Ikatan Iman: Dasar Mewujudkan Amal Ihsan dalam Keseharian

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kata ihsan (al-ihsân) secara bahasa artinya kebaikan dan kemurahan hati.  Rasulullah SAW ketika ditanya Malaikat Jibril tentang makna ihsan.  Beliau memberikan pengertian ihsan: “Engkau mengabdi kepada Allah seakan-akan engkau melihat Dia.  Kalau engkau tidak dapat melihat Dia, maka sesungguhnya Dia melihat kamu” (HR. Muslim) . 

Membaca hadist di atas dapat kita ketahui bahwa amalan perbuatan seseorang yang dilandasi pada keinginan semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT dan seakan-akan melihat Allah SWT sehingga menimbulkan perasaan bahwa Allah SWT yang senantiasa mengawasi apa yang kita perbuat. Dengan demikian akan mendorong untuk  selalu taat pada Allah SWT dan dapat mendekatkan ke amalan yang bersifat ihsan.

Mewujudkan Amal ihsan

Kata ihsan mudah sekali di ucapkan dan di hafal.  Seringkali terdengar dalam obrolan  diskusi, majelis  dan keseharian kita. Tetapi dalam pengamalannya tidaklah mudah seperti ucapan.  Untuk mendapatkan perbuatan yang tergolong dalam amal ihsan diperlukan pemahaman lebih jauh.  Seorang muslim yang baik tidak akan menginginkan perbuatan yang sia-sia karena hal kecil yang terlewat.  Pemahaman yang benar tentang Iman dan Islam mutlak diperlukan  karena berfungsi sebagai landasan dalam setiap perbuatan seorang muslim dalam beramal ihsan.

Sebuah contoh: dalam mengerjakan sholat sering kali tidak bisa khusu‘, berbagai pikiran muncul pekerjaan, bermain, jalan-jalan berbelanja dan lain sebagainya. Contoh lain ketika kita ingin bersedekah, membuang duri atau pecahan botol di jalan sering kali muncul pikiran untuk menunda atau justru tidak peduli.

Aqidah Islam:

Makna aqidah menurut istilah  adalah pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan, sebelum dan sesudah kehidupan dunia, serta hubungan kehidupan dunia dengan apa yang ada sebelum dan sesudahnya tersebut. Secara bahasa berarti ikatan.

Dalam konteks Islam, aqidah Islam bisa didefinisikan dengan iman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Kiamat, Takdir (Qadha dan Qadar) dimana baik dan buruknya semata-mata dari Allah, yang diyakini oleh qalbu dan diterima oleh akal, sehingga menjadi pembenaran (keyakinan) yang bulat, sesuai dengan realitas, dan bersumber dari dalil (dikenal dengan rukun iman)

Sedangkan makna iman berarti pembenaran pasti yang sesuai dengan kenyataan dan ditunjang dengan dalil/bukti.  Pembenaran pasti artinya seratus persen kebenaran/ keyakinannya tanpa ada keraguan sedikitpun.

Sedang Islam dibangun atas lima yaitu Syahadat, Sholat, Zakat, Puasa Ramadhan dan Haji bagi yang mampu (dikenal dengan Rukun islam) sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

Berikut potongan sabda Rasulullah SAW.

“Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “

 ….“ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “…(HR. Muslim).

Aqidah tidak hanya dibangun atas dasar doktrin atau taklid semata tetapi dibarengi dengan proses berfikir  secara rasional dengan akal. Dengan demikian akan memperkuat aqidah dan keimanan karena dibangun berdasarkan rasional dan bukti yang  nyata.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” [QS.Al-Baqarah: 164]

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” [QS. Ali Imran: 190]

Landasan Beramal

Perbuatan seorang muslim seharusnya selalu berlandaskan pada aqidah islam.  Hal ini akan membuat seorang muslim senantiasa berbuat dan bertindak, berusaha untuk terikat dengan hukum syara yang baik yang diperintahkan maupun meninggalkan apa yang dilarang Allah SWT.

Perbuatan atau amalan baik hendaknya selalu dilandaskan pada aqidah atau keimanan benar. Hal ini sebagai syarat agar diterima dan mendapat balasan pahala Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam  ayat Al Quran.

“Siapa yang melakukan amal shalih, baik laki-laki atau perempuan sedang dia itu mukmin, maka Kami akan berikan kepadanya penghidupan yang baik serta Kami akan memberikan kepadanya balasan dengan balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka amalkan” [QS. An Nahl : 97].

“Dan siapa yang melakukan amal-amal shalih sedang dia itu mukmin, maka dia tidak takut dizhalimi dan tidak pula takut akan dikurangi” [QS. Thaha : 112]

Sedangkan perbuatan-perbuatan baik yang  tidak didasarkan pada keimanan yang benar tidak bernilai ibadah di sisi Allah SWT walaupun perbuatan tersebut tidak bertentangan dengan Islam.

“Dan orang-orang kafir amalan mereka itu bagaikan fatamorgana di tanah lapang, yang dikira air oleh orang yang dahaga, sehingga tatkala dia mendatanginya ternyata dia tidak mendapatkan apa-apa, justeru dia mendapatkan (ketetapan) Allah disana kemudian Dia menyempurnakan penghisaban-Nya” [QS. An Nur : 3]

Koridor Islam

Islam mengajarkan bagaimana manusia untuk mengenal dan menyembah Allah SWT dengan cara yang benar.  Islam sudah memberikan koridor dan juga petunjuk kepada manusia untuk mengikuti perintah dan menjauhi larangan Allah SWT. Islam memerintahkan manusia untuk tunduk kepada Allah SWT, berbuat baik kepada orang tua, adil, bersikap jujur, menyantuni anak yatim dan orang miskin.

Bersikap  jujur dan menepati janji secara universal adalah sebagai hal yang sangat baik.  Integritas seseorang  dapat terpancar dari kejujurandan juga dalam menepati janjinya.

Ucapan dua kalimat syahadat yaitu bersaksi tidak meyembah tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah adalah syarat untuk menjadi Muslim.  Dua ucapan tersebut adalah janji untuk taat dan patuh kepada Allah SWT. Konsekuensi berjanji adalah kewajiban untuk menepatinya yaitu dengan mempelajari dan mengamalkan Al-Quran dan sunah Rasul-Nya dalam kehidupan.

Ketika ketaatan kepada Allah SWT diabaikan atau bahkan menyalahinya maka integritas sebagai seorang muslim tentu patut dipertanyakan. Muslim yang baik akan selalu menjaga integritas untuk selalu berusaha dalam ketaatan kepada Allah SWT.

IIman Islam dan Ihsan merupakan hal yang saling terkait dan tidak bisa dipisahkan dalam keseharian seorang muslim yang taat. Keteguhan iman dan ketaatan dalam ber-Islam akan memberikan kekuatan untuk istiqomah melaksanakan peraturan Islam di dalam kehidupan individu, keluarga, masyarakat maupun dalam kehidupan bernegara.  Islam telah memberikan aturan sempurna di segala aspek kehidupan sosial,  ekomoni, maupun politik. Dengan tetap berlandaskan keimanan dan Islam, akan muncul keterikatan kepada Allah SWT dalam keseharian. Tugas kita sebagai muslim adalah mempelajari islam dan berusaha senantiasa mengamalkannya.  Wallahu a’lam bishawab.

Oleh Sunardi Raharjo

*)Disampaikan pada Pengajian Kalam Göttingen 30 Maret 2014 di Kediaman Ibu Atiet.