Tag Archives: Allah

Ilustrasi love

Keutamaan Saling Mencintai karena Allah SWT

love

Ilustrasi (4hdwallpapers.com)

Cinta yang paling tinggi dan mutlak bagi seorang Muslim sejatinya adalah cinta kepada Allah SWT semata. Karena itu segala jenis cinta seorang Muslim kepada siapapun dan kepada apapun sejatinya harus dilandaskan semata-mata pada cinta kepada Allah SWT. Rasulullah SAW  bersabda, “Tali iman yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.”(HR at-Tirmidzi).

Cinta karena Allah SWT bahkan menjadi ciri kesempurnaan iman seorang Muslim, sebagaimana sabda Nabi SAW, “Siapa saja yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna imannya.” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Ada beberapa faktor yang dapat mengokohkan kecintaan kita di jalan Allah SWT kepada saudara kita sesama Muslim. Pertama: memberitahukan kepada orang yang dicintai bahwa kita mencintai dia karena Allah SWT. Diriwayatkan dari Abu Dzar ra bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW  bersabda, “Apabila ada seorang dari kalian mencintai temannya hendaklah dia mendatangi rumahnya dan mengabarinya bahwa ia mencintai dirinya karena Allah SWT.” (HR Ibnul Mubarak dalam kitabAz-Zuhd, hlm. 712)

Kedua: Saling memberi hadiah. Rasulullah SAW bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Abu Hurairah ra,“Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR al-Bukhari dan al-Baihaqi).

Ketiga: Saling mengunjungi. Rasulullah SAW juga pernah bersabda, sebagaimana pula dituturkan oleh Abu Hurairah ra, “Wahai Abu Hurairah! berkunjunglah engkau dengan baik, tidak terlalu sering dan terlalu jarang, niscaya akan bertambah sayang.” (HR ath-Thabrani dan al-Baihaqi).

Keempat: Saling mengucapkan salam. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah kalian masuk surga sehingga kalian beriman. Tidakkah kalian beriman sehingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan tentang sesuatu yang apabila kalian lakukan kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR Muslim)

Kelima: Jangan berprasangka buruk dan melakukan ghibah. Allah SWT berfirman (yang artinya): Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Jangan pula sebagian kalian menggunjingkan (ghibah) sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kalian akan merasa jijik (TQS al-Hujurat: 12).

Keenam: Memiliki empati. Rasulullah SAW bersabda, “Orang-orang Mukmin itu ibarat satu jasad; apabila satu anggota badan sakit, maka seluruh jasad turut merasakan sakit dengan demam dan tidak dapat tidur.” (HR Muslim).

Berdasarkan penjelasan Rasulullah dalam beberapa haditsnya dinyatakan bahwa buah dan hasil dari saling mencintai di jalan Allah di antaranya adalah: mendapatkan kecintaan dan mendapatkan kemuliaan dari Allah SWT; mendapatkan naungan Allah pada Hari Kiamat pada saat tidak ada naungan kecuali naungan Allah, merasakan manisnya iman, meraih kesempurnaan iman dan akan masuk surga. Rasulullah SAW, misalnya bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai.” (HR Muslim).

Rasulullah SAW  pun bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Abu Hurairah ra, “Allah berfirman pada Hari Kiamat, ‘Di manakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku pada hari ini? Aku akan menaungi mereka dalam naungan-Ku pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Ku.’” (HR Muslim).

Rasulullah SAW juga menceritakan dari Rabb-nya melalui sabdanya, “Orang-orang yang bercinta karena Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya dalam naungan ‘Arsy pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya.”

Rasulullah SAW pun menceritakan dari Rabb-nya yang berfirman, “Cinta-Ku adalah untuk orang-orang yang saling mencintai karena-Ku. Cinta-Ku adalah untuk orang-orang yang saling tolong-menolong karena-Ku. Cinta-Ku adalah untuk orang-orang yang saling berkunjung karena-Ku.” Orang-orang yang bercinta karena Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya dalam naungan ‘Arsy pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya. (HR Ahmad).

Rasulullah SAW pun bersabda, sebagaimana penuturan Muadz bin Jabal, bahwa Allah telah berfirman, “Orang-orang yang bercinta karena keagungan-Ku, mereka mendapatkan mimbar-mimbar dari cahaya sehingga para nabi dan syuhada iri kepada mereka.” (HR at-Tirmidzi).

Semoga kita bisa meraih semua keutamaan itu. Aamiin. [abi/mediaumat.com]

Penelitian, Bukan Sekedar Ritual

Oleh: Ditdit Nugeraha Utama, @Göttingen, Germany

Bismillah…

“Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa ALLAH menurunkan air dari langit, lalu diaturnya menjadi sumber-sumber di bumi, kemudian dengan air itu ditumbuhkanNYA tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, kemudian menjadi kering, lalu engkau melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikanNYA hancur berderai-derai. Sesungguhnya, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal” (QS. Az-Zumar [39]: 21).

“… ALLAH akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat. Dan ALLAH Maha Teliti apa yang kamu kerjakan“ (QS. Al-Mujadilah [58]: 11).

Seharusnya aktivitas penelitian adalah aktivitas yang sangat mengasyikan. Seharusnya aktivitas penelitian dikerjakan dengan buncahan semangat yang tinggi dan membumbung. Seharusnya – pula – aktivitas penelitian telah mejadi roh para akademisi dan para peneliti, bahkan roh pada setiap orang islam yang menuntut ilmu; pada setiap orang islam, karena menuntut ilmu adalah kewajiban yang harus ditunaikan selama hayat masih di kandung badan.

Penelitian merupakan aktivitas mencari kembali (makanya istilah dalam bahasa Inggris adalah re-search) segala hal yang terurai dan terderaikan; untuk dapat dirangkai kembali dalam sebuah cerita utuh nan terstruktur dan – tentunya – logis sistematis. Kelogisan penelitian, bukan hanya ditunjukkan dari hasil yang didapat saja, namun juga kelogisan yang menyelimuti cara yang digunakan, alasan yang melatarbelakangi, serta teknologi atau alat yang dimanfaatkannya; sehingga penelitian yang dilakukan menjadi lebih akurat dan presisi pada akhirnya.

Latar belakang munculnya sebuah aktivitas penelitian, bisa jadi karena adanya permasalahan yang sedang dihadapi (pull oriented) atau karena ingin menyampaikan sebuah konsep yang orang lain belum tahu (push oriented) sebelumnya. Pendekatan pull oriented, biasanya digunakan pada sebuah ranah dimana permasalahan ada dan mengikis serta mengurangi kualitas berkehidupan; sehingga kondisi ideal tidak mampu terimplementasikan secara optimal, atau kondisi ideal terganggu keberlangsungannya. Kondisi yang tidak ideal ini memungkinkan para peneliti untuk merangkai kembali sebuah metode absah yang tersusun secara logis, sebagai solusi permasalahan yang sedang dihadapi tersebut. Namun, solusi itu bukanlah sebuah penemuan baru, bukan juga sebuah ciptaan baru; solusi hanyalah sebuah rangkaian cerita logis atas ilmu dan pengetahuan yang tercerai-berai yang berhasil dicari kembali. Solusi tersebut hanyalah sebuah paparan ilmu dan pengetahuan dalam sebuah sudut pandang tertentu, yang berkesan bahwa solusi tersebut terasa baru; padahal sama sekali tidak. Si peneliti hanya mencoba untuk mencari kembali, melakukan uji coba kelogisan, lalu kemudian merangkai dan merangkum kembali aliran ceritanya dalam sebuah rangkaian cerita yang sistematis. Tidak ada ilmu dan pengetahuan baru yang didapat, yang ada hanyalah cara penyampainannya saja yang – dianggap – baru.

Contoh sederhana, apa yang baru dengan sistem ekonomi syariah? Sebuah solusi logis atas carut-marutnya kegagalan implementasi sistem ekonomi kapitalis. Sama sekali tidak ada yang baru dengan sistem ekonomi syariah, bahkan Rasulullah pun telah menerapkannya 16 abad yang lalu; hanya saja para peneliti di bidang ini mencoba kembali untuk merangkai cerita utuh yang telah terurai berai, dan kembali disampaikan dalam berbagai sudut pandang yang meyakinkan. Lalu, bagaimana dengan solusi kesehatan berupa terapi madu? Sama sekali tidak ada yang baru, bahkan cerita lebah saja ALLAH abadikan di dalam Al-Qur’an; yang ada hanyalah bahwa peneliti dan ilmuan mampu merangkai – kembali – cerita logis serta mampu meyakinkan domain ilmu kedokteran, bahwa madu sangatlah berkhasiat untuk kesehatan manusia. Dan masih ada ribuan bahkan jutaan lain temuan-temuan yang bersifat solutif yang sangat bermanfaat bagi alam dan berkehidupan. Satu hal yang pasti, para peneliti dan ilmuan tersebut bukanlah menciptakan ilmu, bukan pula menciptakan pengetahuan; mereka hanya merangkai kembali atas apa-apa yang mereka temukan (discovery).

Begitu juga dengan pendekatan kedua, push oriented. Berkesan bahwa alat atau teknologi yang dihasilkan merupakan cerminan penciptaan ilmu dan pengetahuan baru. Padahal tidak sama sekali. Ilmu dan pengetahuan tidaklah pernah terciptakan oleh manusia, dia bersifat given dan telah terjadi. Ilmu pengetahuan telah tersempurnakan adanya, telah terciptakan oleh Creator yang maha Agung, ALLAH Azza wa Jalla. Hanya saja, para peneliti dan ilmuan yang menggunakan pendekatan ini (push oriented), mencoba merancang kembali, membangun kembali, merangkai kembali; semua temuannya tersebut (discovery juga) dalam sebuah bentuk sistematis yang kita sebut alat atau teknologi; sebagai media bantu mereka, para peneliti dan ilmuan, untuk bercerita agar lebih mudah dipahami (analogi atau replika). Alat dan teknologinya mungkin saja ‘baru’, karena bentuk, fungsi dan perangkat, serta elemen-elemen penyusunnya; padahal secara filosofis, dia hanyalah analogi atau replika dari rangkaian ilmu dan pengetahuan yang telah given adanya.

Contoh, apa yang baru dengan pesawat? Sehebat apa pun alat dan teknologi yang menyusun pesawat, dia tidaklah penah me-replace ilmu pengetahuan tentang kesetimbangan dan hakikat terbang burung. Bukan Abbas ibn Firnas sebagai penemu burung, bukan juga Abbas ibn Firnas yang menciptakan burung. Pesawat hanyalah analogi atau replika untuk membuktikan bahwa ilmu ALLAH – yang berupa burung tersebut – sangatlah begitu tinggi dan tidak tertandingi.  Lalu, bagaimana dengan ilmu aljabar? Dalam hal ini, Abu Abdullah Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi hanya mencoba merangkai kembali cerita dan fenomena alam yang terurai-berai, yang coba beliau sajikan dalam bentuk teori al-jabr. Teori penyampaiannya baru, tapi tidak ada yang baru sama sekali dengan ilmu dan pengetahuannya. Lalu, bagaimana dengan penemuan teori mengenai optik. Optik tidak pernah dibuat, namun hanya ditemukan oleh seseorang benama Ibn al-Haitham; yang dengan rankaian sintesis refleksi cahayanya, menjadikannya penemuan tersebut bermanfaat besar. Kemudian, bagaimana dengan teknologi informasi? Sama saja. Dia hanyalah analogi atau replika semua hukum dan algoritma ALLAH yang telah terejawantahkan dengan sangat sistematis dan terstruktur di alam nan raya ini.

Begitulah penelitian. Sebuah keyakinan atas satu hal yang pasti, bahwa ALLAH telah menyempurnakan semua ilmu dan pengetahuanNYA. Manusia hanya mencoba untuk mencari dan merangkai – kembali – cerita atas ilmu dan pengetahuan tersebut, agar mampu teranalogikan dengan sangat logis dan tereplika dengan sangat mudah untuk dicerna oleh akal manusia. Sehingga derajat keyakinan atas hukum-hukum dan aturan-aturanNYA yang terpetakan di alam jagat raya ini bertambah mumpuni. Jadi wajarlah, ALLAH akan mengangkat beberapa derajat bagi orang-orang yang menggunakan akalnya, orang-orang yang ALLAH anggap sebagai ulil albab; yaitu orang-orang yang mampu menemukan jawaban atas sebagian kecil keabsahan struktur ilmu dan pengetahuan ALLAH yang sangat cetar membahana dan luas tersebut; yaitu orang-orang yang melakukan penelitiannya bukan hanya sekedar untuk menuntaskan aktivitas ritual saja, namun mampu merangkai secara sangat logis semua hal yang terciptakan oleh ALLAH Azza wa Jalla…

Alhamdulillah…-

—==(kalam-goettingen.de/sr)==—