Category Archives: Sharing

Bunga

Ilmu, Ilmuwan dan Iman

Bunga

”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi utang atau menghilangkan kelaparan. …  Dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk (menunaikan) suatu keperluan sehingga tertunaikan (keperluan) itu maka Allah akan meneguhkan kakinya pada hari tidak bergemingnya kaki-kaki (hari perhitungan).” (HR. Thabrani)

 

Sejak diturunkannya surat Al Alaq 1-5, maka genderang cahaya ilmu mendapat pengakuan sebagai bagian dari kehidupan manusia baik untuk kepentingan dunia maupun akhirat.  Manusia mendapatkan kebebasan untuk mempelajari berbagai sendi kehidupan dunia untuk mencapai pemahaman atas keberadaan, kebesaran dan karunia Allah yang tak terbatasi oleh akal pikiran manusia.  Titik ini adalah salah satu kunci jawaban dari berbagai pertanyaan manusia yang pada masa itu terkekang oleh aturan yang telah dibangun sendiri oleh manusia dengan melakukan banyak perubahan terhadap kitab suci yang sebelumnya.  Cahaya terang Islam yang kaffah telah mampu menjawab berbagai pertanyaan, mengobati dahaga manusia atas ilmu pengetahuan, dan mendorong kemajuan peradaban Islam menjadi yang terdepan selama beberapa abad.  Bahkan cahayanya bisa dinikmati dan menerangi kegelapan di berbagai belahan dunia lain yang meskipun tidak mengikuti ajaran Islam.  Islam rahmatan lil `alamin.

Beberapa abad ini, kaum muslim nyaris tertinggal di belakang.  Umat Islam yang dulu begitu termasyhur kehebatannya dan kemajuannya dalam ilmu pengetahuannya, kini terpuruk dan melemah.  Ada apa dengan Islam dan Ilmu? Apa gunanya ilmuwan berislam saat ini? Toh, ilmu pengetahuan saat ini berkembang pesat di Barat yang notabene bukan Islam, bahkan dengan meninggalkan agamanya mereka bisa mencapai kemajuan melebihi umat Islam.  Haruskah umat islam menjadi ilmuwan dengan meninggalkan agamanya agar bisa maju seperti mereka?  Jawaban pertama secara sadar dari seorang ilmuwan Islam pasti “Tidak“.  Tapi apakah dalam keseharian mencari ilmu, menggali pengetahuan mereka masih berpegang pada Islam?

Dasar pertama dalam setiap perbuatan seorang muslim hendaklah diniatkan karena “Allah“, bersandarkan kepada “Allah“ dan kemudian bertujuan kepada “Allah“.  Penjabaran kesejatiannya bisa berawal dari pembacaan lafaz Bismillah sepenuh hati dalam setiap kegiatan mencari ilmu (termasuk memulai belajar, mengajar dan meneliti).  Lebih jauh, niat karena Allah ini bisa dirasakan bahkan dari melihat objek yang akan menjadi sumber ilmu.  Dengan menghadirkan Allah sebagai pencipta objek tersebut, segala rasa indra dalam tubuh akan meresapi detail kebesaran Allah dalam menciptakan.  Bunga bukan sekedar bunga, ikan bukan sekedar ikan, alam bukan sekedar alam, aktivitas manusia bukan sekedar manusia; melainkan puzzle ciptaan Allah yang tidak mungkin bergerak dan hidup sendiri tanpa kuasa Allah.  Setiap sel dalam tubuh dari mata, tangan, hati dan pikiran  akan tertumpu dan merasa, meraba dan meresapi ilmu yang ada, baik tampak maupun tidak.  Badan bukan sekedar badan namun menyatu dengan alam semesta menggapai kehidupan yang besar.  Saat hidup dan kehidupan diniatkan karena Allah, maka kedekatan dengan Allah akan menjadi bagian dari proses dan hasil mencari ilmu.  Allah akan membukakan pintu ilmu seluas-luasnya, menerangkan penglihatan dan memperluas jalan pemikiran tanpa batas yang diduga sebelumnya.

Kekuasaan Allah tanpa batas, namun hati, pikiran dan tubuh manusia penuh keterbatasan, lemah dan sering kali terbatasi.  Godaan dunia terpampang di depan mata, jauh lebih besar dari beban dan rintangan yang sebenarnya. Hiduppun menjadi terasa berat untuk dilalui, jalan penuh semak belukar, beban semakin besar dan tak ada pijakan yang dapat digunakan. Saat inilah, iman ilmuwan diuji dan dimanfaatkan. Iman bukan sekedar percaya dalam kata namun dengan penuh kesadaran menyandarkan kehidupan kepada “Allah“. Tak ada kepenatan, tekanan, kegelisahan, dan ketegangan dengan menyandarkan proses dan hasil kepada Allah.  Seberapa besar manusia bisa melepas materi agar berjalan sebagaimana sunatullah, disitulah kemudian dia akan menemui makna yang sesungguhnya dari ilmu.

Tugas ilmuwan adalah membaca kalam Allah dalam alam dan kehidupan.  Kadang hasil kerja keras selama sekian waktu mungkin tidak sesuai dengan hipotesis semula, karena mungkin sebenarnya kemampuan otak manusia pada saat menganalisisnya yang kurang tepat sehingga tidak sesuai dengan pengharapan.  Namun demikianlah ilmu, tak ada yang salah dengan ilmu pengetahuan yang nyata.  Jika ada kesalahan maka itu semua berasal dari kelemahan manusia.  Saatnya kelemahan manusia (ilmuwan) muncul maka kembali kepada Allah adalah sebaik-baiknya tempat kembali.  Dengan kuasa Allah menerangi hati dan pikiran, batu beban sebesar gunung adalah hal teringan untuk diangkat dan dibalik menjadi bagian dari kekuatan ilmuwan. Rintangan seluas samudra adalah bagian terindah perjalanan yang diarungi tanpa lelah, resah, gelisah, karena Allah senantiasa menyertai.  Saat manusia mendekat kepada Allah, Allah akan jauh lebih dekat dari yang dibayangkan semula.

Dalam setiap langkah, tak ada kehidupan tanpa ilmu.  Ilmu meningkatkan derajat kehidupan manusia bukan materi kehidupan karena jalan itu sekedar membangkitkan kebanggaan semu.  Ilmu menjadi sangat melenakan saat dimaknai dengan gelar, prosesi wisuda, pekerjaan dan kekayaan.  Pada tujuan akhir “Allah“ bermakna bahwa setiap proses perjalanan dan perolehan hasil akhir dari pencarian ilmu tersebut adalah rahmatan lil’alamin.  Ilmu bukanlah ilmu saat merusak keseimbangan kehidupan.  Ilmuwan yang berkutat dalam kehidupannya sendiri tanpa kontribusi pada umat dan alam secara tanpa sadar melepaskan pegangan dan sumber ilmu, Allah.  Apapun bidang ilmu yang digeluti maka hendaknya kembali memberi rahmat dan manfaat bagi kehidupan manusia dan alam.  Ilmu itu tanpa makna tanpa pengamalan yang memberikan manfaat bagi umat. Ilmu yang diamalkan akan mendatangkan ilmu lain yang belum diketahui, baik secara langsung maupun tidak langsung.  Ilmuwan tak perlu menunggu gelar tersematkan dan ijasah di tangan, dalam setiap helaan nafas, langkah, senyuman, tingkah perbuatan dan peran dalam kehidupan sosial dan sehari-hari yang bermanfaat dan membahagiakan bagi lingkungan, teman, sahabat, tetangga, saudara adalah amalan yang paling dicintai Allah.

Semoga Allah senantiasa menguatkan ilmu dan iman ilmuwan.

Wallahu a’lam bish-shawabi.

Oleh: Nur Rochmah K

 

Logis Islamis

Oleh: Ditdit Nugeraha Utama  @Göttingen, Germany

Bismillah…

“Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat?” (QS. Al-Mulk[67]: 3)

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, ‘Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis’, maka lapangkanlah, niscaya ALLAH akan memberi lapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah, niscaya ALLAH akan mengangkat (derajat) orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan ALLAH Maha teliti apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Mujadilah[58]: 11)

Makna keseimbangan yang dimaksud, adalah sebuah makna sempurna dan holistik; yang menggabungkan semua parameter untuk menggambarkan keseimbangan tersebut. Makna keseimbangan yang dimaksud, adalah suapan atas rasa lapar akal dalam menalar; sehingga terkenyangkan rasa itu pada akhirnya. Karena akal akan terus mencari jawaban logis dan terstruktur, serta akan terus menelusuri; seperti sang air yang terus mencari dataran yang lebih rendah dalam mengalirkan diri. Karena pula, rangkaian cerita yang tersuguhkan pada tatanan jagat nan sempurna ini – pun – haruslah logis, terstruktur dan ternalarkan.

Lalu, apakah tidak logis pemahaman ajaran atheis dalam menyuguhkan sebuah fakta? Atheis, sebuah ajaran yang berkembang dengan sangat signifikan di benua biru Eropa. Mereka – yang berpahamkan atheis – sangatlah logis dalam menjelaskan dan menafsirkan sesuatu; bahkan akal menjadi dewa yang berada di ujung pemahaman mereka. Itu salahnya, pemahaman atheis telah melupakan satu hal nan terpenting, bahwasanya kelogisan dan nalar manusia ada batasnya. Ya ada batasnya. Mengapa? Ya, karena seperti itulah hakikatnya. Sebuah hakikat, dimana manusia sebagai makhluk yang terciptakan haruslah memiliki batas; sehingga tidak bisa dan tidak akan pernah bisa me-replace keberadaan Khaliknya. Seperti seorang pengrajin kayu pembuat meja, yang tidak akan pernah sama dan tergantikan oleh meja itu sendiri. Karena, seperti itulah hakikat – logis – nya.

ALLAH menisbatkan bahwa nalar manusia harus ada batasnya pada sebuah ujung usaha telusurnya, sejauh apa pun ujung terlusur akal tersebut, tetaplah – pasti – ada batasnya; agar rasa ke-AKU-an yang ALLAH miliki, menjadi logis pula. Ketidaklogisan akan sesuatu, ada dikarenakan nalar dan logika manusia tak mampu lagi memetakan parameter pembentuknya; bukan dikarenakan sesuatu tersebut tidak logis atau tidak seimbang dan tak ternalar. Ketidaklogisan akan sesuatu itu ada karena ada batasan yang nyata, yang memungkinkan sesuatu tersebut memang tidak terpetakan parameternya oleh akal, minimal ketika di saat akal tersebut digunakan untuk menalarnya.

Seperti halnya seorang anak kecil yang terkagum-kagum dan tidak mampu untuk menstrukturceritakan kembali mengenai balon terbang; atau ketika seorang anak kecil tercengangkan karena melihat game di komputer yang mampu berinteraksi aktif dengannya. Parameter untuk menjelaskan balon terbang dan game komputer tersebut tidak mampu dipetakan atau distrukturceritakan kembali oleh akal si anak kecil, sehingga balon terbang dan game komputer menjadi hal yang – benar-benar sangat – tidak ternalarkan oleh si anak kecil. Berbeda sekali dengan ketika si anak kecil tersebut telah menjadi dewasa, atau – apalagi – di waktu ia telah menjadi ahli fisika atau programmer komputer yang ulung; jangankan balon terbang dan game komputer, puluhan fenomena sesawat ulang-alik luar angkasa dan kerumitan struktur robot berbasis program komputer tercanggih pun – bahkan – dapat ia buat dalam ‘sekejap mata’. Begitu juga dengan fenomena syurga, neraka, hari akhir, azab kubur; itu semua ada, terstruktur, seimbang bahkan begitu mudah dipetakan parameternya; namun bukan saatnya manusia mampu, ada waktu yang telah ditentukan agar akal dan nalar manusia terpuaskan rasa laparnya.

Maka, imanlah yang menjadi sebuah rukun yang harus menjawabnya; maka, imanlah yang mengambil peran untuk meyakinkannya, ketika nalar dan akal sudah secara maksimal tidak mampu memetakannya lagi dengan sangat logis semua parameter pembentuk sesuatu tersebut. Rukun iman itu menjadi pembeda nyata antara orang beriman dan atheis. Orang beriman, menyuapi hati dan akal dengan keimanan ketika akal sudah tidak mampu memetakannya; sedangkan orang atheis menampikan semua (bahkan menampikan sang pencipta), ketika akal tidak mampu menalarnya. Seperti halnya seorang atheis menjadikan fenomena big bang sebagai muara asal muasal semua kehidupan, dan menampikkan ALLAH di belakang layar permulaannya. Karena – memang – bagi orang atheis, tuhan adalah akal itu sendiri, akal adalah tuhan itu sendiri.

Maka dari itu, orang beriman dan berakal atau berilmu pengetahuan akan ALLAH angkat kedudukannya beberapa derajat. Ini pun menjadi sangat logis, selogis seorang ahli fisika dan programmer komputer ulung yang sudah tidak bermain di ranah nalar akan balon terbang atau game komputer lagi; namun telah beranjak untuk memahami hal-hal yang lebih besar dan lebih dekat dengan kesempurnaan pemahaman atas jagat raya beserta isinya ini; yang tentunya akan mengantarkan dia lebih dekat dan lebih memahami hakikat keberadaan ALLAH. Sehingga – poin yang harus ditekankan disini adalah – bahwa menggunakan akal secara optimal untuk memahami sesuatu menjadi sangatlah penting pada akhirnya.

Pola pikir ini pun yang harus mampu diterapkan pada pola tindak manusia. Sebuah pola tindak yang berdasarkan logika akal manusia, namun – tetap – dilandasi oleh islam sebagai pola pandang sempurna yang telah tersampaikan untuk manusia. Dimana penggunaan akal – seoptimal mungkin – merepresentasikan usaha manusia; sedangkan islam dijadikan peta dan koridor, agar akal termuarakan pada akhir alir yang benar, agar sepak terjang akal tidak liar dan dapat dikroscek oleh kebenaran hakiki yang bernama islam. Dua padanan kata ‘akal’ dan ‘islam’ yang tercermin menjadikan ‘logis islamis’ bermakna sangat ampuh, ampuh untuk menjadi dasar pola tindak manusia, ampuh menjadi cermin diri gerak gerik manusia; agar manusia menjadi manusia seutuhnya – yang berusaha untuk – sempurna di hadapan ALLAH. Karena bagaimana pun, akal adalah titipan ALLAH; begitu juga islam sebagai sebuah kesempurnaan ilmu dan dasar aturan – pun – telah tersampaikan dengan sempurna. Maka, ‘logis islamis’lah…

Alhamdulillah…

Ilustrasi love

Keutamaan Saling Mencintai karena Allah SWT

love

Ilustrasi (4hdwallpapers.com)

Cinta yang paling tinggi dan mutlak bagi seorang Muslim sejatinya adalah cinta kepada Allah SWT semata. Karena itu segala jenis cinta seorang Muslim kepada siapapun dan kepada apapun sejatinya harus dilandaskan semata-mata pada cinta kepada Allah SWT. Rasulullah SAW  bersabda, “Tali iman yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.”(HR at-Tirmidzi).

Cinta karena Allah SWT bahkan menjadi ciri kesempurnaan iman seorang Muslim, sebagaimana sabda Nabi SAW, “Siapa saja yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna imannya.” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Ada beberapa faktor yang dapat mengokohkan kecintaan kita di jalan Allah SWT kepada saudara kita sesama Muslim. Pertama: memberitahukan kepada orang yang dicintai bahwa kita mencintai dia karena Allah SWT. Diriwayatkan dari Abu Dzar ra bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW  bersabda, “Apabila ada seorang dari kalian mencintai temannya hendaklah dia mendatangi rumahnya dan mengabarinya bahwa ia mencintai dirinya karena Allah SWT.” (HR Ibnul Mubarak dalam kitabAz-Zuhd, hlm. 712)

Kedua: Saling memberi hadiah. Rasulullah SAW bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Abu Hurairah ra,“Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR al-Bukhari dan al-Baihaqi).

Ketiga: Saling mengunjungi. Rasulullah SAW juga pernah bersabda, sebagaimana pula dituturkan oleh Abu Hurairah ra, “Wahai Abu Hurairah! berkunjunglah engkau dengan baik, tidak terlalu sering dan terlalu jarang, niscaya akan bertambah sayang.” (HR ath-Thabrani dan al-Baihaqi).

Keempat: Saling mengucapkan salam. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah kalian masuk surga sehingga kalian beriman. Tidakkah kalian beriman sehingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan tentang sesuatu yang apabila kalian lakukan kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR Muslim)

Kelima: Jangan berprasangka buruk dan melakukan ghibah. Allah SWT berfirman (yang artinya): Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Jangan pula sebagian kalian menggunjingkan (ghibah) sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kalian akan merasa jijik (TQS al-Hujurat: 12).

Keenam: Memiliki empati. Rasulullah SAW bersabda, “Orang-orang Mukmin itu ibarat satu jasad; apabila satu anggota badan sakit, maka seluruh jasad turut merasakan sakit dengan demam dan tidak dapat tidur.” (HR Muslim).

Berdasarkan penjelasan Rasulullah dalam beberapa haditsnya dinyatakan bahwa buah dan hasil dari saling mencintai di jalan Allah di antaranya adalah: mendapatkan kecintaan dan mendapatkan kemuliaan dari Allah SWT; mendapatkan naungan Allah pada Hari Kiamat pada saat tidak ada naungan kecuali naungan Allah, merasakan manisnya iman, meraih kesempurnaan iman dan akan masuk surga. Rasulullah SAW, misalnya bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai.” (HR Muslim).

Rasulullah SAW  pun bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Abu Hurairah ra, “Allah berfirman pada Hari Kiamat, ‘Di manakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku pada hari ini? Aku akan menaungi mereka dalam naungan-Ku pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Ku.’” (HR Muslim).

Rasulullah SAW juga menceritakan dari Rabb-nya melalui sabdanya, “Orang-orang yang bercinta karena Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya dalam naungan ‘Arsy pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya.”

Rasulullah SAW pun menceritakan dari Rabb-nya yang berfirman, “Cinta-Ku adalah untuk orang-orang yang saling mencintai karena-Ku. Cinta-Ku adalah untuk orang-orang yang saling tolong-menolong karena-Ku. Cinta-Ku adalah untuk orang-orang yang saling berkunjung karena-Ku.” Orang-orang yang bercinta karena Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya dalam naungan ‘Arsy pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya. (HR Ahmad).

Rasulullah SAW pun bersabda, sebagaimana penuturan Muadz bin Jabal, bahwa Allah telah berfirman, “Orang-orang yang bercinta karena keagungan-Ku, mereka mendapatkan mimbar-mimbar dari cahaya sehingga para nabi dan syuhada iri kepada mereka.” (HR at-Tirmidzi).

Semoga kita bisa meraih semua keutamaan itu. Aamiin. [abi/mediaumat.com]

4543826-pc-modern-computer

Dampak Game Online

4543826-pc-modern-computer

Assalaamu’alaikum Wr Wb

Ibu Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga yang saya hormati, anak saya laki-laki akhir-akhir ini sikapnya agak berubah. Mudah sekali emosi, dan melakukan tindak kekerasan jika marah. Padahal hanya persoalan-persoalan kecil. Saya amati, sikapnya berubah setelah mulai senang bermain game online. Di luar jam sekolah, waktunya memang dihabiskan untuk itu. Apakah ada pengaruhnya ya Bu, bermaingame online pada kondisi psikologi anak, terutama perilaku kekerasan. Apa yang sebaiknya saya lakukan pada anak saya? Terima kasih untuk nasihatnya.

Wassalaamu’alaikum Wr Wb

MF

Jawa Barat

Wa’alaikumsalam Wr Wb

Ibu MF yang baik,

Seiring perkembangan teknologi, internet menjadi bagian yang tak dapat dipisahkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Selain sebagai media  informasi, internet juga bisa dijadikan sebagai media hiburan, seperti misalnya bermain game. Game online diminati  berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Meski bisa dijadikan sebagai sarana hiburan, game online juga bisa berdampak buruk pada psikologis penggunanya, terutama anak anak.

Ibu MF yang baik,

Game online memiliki sifat adiktif atau candu, sehingga waktu anak banyak dihabiskan untuk bermain.  Jika sudah demikian, maka  waktu istirahat anak menjadi berkurang dan dapat memengaruhi kegiatannya, terutama aktivitasnya di sekolah. Kecanduan game online ini memiliki dampak bagi psikologis anak. Di antaranya, dapat menghambat perkembangan sosial anak,  karena akan mengurangi aktivitas positif yang seharusnya dijalani oleh anak pada usia perkembangan mereka. Anak yang mengalami ketergantungan pada aktivitas game, akan berkurang waktu belajar dan bersosialisasi dengan teman sebayanya. Jika ini berlangsung terus menerus dalam waktu lama, anak akan menarik diri pada pergaulan sosial, tidak peka dengan lingkungan, bahkan bisa membentuk perilaku asosial.

Ibu MF yang baik,

Anak belajar dari apa yang dilihatnya. Game online yang berbau kekerasan dapat menyebabkan anak mengikuti karakter game tersebut. Selain itu, tak jarang game online mengajarkan anak untuk berkata kasar dan tidak sopan. Terkadang, karena ingin meneruskan permainan padahal tidak punya uang, anak bisa terdorong melakukan tindak kejahatan seperti mencuri. Belum lagi jika bicara nilai pelajaran di sekolah bisa menurun karena konsentrasi belajar juga turun. Game online juga dapat mengajarkan anak untuk taruhan atau berjudi meskipun dengan uang game. Dan, dapat pula menyebabkan ketegangan emosional antara orang tua dan anak, jika anak sudah kecanduan.

Ibu MF yang baik,

Melihat dampak negatif yang ditimbulkan oleh game online pada anak, tentunya diperlukan solusi untuk mengurangi bahkan menanggulangi dampak negatif tersebut. Ajaklah anak Anda bicara dari hati ke hati tanpa emosi. Tanyakan kepadanya, apa yang ia rasakan saat bermain game online. Prinsipnya, ajak ia bicara sejujurnya dan dengarkan ungkapan hatinya. Tanyakan juga kepadanya, sampai kapan ia akan terus menghabiskan waktunya untuk bermain game. Ingatkan kembali pada impian dan cita-cita yang ingin ia raih. Katakan kepadanya, bahwa jika ia membiarkan dirinya seperti ini, maka akan menjadi anak yang merugi. Waktu sesungguhnya amat berharga.

“Dua nikmat yang kebanyakan manusia lalai untuk memanfaatkannya dengan sebaik mungkin adalah kesehatan dan waktu luang”. (HR. Bukhari)

Ibu MF yang baik,

Buatlah kesepakatan bersama untuk membatasi waktu bermain game online. Dan sepakati   pula bentuk hukumannya jika ananda melanggar. Sesekali luangkan waktu Anda untuk bermain bersamanya. Ajaklah ia jalan-jalan ke tempat yang membangunkan kepeduliannya. Sering-seringlah Anda mengucapkan kata-kata positif  kepada ananda,  termasuk kalimat yang menunjukkan apresiasi jika menemukan seberapa pun perubahan positif pada perilaku ananda. Berikan alternatif kegiatan menyenangkan lainnya. Coba alihkan perhatian ananda dengan beragam kegiatan positif, sehingga hari-harinya menjadi padat. Akhirnya,  ketergantungan anak pada aktivitas game online memang memerlukan perhatian dari berbagai pihak, baik pemerintah, orang tua ataupun pengusaha yang bergerak pada layanan internet. Jangan sampai keberadaan games online membuat generasi ini tidak mempunyai kemampuan apa-apa, kecuali kemampuannya dalam bermain game. (mediaumat.com/konsultasi)

 

“DOA UNTUK NEGERI”

Puisi doa dari Adian Husaini (Cendekiawan Muslim)

Ya Allah Ya Rabbi
Aku bersimpuh berserah diri
Mohon perkenan-Mu Ya Rabbi
Trimalah curahan hati kami
Ini tentang masa depan negeri
Dan anak cucu kami

Ya Allah, Ampuni kami
Salah dan lemah kami
Tak kuasa jaga negeri
Amanah para wali
Sang Kuasa opini semau hati
Rampas pikiran anak negeri

Ya Rabbana, Rabbal-Izzati
Di sini kata taqwa pun dikorupsi
Pentas maksiat jelas sekali
Dikata mulia dilindungi alat negeri
Dan, nasehat ikhlas pewaris nabi
Dicaci maki, sirna oleh kicau selebriti

Ya Allah, Ya Rabbal ‘alamin
Pak Lubis kata, munafik ciri utama kami
Di sekolah, anak wajib menyanyi
Bangun jiwa insani, lalu jasmani
Tapi, semenit sekali, jiwa murni dicemari Emensi
Tubuh seksi lebih bernilai dari akal dan hati nurani

Ya Rabbi, Tuhan Yang Maha Suci
Kami bukan hipokrit, kami tidak munafik
Undang-undang Pendidikan Negeri ini
Wajibkan iman, taqwa, dan akhlak tinggi
Tapi, kuasa negeri restui kontes jual diri
Tiada malu lagi lecehkan firman-Mu Yang Abadi

Ya Allah, Ya Kariim
Kami pahami ayat-ayat-Mu Yang Suci
Iblis terlaknat jangan ikuti
Tapi, Kontes Maksiat kini diapresiasi
Menantang aturan-Mu dinilai prestasi
Tradisi jahili dihormat budaya tinggi

Ya Allah penguasa langit dan bumi
Utusan-Mu telah perintah kami
Bila sang mungkar nyata sekali
Haram berdiam diri
Hentikan tipu daya syaithani
Guna kuasa, kata, dan hati

Ya Rabbi, Ya Mujibas Saailin
Kami mengerti, Engkau uji kami
Dengan tipudaya musuh Nabi
Syaitan jin dan jenis insani
Tipu manusia di alam fikri
Pentas ala hayawani dipuji, bahkan disembahyangi

Ya Allah, Ya Rabbal alamiin
Saat rasio anak negeri dikebiri
Kuasa politik pupus nyali
Mucikari bodi seksi lebih dihormati
Tebar syahwat dan ilusi keji
Hanya doa senjata kami

Ya Allah, Ya Rahman Ya Rahiim
Kasihani kami dan negeri ini
Lindungi umat dan generasi nanti
Turunkan kuasa-Mu Ya Rabbi
Dulu, doa dan kepasrahan kakek Sang Nabi
Hentikan angkara Abrahah, kafir tak tahu diri

Allahumma arinal haqqa haqqan warzuqnat-tibaa’a
Wa-arinal-baathila baathilan war-zuqnaj-tinaaba
Ya Allah, tunjukkan yang benar itu benar pada kami
Mohon beri kami, kemampuan tuk mengikuti
Dan kami mohon pada-Mu, Ya Ilahi Rabbi
Tunjukkan yang bathil itu bathil
Beri kami kekuatan tuk menjauhi

Ya Allah, Ya Rabbi
Hanya doa itu mampu kami
Kami berserah diri akan nasib negeri ini
Pada kasih-Mu Yang tak Terbatasi
Ampuni kami, sayangi kami, tolonglah kami
Wan-shurnaa ‘alal-qawmil kafiiriin

Doa dan salam untuk Sang Nabi panutan kami
Juga keluarga, sahabat, dan pengikutnya yang sejati
Kami tak kan khianati amanah risalah Makhsyari
Sampaikan kebenaran Tauhidi
Tuk insan yang mau mengerti dan guna hati nurani
Hanya Padamu Ya Rabbi, kami berserah diri

Kami memohon dengan setulus hati
Kasihanilah kami,
Kabulkanlah doa kami

Amin Ya Rabbal Alamin..

Amin Ya Mujibas Saailin

(Sr/Sumber:islampos.com)

 

Maka, Luruskanlah Shaf Itu…

Oleh: Ditdit Nugeraha Utama @Göttingen, Germany

Bismillah…

Luruskanlah shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaf termasuk kesempurnaan solat (HR. Muslim)

Salah satu sifat – buruk – dari manusia yang berulang kali ALLAH surat dan siratkan di dalam AlQur’an adalah pembangkangan. Ada banyak alasan logis, yang menjadikan manusia menjadi pembangkang dan keras kepala. Kerena umur; merasa lebih berpengalaman dan – seperti sebuah kebetulan bahwa – kebenaran itu datangnya dari yang lebih muda, memungkinkan kebenaran tersebut sulit menembus otaknya. Karena level pendidikan; pengakuan kebenaran atas ucap seseorang berlevel pendidikan lebih rendah darinya, menjadi sesuatu yang teramat berat. Karena kekayaan; mahfum sekali ketika orang kaya lebih merasa benar dari pada orang yang dianggapnya lebih miskin. Karena turunan, keumuman dan budaya; kebenaran ditolak karena nenek dan moyangnya tidak melakukan, kebanyakan orang pun menyangkalnya, atau tidak sesuai dengan budaya yang sedang berkembang. Dan masih ada puluhan dan ratusan alasan klasik yang menyebabkan manusia membangkang dari kebenaran. Padahal, saking maha pengasih dan penyayangnya ALLAH, ada beribu nasihat, berpuluhribu petuah dan berjuta ilham yang tersebar setiap waktunya, hanya untuk menjadikan kita lebih baik dan benar setiap harinya.

Lebah memberi nasihat akan keikhlasan untuk memberi kebaikan setiap detiknya, memakan segala yang halal dan toyib, serta berpijak bukan menginjak; ketika lebah ALLAH ciptakan untuk mampu mengeluarkan madu berkadar obat, ketika lebah menghirup sari pati bunga nan alami, dan ketika lebah hinggap di tangkai kembang tanpa mematahkannya. Matahari memberikan tadabur sangat besar bahwa cahaya mampu membedakan segala, seperti halnya AlQur’an sebagai pembeda; ketika ALLAH menciptakannya untuk memposisikannya – sangat tinggi – di atas bumi dan menyinari alam semesta. Anak kecil memberikan ilmu kepolosan dalam kejujuran; ketika ALLAH menjadikan anak kecil berprilaku apa adanya tanpa ada topeng yang menutupi wajahnya. Dan masih ada jutaan tadabur lain yang bisa diekstrak lalu diolah akal ini, untuk menjadikan kita lebih baik dan benar setiap harinya.

Lantas, mengapa manusia tidak menjadi sang pemberi manfaat ke sebanyak-banyaknya manusia lain? Lantas, mengapa manusia tidak menjadi maksimal berusaha untuk memakan semua yang halal dan toyib? Lantas, mengapa manusia selalu menginjak dan meninggalkan jejak buruk hanya untuk melampiaskan egonya? Lantas, mengapa manusia tidak menjadikan AlQur’an ditempatkan pada posisi tertinggi atas setiap tingkah polanya, agar AlQur’an mampu menuntun kita untuk dapat membedakan warna semuanya dengan sangat jelas, dan tidak membiarkan manusia dalam kebingungan untuk memahami atas hak dan bathil? Lantas, mengapa kita masih memakai topeng muka dan diri ini, hanya ingin dipandang lebih dari manusia lain? Mengapa…? Mengapa…?

Pun sehingga, pembangkangan telah menjadi pemandangan rutin setiap harinya. Keangkuhan telah menutupi hati manusia untuk membuka seluas-luasnya cahaya kebanaran ALLAH. Keculasan telah menutupi akal manusia untuk mengolah semua input baik yang dapat membuat kita menjadi lebih bijak. Bahkan, teguran sahabatnya sendiri pun seperti menjadi tamparan yang membuncahkan amarah yang siap menerkam si pembawa risalah. Manusia, itulah manusia…

Seharusnya, sudah tidak ada waktu dan kesempatan lagi untuk memikirkan ego sendiri; karena corong senjata musuh-musuh islam telah mengarah ke muka-muka ini. Seharusnya, sudah tidak ada kesempatan lagi untuk mengagungkan diri ini; karena tatanan sistem yang kita perjuangkan, telah hampir roboh tak berbekas. Seharusnya, semangat menjadi lebih baik pada level individu, komunitas dan bangsa, harus menjadi pikiran tiap saatnya; karena dekadensi dan kehancuran sistemik telah mampu memporak-porandakan kadar iman dan islam jutaan calon penerus bangsa ini.

Lurusnya shaf menjadi jawaban pada akhirnya. Ada ikatan bersama, ada gerbong yang tidak beda, ada rel yang sejurus, ada hadapan yang searah, yang terselimuti tatanan berkehidupan pada pondasi kesempurnaan kharisma sistem islam; itu jawabannya. Ketika kita saling tahu dan paham pada dasar pemahaman yang sama benar; teguran sekeras apa pun, akan menjadi nyanyian yang sangat merdu terdengar di telinga ini. Ketika kita ada di dalam arus perjuangan kebenaran yang sama benar; teguran – sahabat – akan menjadi puisi yang sangat menyejukkan hati ini. Bahkan, tamparan – pengingat – teman-teman pada satu shaf yang sama; akan menjadi belaian lembut untuk membuat kita menjadi lebih mendekat kepada ALLAH. Karena kita percaya, kita sedang bersama, pada gerbong yang tidak beda, pada rel yang sejurus dan pada hadapan yang searah…

Telah menjadi saatnya, maka, luruskanlah shaf itu; karena shaf merupakan kesempurnaan solat kita, solat yang bukan hanya pada makna ritual saja, namun solat yang dipahami dengan sangat utuh. Telah menjadi waktunya, maka, luruskan shaf itu; karena shaf merupakan kesempurnaan solat kita, solat yang sekuat tenaga harus kita dirikan, bukan hanya sekedar rutinitas ritual saja, namun harus mempu teraplikasikan nyata di dalam berislam kita. Telah menjadi masanya, maka, luruskan shaf itu; karena shaf merupakan kesempuraan solat kita, solat yang menjadikan pelaku-pelakunya mampu dengan – sekuat tenaga – membangun tatanan dan sistem berkehidupan yang mampu mencegah perbuatan lalai, keji dan mungkar. Telah menjadi seharusnya, maka, luruskanlah shaf itu…

Alhamdulillah…

 

 

Penelitian, Bukan Sekedar Ritual

Oleh: Ditdit Nugeraha Utama, @Göttingen, Germany

Bismillah…

“Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa ALLAH menurunkan air dari langit, lalu diaturnya menjadi sumber-sumber di bumi, kemudian dengan air itu ditumbuhkanNYA tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, kemudian menjadi kering, lalu engkau melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikanNYA hancur berderai-derai. Sesungguhnya, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal” (QS. Az-Zumar [39]: 21).

“… ALLAH akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat. Dan ALLAH Maha Teliti apa yang kamu kerjakan“ (QS. Al-Mujadilah [58]: 11).

Seharusnya aktivitas penelitian adalah aktivitas yang sangat mengasyikan. Seharusnya aktivitas penelitian dikerjakan dengan buncahan semangat yang tinggi dan membumbung. Seharusnya – pula – aktivitas penelitian telah mejadi roh para akademisi dan para peneliti, bahkan roh pada setiap orang islam yang menuntut ilmu; pada setiap orang islam, karena menuntut ilmu adalah kewajiban yang harus ditunaikan selama hayat masih di kandung badan.

Penelitian merupakan aktivitas mencari kembali (makanya istilah dalam bahasa Inggris adalah re-search) segala hal yang terurai dan terderaikan; untuk dapat dirangkai kembali dalam sebuah cerita utuh nan terstruktur dan – tentunya – logis sistematis. Kelogisan penelitian, bukan hanya ditunjukkan dari hasil yang didapat saja, namun juga kelogisan yang menyelimuti cara yang digunakan, alasan yang melatarbelakangi, serta teknologi atau alat yang dimanfaatkannya; sehingga penelitian yang dilakukan menjadi lebih akurat dan presisi pada akhirnya.

Latar belakang munculnya sebuah aktivitas penelitian, bisa jadi karena adanya permasalahan yang sedang dihadapi (pull oriented) atau karena ingin menyampaikan sebuah konsep yang orang lain belum tahu (push oriented) sebelumnya. Pendekatan pull oriented, biasanya digunakan pada sebuah ranah dimana permasalahan ada dan mengikis serta mengurangi kualitas berkehidupan; sehingga kondisi ideal tidak mampu terimplementasikan secara optimal, atau kondisi ideal terganggu keberlangsungannya. Kondisi yang tidak ideal ini memungkinkan para peneliti untuk merangkai kembali sebuah metode absah yang tersusun secara logis, sebagai solusi permasalahan yang sedang dihadapi tersebut. Namun, solusi itu bukanlah sebuah penemuan baru, bukan juga sebuah ciptaan baru; solusi hanyalah sebuah rangkaian cerita logis atas ilmu dan pengetahuan yang tercerai-berai yang berhasil dicari kembali. Solusi tersebut hanyalah sebuah paparan ilmu dan pengetahuan dalam sebuah sudut pandang tertentu, yang berkesan bahwa solusi tersebut terasa baru; padahal sama sekali tidak. Si peneliti hanya mencoba untuk mencari kembali, melakukan uji coba kelogisan, lalu kemudian merangkai dan merangkum kembali aliran ceritanya dalam sebuah rangkaian cerita yang sistematis. Tidak ada ilmu dan pengetahuan baru yang didapat, yang ada hanyalah cara penyampainannya saja yang – dianggap – baru.

Contoh sederhana, apa yang baru dengan sistem ekonomi syariah? Sebuah solusi logis atas carut-marutnya kegagalan implementasi sistem ekonomi kapitalis. Sama sekali tidak ada yang baru dengan sistem ekonomi syariah, bahkan Rasulullah pun telah menerapkannya 16 abad yang lalu; hanya saja para peneliti di bidang ini mencoba kembali untuk merangkai cerita utuh yang telah terurai berai, dan kembali disampaikan dalam berbagai sudut pandang yang meyakinkan. Lalu, bagaimana dengan solusi kesehatan berupa terapi madu? Sama sekali tidak ada yang baru, bahkan cerita lebah saja ALLAH abadikan di dalam Al-Qur’an; yang ada hanyalah bahwa peneliti dan ilmuan mampu merangkai – kembali – cerita logis serta mampu meyakinkan domain ilmu kedokteran, bahwa madu sangatlah berkhasiat untuk kesehatan manusia. Dan masih ada ribuan bahkan jutaan lain temuan-temuan yang bersifat solutif yang sangat bermanfaat bagi alam dan berkehidupan. Satu hal yang pasti, para peneliti dan ilmuan tersebut bukanlah menciptakan ilmu, bukan pula menciptakan pengetahuan; mereka hanya merangkai kembali atas apa-apa yang mereka temukan (discovery).

Begitu juga dengan pendekatan kedua, push oriented. Berkesan bahwa alat atau teknologi yang dihasilkan merupakan cerminan penciptaan ilmu dan pengetahuan baru. Padahal tidak sama sekali. Ilmu dan pengetahuan tidaklah pernah terciptakan oleh manusia, dia bersifat given dan telah terjadi. Ilmu pengetahuan telah tersempurnakan adanya, telah terciptakan oleh Creator yang maha Agung, ALLAH Azza wa Jalla. Hanya saja, para peneliti dan ilmuan yang menggunakan pendekatan ini (push oriented), mencoba merancang kembali, membangun kembali, merangkai kembali; semua temuannya tersebut (discovery juga) dalam sebuah bentuk sistematis yang kita sebut alat atau teknologi; sebagai media bantu mereka, para peneliti dan ilmuan, untuk bercerita agar lebih mudah dipahami (analogi atau replika). Alat dan teknologinya mungkin saja ‘baru’, karena bentuk, fungsi dan perangkat, serta elemen-elemen penyusunnya; padahal secara filosofis, dia hanyalah analogi atau replika dari rangkaian ilmu dan pengetahuan yang telah given adanya.

Contoh, apa yang baru dengan pesawat? Sehebat apa pun alat dan teknologi yang menyusun pesawat, dia tidaklah penah me-replace ilmu pengetahuan tentang kesetimbangan dan hakikat terbang burung. Bukan Abbas ibn Firnas sebagai penemu burung, bukan juga Abbas ibn Firnas yang menciptakan burung. Pesawat hanyalah analogi atau replika untuk membuktikan bahwa ilmu ALLAH – yang berupa burung tersebut – sangatlah begitu tinggi dan tidak tertandingi.  Lalu, bagaimana dengan ilmu aljabar? Dalam hal ini, Abu Abdullah Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi hanya mencoba merangkai kembali cerita dan fenomena alam yang terurai-berai, yang coba beliau sajikan dalam bentuk teori al-jabr. Teori penyampaiannya baru, tapi tidak ada yang baru sama sekali dengan ilmu dan pengetahuannya. Lalu, bagaimana dengan penemuan teori mengenai optik. Optik tidak pernah dibuat, namun hanya ditemukan oleh seseorang benama Ibn al-Haitham; yang dengan rankaian sintesis refleksi cahayanya, menjadikannya penemuan tersebut bermanfaat besar. Kemudian, bagaimana dengan teknologi informasi? Sama saja. Dia hanyalah analogi atau replika semua hukum dan algoritma ALLAH yang telah terejawantahkan dengan sangat sistematis dan terstruktur di alam nan raya ini.

Begitulah penelitian. Sebuah keyakinan atas satu hal yang pasti, bahwa ALLAH telah menyempurnakan semua ilmu dan pengetahuanNYA. Manusia hanya mencoba untuk mencari dan merangkai – kembali – cerita atas ilmu dan pengetahuan tersebut, agar mampu teranalogikan dengan sangat logis dan tereplika dengan sangat mudah untuk dicerna oleh akal manusia. Sehingga derajat keyakinan atas hukum-hukum dan aturan-aturanNYA yang terpetakan di alam jagat raya ini bertambah mumpuni. Jadi wajarlah, ALLAH akan mengangkat beberapa derajat bagi orang-orang yang menggunakan akalnya, orang-orang yang ALLAH anggap sebagai ulil albab; yaitu orang-orang yang mampu menemukan jawaban atas sebagian kecil keabsahan struktur ilmu dan pengetahuan ALLAH yang sangat cetar membahana dan luas tersebut; yaitu orang-orang yang melakukan penelitiannya bukan hanya sekedar untuk menuntaskan aktivitas ritual saja, namun mampu merangkai secara sangat logis semua hal yang terciptakan oleh ALLAH Azza wa Jalla…

Alhamdulillah…-

—==(kalam-goettingen.de/sr)==—

rayakan kesederhanaan

Memaknai Saum dan Lebaran dengan Sangat Sederhana

rayakan kesederhanaan

Bismillah…

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa; sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. 2:183)

Ada makna yang luar biasa di balik perayaan lebaran kali ini. Perayaan tanpa makanan berlebih, tanpa kebersamaan – keluarga – yang hangat, dan tanpa macet. ALLAH menakdirkanku untuk menjalankan saum dan lebaran di Jerman. Sebuah kondisi yang tidak pernah tersiratkan sama sekali di otak tumpulku ini. Empatiku menjadi lebih berasa – atau minimal berusaha untuk semakin berasa; karena pemaknaan hari raya dan lebaran yang ku lewati hari ini, aku jalankan dengan sangat sederhana.

Ada jutaan orang yang mengalami hal yang lebih sederhana dari yang aku lewati. Bahkan, mereka menghadapi dan menjalankan lebaran tanpa makanan sama sekali, mungkin tanpa sapa dan peluk hangat sama sekali; dan hebatnya, kondisi seperti ini berjalan berkali-kali dan berlangsung setiap tahunnya. Semakin terasa hebat pula (baca: miris) ketika kita – khususnya aku – malah berbahagia dalam merayakan dan menyambut lebaran dengan bergunung kenikmatan dan kebahagiaan, di tengah-tengah berjuta orang yang entah kapan mereka akan menemukan makanan hanya untuk mampu bertahan hidup.

Satu hal lagi yang aku renungi. Mengenai ayat di atas (QS. Al-Baqarah[2]: 183). Ayat yang menjadi agung pada akhirnya; karena berjuta kali pada sela berjuta kesempatan, ayat ini terus dikumandangkan, dibacakan, disampaikan dan ditausyiahkan. Berkali dan berpuluh kali bangsa Indonesia – dan dunia pada umumnya – telah menjalankan perintah agung ‘saum‘ yang menjadi perintah untuk pembuktian kadar iman seseorang; namun, secara eksponensial pula, keberangusan dan kehancuran terjadi dimana-mana. Kebobrokkan mental, dekadensi moral, penurunan kualitas berkehidupan, dan masih banyak indikator lain yang tidak mampu aku sebutkan satu per satu untuk mensyiratkan bahwa keberangusan dan kehancuran telah terjadi dimana-mana. Memang aku tidak memiliki data eksplisit atas itu semua, namun sebuah aksi pembunuhan sadis – yang terjadi – sudah menjadi cukup bahwa ada kebobrokkan mental disana. Memang aku tidak pandai menyampaikan data statistik untuk itu semua, namun sebuah indikator pencurian uang negara besar-besaran – bahkan berjama‘ah – sudah menjadi cukup bahwa ada dekadensi moral disana. Memang aku tidak sedang memegang data nyata untuk itu semua, namun manipulasi, fitnah, dan berbagai jenis aksi – maaf – bejat lainnya sudah menjadi cukup untuk menggambarkan ada penurunan kualitas berkehidupan disana.

Lantas, apakah ada yang salah dengan ayat ini? Apakah ada kesalahan redaksi bahwa saum menjadikan pelakunya, wilayah yang dipijaknya, negara yang didiaminya; akan menjadi bertaqwa? Apakah – memang benar – ada yang salah dengan ayat ini? Sama sekali tidak! Yang salah, pastilah otak kita dalam memahaminya; pastilah nalar kita yang salah mentafsirkan; atau mungkin amal kita yang salah berpijak dan salah mengimplementasikannya. Kita lupa, bahwa kata ‘taqwa’ yang tersurat jelas di dalam ayat itu merupakan makna aktif (baca: bukan pasif); dimana kita sebagai subjeknya. Kita – orang-orang yang beriman yang menjadi fokus ALLAH untuk diperintahkan saum – adalah subjek dari kata taqwa – sebagai makna aktif – tersebut. Artinya, harus ada kesadaran, kemauan, keinginan, niat, kekuatan usaha, berkerasnya hati dan sempurnanya hasrat untuk bertaqwa; karena kata ‘taqwa’ adalah bermakna ‘aktif’ (berasal dari kata waqa-yaki-wikayah berarti memelihara, menunjukkan bermakna aktif). Kondisi taqwa bukan sim-salabim ALLAH jadikan itu, walau ALLAH memiliki kehendak mutlak akan itu; namun taqwa adalah sebuah kondisi yang memang harus diperjuangkan dan diusahakan – oleh kita yang telah menjalankan saum – semaksimal mungkin.

Nilai filosofis yang terkandung pada saum, yang menjadi salah satu rukunnya islam, dan merupakan sebuah kewajiban yang diwajibkan atas umat mukmin di tahun kedua pada fase kedua dakwah Rasul; haruslah mampu digoreskan, dipatenkan dan dipelihara dengan sangat sadar pada setiap langkah berkehidupan orang yang beriman (mukmin), agar kelasnya meningkat menjadi orang islam (muslim); orang-orang yang secara tertunduk dan patuh untuk berislam di berkehidupannya. Makna menjaga lapar, dahaga dan setiap yang membatalkan saumnya orang-orang beriman, akan – seharusnya dengan sadar – mampu ‘memelihara’ diri orang-orang islam untuk menjauhkan semua hal-hal yang haram dan ‘memelihara’ sense of kepekaan sosialnya yang sempurna. Makna menunggu dan mengatur waktu mulai dan berbuka saumnya orang-orang beriman, akan – seharusnya dengan sadar – mampu ‘memelihara’ orang-orang islam untuk tertib, teratur, on-time dan memiliki etos kerja yang sangat tinggi. Makna setiap harinya berlelah-lelah menjalankan saumnya orang-orang beriman, akan – seharusnya dengan sadar – mampu ‘memelihara’ orang-orang islam untuk menjadi pribadi-pribadi militant dan struggle di dalam melurushunuskan kebenaran. Dan, masih ada puluhan bahkan ratusan makna tersurat dan tersirat dari – rukun islam – saum yang harus – dengan sadar – kita pelihara di dalam berkehidupan kita, sehingga dengan sangat logis bahwa ‘saum’nya orang-orang beriman akan membawa makna ‘taqwa’ bagi setiap individu orang islam.

Lebaran – kembali – menjadi momentum diri untuk menjadi lebih baik. Lebaran – kembali – menjadi momentum umat untuk berniat lebih lurus. Lebaran – kembali – menjadi momentum bangsa untuk sadar lebih kuat; bahwa kita harus bertaqwa, memelihara agar bersungguh-sungguh menjalankan semua perintahNYA – tanpa terkecuali – dan menjauhkan segala laranganNYA – tanpa pilah-pilih. Berat memang, menanjak tentu; makanya memaknai islam menjadi sebuah sistem yang harus digerakan secara padu dan satu, tanpa ada pemaknaan yang sempit dan terkotak-kotak; menjadi keniscayaan yang memang harus dijalankan dengan penuh kesadaran. Karena hakekatnya, ALLAH tidaklah akan merubah kondisi itu, jika kita sendiri yang tidak sadar untuk merubahnya.

Semoga, ALLAH selalu memberi kita kesempatan, memberi kita peluang, menguatkan diri kita, menyadarkan kita, menggerakkan kita – sebagai sebuah pribadi, komunitas dan bangsa – untuk menjadi orang-orang yang bertaqwa; karena, pada hakikatnya taqwa adalah pilihan. Semoga pula, renungan atas makna ‘saum‘ dan ‘taqwa‘ ini dapat dipahami dengan sangat sederhana, sesederhana aku merayakan saum dan lebaran di benua biru ini. Atau, memang seharusnya – memaknai saum dan lebaran dengan sangat sederhana…

Alhamdulillah…

Artikel Oleh: Ditdit Nugeraha Utama (kalam/@Göttingen, Germany)

 

Graphic1

Shaum Yang Begitu Indah Bagi Kehidupan

Al-Qur’an menyatakan: “kutiba ‘alaikumushiyam” Telah diwajibkan atas kamu berpuasa. Para ahli tafsir menyatakan berdasarkan ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa berpuasa itu diwajibkan bagi setiap bagian tubuh.

Allah berfirman, “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Al-A’raf: 179.

Dengan demikian makna puasa lidah adalah menjauhi kebohongan. Berkata yang baik atau diam. “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berkata baik atau diam”. Demikian hadits Rasulullah SAW. Pilihan pertama adalah: “fal yakul khairan” “Berkata baik” semua kata yang terucap didasari niat yang baik, cara yang baik (kalimat yang baik) dan tujuannya adalah mencari kebenaran.

Al-haqqu min robbika. Kebenaran (yang haq) itu berasal dari Rabbmu. “Fala takunana minal mumtarin” Maka janganlah engkau termasuk orang-orang yang ragu.” Berapa banyak di antara kita ketika berbicara menggunakan lidah yang dikaruniakan Allah kepada kita berdasarkan “Syahwatul kalam”, nuansanya tidak lagi mencari kebenaran melainkan kemenangan pendapat.
Kita bisa melihat dalam acara debat, dalam acara kampanye, dalam urusan bisnis, dalam masalah poligami, dalam masalah kenegaraan juga dalam masalah rumah tangga.

Mari dalam masalah apapun, gunakan lidah kita dengan nuansa shaum, yaitu mengembalikan semua potensi berkata-kata untuk mengajak manusia pada al-haq. Sebagaimana para rasul diutus oleh Allah SWT. Mengajak manusia kembali ke jalan Allah.

Makna puasa telinga berarti tidak mendengarkan hal-hal yang maksiat. Bagi muslimah suara adalah aurat. Kenapa sampai seperti itu. Banyak di sekitar kita laki-laki yang memiliki penyakit hati. Janganlah karena kita tidak bisa mengatur nada suara, mengatur irama kesedihan sehingga kita curahkan dan akhirnya membuat telinga orang yang mendengarkan suara kita menjadi sumber maksiat. Lebih baik menghindari mudhorot daripada mencari manfaat.

Berhati-hatilah bahkan di tempat-tempat yang mulia, di tempat orang yang sholeh sedang berda’wah pun bila seorang muslimah tidak pandai menjaga hatinya setiap alunan da’wah yang mengandung kebenaran bisa berubah menjadi alunan setan dalam bentuk kekaguman, keterpesonaan.
Berawal pada suasana diskusi, konsultasi, terdengar oleh telinga kita bagai sesuatu yang mempesona. Mulailah bergeser fungsi telinga kita yang seharusnya mendengarkan kalimat-kalimat yang haq bergeser secara halus perlahan dan pasti memasuki hati menjadi penggoda hati.

Waspadalah dengan telinga dan berbagai berita atau ilmu atau sekalipun berada dalam nuansa kemuliaan atau di masjid atau di mimbar-mimbar da’wah, dsb. Tetap jagalah hati agar telinga selamat di akhirat.
Puasa mata berarti tidak melihat semua bentuk kemaksiatan atau dosa. “Pandangan pertama adalah rahmat, pandangan kedua laknat, dan pandangan ketiga berasal dari iblis atau setan”.

Wahai muslimah yang sholihah kita harus sadar, menjaga pandangan hanya bisa berhasil dilaksanakan oleh orang-orang yang kuat imannya. Mungkin kita sebagai muslimah yang berhijab mampu mengamalkan hal itu. Tapi dapatkah kehadiran kita yang kadang penuh pesona, bisa membuat semua laki-laki yang melintas di sekitar kita menundukkan pandangan.

Berkacalah, kenapa? Dari ujung rambut sampai ujung kaki sesungguhnya seorang muslimah sangat menarik. Dia pandai menundukkan mata, tapi dia tidak pandai menjaga tampilannya agar membuat orang lain yang bukan muhrim agar juga menundukkan pandangannya. Jaga tampilanmu di ruang-ruang terbuka. Jangan sampai busana muslimah yang kita gunakan justru membuat kita menjadi semakin menarik dan indah dipandang sehingga membuat orang lain akhirnya terperangkat pada pesona mata.

Kita bisa lihat betapa banyaknya foto-foto wanita cantik tersebar dimana-mana, sekalipun berjilbab, tapi tetap senyum cantik mempesona. Doakanlah agar setiap laki-laki yang memandang, barangkali suami kita tetap istiqomah dalam keimanannya.

Puasa diri berarti membebaskan diri dari hawa nafsu. Ingatlah sesungguhnya hawa nafsu itu selalu mengajak kepada kebinasaan. Dalam bulan Ramadhan, suami istri yang sah saja tetap dilatih mengendalikan hawa nafsunya di siang hari.

Allah mendidik kita mengendalikan diri terhadap sesuatu yang dihalalkan. Apalagi terhadap yang jelas-jelas keharamannya. Janganlah kita termasuk orang-orang yang tunduk patuh pada perintah hawa nafsu.
Jangan kita seperti orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsunya. Nafsu itu bermacam-macam. Ada nafsul muthmainnah, nafsul lawamah. Nafsul muthmainnah itulah yang harus kita ikuti, yaitu semua keinginan untuk melakukan fastabiqul khoirat (berlomba-lomba dalam kebaikan).
Puasa hati berarti membuang kecintaan terhadap benda-benda dunia. Yakinlah apapun yang kita miliki saat ini akan binasa. Tubuh kita akan kembali menjadi tanah. Benda apapun yang kita miliki tidak akan dibawa mati. Bayangkan indahnya keabadian surga.

Berpikirlah, bagaimana kita akan mendirikan bangunan di surga. Sebagaimana doa Siti Asiah, pasangan Fir’aun dalam doanya: “Ya Rabbi, dirikan untukku sebuah rumah disisimu di surga, dan lindungi aku dari kezholiman Fir’aun”. Itulah hakikat kecintaan terhadap dunia. Siti Asiah pasangan Fir’aun sadar bahwa istananya yang megah di tepi sungai nil adalah fana, yang abadi adalah surga-Nya.

Puasa pikiran berarti menjauhkan pikiran dari selain Allah. Adapun orang-orang yang beriman, mereka mengingat Allah baik dalam keadaan berdiri, duduk atau berbaring.  Allah sangat senang dengan dzikir kita. Bila dalam keadaan senang kita selalu ingat kepada Allah. Insya Allah bila kita dalam keadaan susah, dalam keadaan musibah, Allah akan ingat kita dan selalu memberi pertolongan kepada kita.

Wahai muslimah yang sholihah, jadikan shaum kita indah di mata Allah. Amin ya Robbal ‘alamin. Ratna Mulyana
[Artikel dari: www.syahidah.web.id]

jilbab (1)

Jilbab Syar’i = Jilbab Paling Modis Sepanjang Zaman

jilbab (1)

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al-Ahzab: 59)

Ketika kita berbicara tentang jilbab, maka kita berbicara tentang pakaian takwa. Pakaian yang diturunkan untuk muslimah, untuk menutup auratnya dan jelas disebutkan di Al-Qur’an. Baru-baru ini, paradigma manusia tentang jilbab semakin jauh dari kata “syar’i”, bagaimana tidak? Iklan-iklan jilbab yang “mengaku menjual jilbab syar’i” semakin membuat kening ini berkerut? Apakah memang seperti itu jilbab yang diperintahkan oleh Allah, atau kita selama ini telah tertipu? Jilbab syar’i dan modis, begitu tagline yang selama ini digembar-gemborkan oleh kalangan hijabers.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, modis adalah mengikuti mode; yang berpakaian sesuai dengan mode yang paling baru. Maka, yang perlu dipertanyakan adalah, apakah perintah menggunakan jilbab di Al-Qu’ran itu kuno sehingga perlu diperbaharui, dimodifikasi dan dikembangkan mengikuti zaman? Mari kita renungkan. Lalu, kenapa tidak kita ubah paradigma kita bahwa sesungguhnya Jilbab Syar’i itu lah jilbab yang paling modis sepanjang jaman. Sehingga kita bisa menjadi trendsetter bahwa jilbab syar’i tidak akan pernah lekang oleh waktu dan tidak akan terkikis oleh zaman.

Lalu bagaimana caranya menjadi trendsetter jilbab yang super modis tersebut? Tentunya kita harus paham terlebih dahulu bagaimana cara memakai jilbab yang sesuai dengan tuntutan Islam. Yuk kita cek dari atas sampai bawah:

#1. Menutup dan melindungi seluruh tubuh, selain yang dikecualikan, yaitu muka dan telapak tangan.

“Hai Asma’, sesungguhnya wanita, apabila telah sampai tanda kedewasaan (haidh), tidak boleh terlihat bagian tubuhnya, kecuali ini dan ini (Beliau mengisyaratkan muka dan telapak tangannya).” (H.R Abu Daud, Al-Albani menghasankannya)

#2. Hindari tabarruj

Tabarruj adalah berhias dengan memperlihatkan kecantikan dan menampakkan keindahan tubuh dan kecantikan wajah.

“…Dan janganlah kalian berhias dan bertingkahlaku seperti orang-orang jahiliah terdahulu…” (Al-Ahzab: 33)

Saudariku, tidak perlu make up yang mahal untuk cantik. Percantik diri kita dengan dandanan iman, agar kita terlihat cantik, memesonda dan mulia di hadapan-Nya. Percantiklah diri kita dengan akhlaq. Muliakan diri kita dengan tidak berlebihan dalam berhias, karena kita bukanlah pameran berjalan.

#3. Tanpa punuk unta

“Akan muncul di akhir umatku, wanita-wanita yang berpakaian namun pada hakikatnya bertelanjang. Di atas kepala mereka terdapat suatu penaka punuk unta. Mereka tidak akan memasuki surga, dan tidak juga akan mencium aroma surga. Padahal bau surga itu dapat dicium dari jarak sekian dan sekian.” (H.R Muslim)

#4. Kain kerudung menutup dada

“…janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya,..” (An-Nur 31)

#5. Kainnya harus lapang dan tidak sempit

“Akan muncul di akhir umatku, wanita-wanita yang berpakaian namun pada hakikatnya bertelanjang. Di atas kepala mereka terdapat suatu penaka punuk unta. Mereka tidak akan memasuki surga, dan tidak juga akan mencium aroma surga. Padahal bau surga itu dapat dicium dari jarak sekian dan sekian.” –H.R Muslim

Yang dijelaskan pada hadits di atas adalah tentang wanita-wanita yang mengenakan pakaian tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya. Oleh karena itu, pemakaian jilbab haruslah longgar sehingga tidak membentuk tubuh muslimah yang mengenakannya.

#6. Tidak memperlihatkan sedikit pun bagian kaki wanita

Kaki kan juga aurat, maka mari afdhal-kan pakaian taqwa kita dengan memakai kaos kaki.

#7. Tidak menyerupai pakaian laki-laki

“Rasulullah melaknat laki-laki yang memakai pakaian perempuan, dan perempuan yang memakai pakaian laki-laki.” (H.R Ahmad, Abu Daud, Al Hakim, dan Ibnu Majah)

#8. Tidak menyerupai pakaian orang-orang kafir

“..Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia adalah bagian dari mereka..” (H.R Ahmad dan Abu Daud)

Jilbab adalah salah satu bentuk betapa Islam begitu menjaga dan memuliakan wanitanya. Semua fashion lengkap diatur di dalam Al-Qur’an dan Hadits, tanpa perlu dimodifikasi lagi (dengan berusaha mengenakan jilbab syar’i, maka ridha Allah pun senantiasa menyertai, hingga kita raih kecantikan yang hakiki).

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi ‘aurat kalian dan pakaian yang indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang terbaik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (Al-A’raf: 26)

Referensi:
– Fiqh Wanita, Syaikh Kamil Muhammad Uwaidah
– Agar Bidadari Cemburu Padamu, Salim A. Fillah
artikel dari:dakwatuna.com