Kepribadian Manusia dalam Al-Quran

kajian22 feb

Oleh: Reza Fathurrahman

Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat “dzikrukum” (penyebutan tentang dirimu atau sebab-sebab kemuliaan bagimu). Maka apakah kamu tiada memahaminya? (QS. Al-Anbiya : 10)

Setiap diri manusia sebagai sebuah entitas senantiasa memiliki dua sisi koin yang selalu berdampingan: Ia memiliki sejumlah KEUNIKAN (yang membuatnya berbeda dari yang lain) sekaligus KESAMAAN (yang membuatnya sama dengan satu atau beberapa manusia yang lain). Fenomena inilah yang dikenal dengan istilah “Kepribadian”. Kluckhohn & Murray (1948) merangkum gambaran kepribadian  manusia sebagai berikut: “ Each person is, in certain respects, like all other persons, like some other persons, and like no other person”.

Kutipan QS. Al – Anbiya ayat 10 di atas memberikan sebuah anjuran bagi kita untuk melakukan penelusuran ayat demi ayat Al-Quran sebagai sebuah sarana untuk mengenal lebih dekat diri kita sendiri (manusia). Gambaran yang diberikan oleh Kluckhohn & Murray akan kita gunakan sebagai alat bantu untuk menganalisa lebih lanjut gambaran kepribadian dalam Al-Quran ke dalam tiga bagian (level of analysis): “Like all others“; “Like some others“; dan “Like no others“.

Like all others    

Sebagai starting point kita akan bersama-sama mengkaji mengenai asal-usul penciptaan manusia serta peran utamanya sebagai “Khalifah di muka bumi” yang melatar belakangi proses penciptaan manusia. Dalam QS. Al- Mu’minuun 12 – 16 digambarkan bahwa siklus kehidupan manusia pada hakikatnya diawali dari saripati tanah –> dihidupkan –> dimatikan –> dibangkitkan. Manusia terlepas dari perbedaan suku/ras/agama memiliki sejumlah persamaan yang melekat padanya, antara lain: terlahir dalam keadaan fitrah dan memiliki kesempatan untuk memilih salah satu dari dua jalan (jalan kebaikan atau jalan kejahatan)

Like some others

Manusia dengan segala perangkat yang Allah karuniakan kepadanya, termasuk akal yang dimilikinya kemudian membuat beragam pilihan atas hidupnya. Lingkungan tempat ia menjalani hidup tentunya memberikan sejumlah pengaruh atas segenap pilihan yang ia ambil. Atas dasar inilah Al-Quran kemudian memberikan klasifikasi terhadap manusia sebagai konsekuensi pilihan hidupnya, antara lain: Muslimun, Munafiqun, dan Kaafirun.

Like no others           

                Seiring dengan berjalannya waktu, manusia akan tumbuh menjadi sosok yang memiliki kepribadian unik yang membedakannya dengan yang lain. Tidak terkecuali para Rasul Allah dan sahabatnya sebagaimana yang termaktub dalam berbagai cuplikan ayat yang mendeskripsikan beragam dinamika kisah hidup mereka.

Kesimpulan

Terlepas dari keragaman kepribadian yang dimiliki oleh setiap pribadi mukmin, syahadat yang kita ikrarkan telah membuat keragaman tersebut menjadi warna-warni pelangi yang indah dalam keimanan kepadaNya.  Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 138 :

“Celupan warna Allah, dan siapakah yang lebih baik celupan warnanya daripada Allah? Dan hanya kepadaNyalah kami menyembah” 

Disampaikan pada Pengajian Keluarga KALAM Göttingen, 22 Februari 2014

Auf Deutsch