Istiqomah dalam Menjaga Ibadah

Pengajian 28 12 13Oleh: dr. Ichsan, M.Sc*

Istiqomah secara etimologi bermakna tegak lurus, namun secara terminology istiqomah dapat memiliki beberapa pengertian.  Keempat sahabat Nabi memberikan pengertian tersendiri mengenai istiqomah.  Menurut Abu Bakar As Shiddiq ra, istiqomah berarti tidak menyekutukan Allah terhadap sesuatu apapun.  Sedangkan Umar bin Khattab ra menyebutkan bahwa istiqomah adalah komitmen terhadap perintah dan larangan tanpa menipu sebagaimana tipuan musang.  Utsman bin Affan ra mendefinisikan istiqomah dengan mengikhlaskan amal kepada Allah SWT.  Dan Ali bin Abu Thalib ra berkata bahwa istiqomah adalah melaksanakan kewajiban-kewajiban.  Ditambahkan dari Ibnu Taimiah bahwa orang yang beristiqomah dalam mencintai dan beribadah kepada Allah tanpa melihat kiri kanan.  Al Hasan menyebutkan bahwa istiqomah adalah melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.

Dari berbagai pengertian tersebut dapat ditarik benang merah bahwa istiqomah adalah keteguhan hati dan laku terkait suatu perbuatan dalam kehidupan yang sesuai dengan perintah dan larangan Allah SWT.

Selama beberapa waktu terjadi bias antara pemahaman mengenai istiqomah dan istighfar yang sebenarnya telah dijawab dalam QS. Al Fushshilat: 6 yang artinya: Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan (Nya)”.  Dengan penjelasan lebih lanjut dalam hadist dari Anas bin Malik ra, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Semua anak cucu adam berbuat kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang berbuat salah, adalah mereka-mereka yang bertaubat.” (HR.Tirmidzi)

Pemahaman dan pelaksanaan istiqomah merupakan suatu hal yang urgen karena telah diperintahkan Allah dalam QS. Hud: 112 yang artinya “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”.  Dengan imbalan surga untuk orang-orang yang senantiasa beristiqomah sebagaimana yang dijanjikan Allah dalam QS Al Fushshilat: 30 dan QS Al Ahqaaf: 13 – 14.  Dan istiqomah merupakan suatu keutamaan dalam memeluk agama Islam, sebagaimana sabda Rasulullah “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqomahlah (jangan menyimpang).‘“

Dalam kajian ini dibahas mengenai upaya seorang muslim dalam beristiqomah di negeri minoritas, karena tentu ada banyak perbedaan dengan negeri mayoritas muslim, sebagaimana Indonesia.  Meskipun ada banyak kekurangan dalam kehidupan di Indonesia, namun mau tidak mau harus diakui bahwa dalam banyak hal kondisi di Indonesia lebih mendukung untuk seorang muslim menjalankan kewajiban dan mempermudah menghindar dari maksiat.  Sebagai contoh, pada saat masuk waktu sholat akan terdengar adzan berkumandang, pada saat puasa Ramadhan hampir semua orang menyambut dengan gembira (mengadakan buka bersama dan saling membantu untuk membangunkan sahur) dan sebagainya.

Kondisi tersebut tentu saja sangat jauh dari kondisi yang ada di Jerman, di mana muslim merupakan komunitas minoritas.  Ada beberapa kondisi yang membuat seorang muslim di negeri ini perlu melakukan usaha besar untuk dapat menjalankan kewajiban dari Allah dan menghindar dari perbuatan yang terlarang.  Dalam kasus sederhana, sebagai mahasiswa yang memiliki tugas untuk menuntut ilmu terbentur pada jadwal kuliah atau praktikum yang kurang bersahabat dengan jadwal sholat.  Misalkan permasalahan waktu shalat Jumat yang terbatas untuk lelaki sementara ada jadwal praktikum yang bersamaan.  Dalam hal ini tentu saja seorang muslim harus berusaha keras untuk dapat tetap melakukan kewajibannya dengan baik tanpa menyebabkan masalah yang berarti.  Begitu pula dengan perubahan musim yang sangat berpengaruh terhadap pergeseran waktu sholat dan puasa.  Jika di negara tropis perubahan waktu sholat dan panjang waktu puasa berada dalam kisaran menit, maka waktu ibadah di negeri subtropis ini sangat beragam antar musim.  Oleh karena itu, dalam menjalankan kewajiban ibadah kepada Allah, seperti sholat, puasa, tilawah Al Quran, zakat, infak dan sadaqah diperlukan kesadaran sepenuhnya untuk seorang muslim terus istiqomah.

Menjaga diri untuk tetap istiqomah menjauhi larangan Allah pun mendapatkan tantangan tersendiri.  Beberapa hal yang perlu dijaga diantaranya adalah pergaulan, makanan (hala/haram), birul walidain, internet dan hal yang melalaikan.  Misalkan untuk menjaga hubungan baik dengan rekan, teman atau profesor tanpa mengorbankan nilai-nilai Islam atau terjerumus dalam perilaku yang dilarang.  Perbedaan lingkungan dengan tata cara pergaulan yang berbeda, sedikit banyak perlu dicermati dan dipelajari agar hubungan baik tersebut tidak mengganggu kebutuhan seorang muslim untuk menjaga kuantitas dan kualitas ibadahnya.  Demikian pula pada saat seorang muslim dihadapkan pada pilihan makanan yang tidak diketahui secara pasti asal muasal dan proses pengolahannya, diperlukan keimanan untuk dapat menghindar dari makanan yang diharamkan Allah.  Ada banyak alternatif yang disediakan alam untuk dapat dikonsumsi secara normal, seperti buah, sayuran, cerealia dan berbagai ikan.  Tak lupa disinggung hubungan interaksi antara lelaki dan perempuan yang nyaris tanpa batas di negeri ini.  Untuk seorang dewasa yang telah mencapai kematangan maka menyegerakan pernikahan adalah hal yang terbaik untuk mencegah perbuatan mungkar.  Adanya berbagai fasilitas yang dapat memudahkan kehidupan manusia hendaknya tidak menyebabkan seorang muslim lalai untuk beribadah kepada Allah.

Istiqomah sebagaimana dijanjikan Allah adalah jalan menuju surga (QS Al Fushshilat: 30 – 32).  Orang yang senantiasa istiqomah dapat memperoleh pertolongan dari malaikat (ta’yiid) karena merupakan amalan yang paling dicintai Allah.  Disebutkan bahwa ibadah seperti membaca beberapa ayat Al Quran yang dilakukan secara terus menerus setiap hari lebih disukai Allah daripada membaca Al Quran sebanyak-banyaknya dalam satu waktu.  Istiqomah akan memunculkan sifat berani (syaja’ah), tenang (ithmi’nan) dan optimis (tafa’ul) dalam menghadapai kehidupan.

Ada beberapa langkah yang perlu ditempuh menuju istiqomah, yaitu 1) memurnikan aqidah, 2) banyak menghadiri majelis ilmu, 3) memperbanyak amal shalih, 4) ikhlas dalam beramal, 5) bertahap dalam beramal, 6) melatih sifat sabar dalam beribadah, menjauhi larangan Allah dan menghadapi musibah, 7) menjaga mushahabah, 8) mempelajari kisah para Nabi dan sahabat, serta 9) senantiasa berdoa agar dapat istiqomah.  Salah seorang Nabi yang tetap istiqomah dalam keadaan susah adalah Nabi Ayyub as, yang mendapat cobaan dengan diambil nikmat kekayaannya hingga menjadi orang yang miskin dan penuh dengan penyakit.  Nabi Ibrahim as adalah salah seorang nabi yang diuji dengan kehadiran anak yang telah dinanti selama bertahun-tahun.  Ada pula sahabat Nabi yang diuji dengan kekayaan, yaitu Sa’labah.

Semoga dari paparan tersebut dapat diambil hikmah untuk seorang muslim senantiasa istiqomah di jalan Allah SWT.

*)Resume Pengajian Kalam Goettingen, 28 Desember 2013

Download presentasi Istiqomah dalam Menjaga Ibadah