengimaninya sepenuh jiwa; iman yang terucap lisan, teryakini hati dan teraplikasikan pada kesehariannya.

Lantas adakah peran manusia? Jelas ada. Secara hakikat, berkehidupannya manusia di muka bumi adalah menjalankan peran yang telah terpilihkan oleh ALLAH, tanpa kita bisa membantah atau menyangkalnya. Menjadi orang tua sekaligus menjadi anak, menjadi sahabat, menjadi istri atau suami, menjadi tetangga, menjadi pendidik, menjadi pegawai atau business man, menjadi… menjadi…; merupakan peran-peran yang telah terpilihkan ALLAH dalam satu waktu yang bersamaan yang – mau tidak mau – harus kita jalankan. Boleh saja kita bermimpi menjadi seorang Bapak, namun ketika peran itu belumlah ALLAH pilihkan buat kita, apa pun kondisinya tidak akan pernah terwujud. Bolehlah kita berkhayal menjadi seorang kaya, namun ketika ALLAH tidak memilihkan peran itu buat kita, sampai kapan pun tidak akan pernah terlaksana. Jadi esensinya, kita berkehidupan hanyalah sedang menjalankan peran yang telah terpilihkan oleh ALLAH. Inilah hakikat domain keislaman. Sebuah domain, dimana manusia diberi keleluasaan oleh ALLAH untuk menentukan dan memilih – dengan ditopang oleh akal yang telah ALLAH ilhamkan – untuk menjalankan mana yang terbaik dan terbenar. Inilah hakikat berkehidupan, inilah hakikak berislam, inilah hakikat bersyariat; hakikat dimana kita harus pandai-pandai mengejawantahkan, mengimplementasikan dan mengaplikasikan pada berkehidupan nyata setiap rukun islam yang telah tergorekan atas setiap muslim.

Alhamdulillah…

Disampaikan pada  Tausyiah Buka Bersama Pengajian KALAM – Göttingen, 3 August 2013

>>>Lihat foto Kegiatan

Download >>> file PDF  >>>File Presentasi