Tag Archives: muslimah

Menjaga Hati*

oleh: Anisa Dwi Utami

Hati dalam bahasa Arab disebut dengan al-qalb, yang berarti bolak-balik. Disebut demikian, karena hati adalah dunia abstrak (closed area), unik, dan berkembang (developmental). Hati gampang berubah, sukar dibaca, senantiasa berkembang, dan pasang-surut.

Karena memiliki sifat seperti itu, maka hati harus dijaga dengan baik. Sebab, jika tidak dijaga, hati akan berubah menjadi hati yang sakit (al-qalb al-maridh). Begitu banyak manusia yang memiliki pikiran cerdas, tetapi akhirnya menjadi orang hina hanya karena memiliki hati yang sakit.

Rasul bersabda, “Dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya; dan jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah, itulah hati.” (Al-Hadis). Begitulah, menjaga kondisi hati untuk senantiasa istiqomah berada di jalan Allah, senantiasa bersih dari segala kotoran dan lembut dari segala kekerasan (hati), tidaklah mudah. Kesibukan dan rutinitas kita yang menguras tenaga dan pikiran, serta interaksi yang terus menerus dengan masalah duniawi, jika tidak diimbangi dengan “makanan-makanan” hati, terkadang membuat hati menjadi keras, kering, lalu mati… Padahal sebagai seorang mukmin, dalam melihat berbagai macam persoalan kehidupan, haruslah dengan mata hati yang jernih.

Sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kamu sekalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amalmu yang ikhlas.” (HR. Muslim).

Menurut riwayat dari Abi Sa’id RA, terdapat empat macam hati yang disebutkan oleh baginda Rasulullah SAW. Hadits ini bisa dijumpai juga dalam sebuah buku yang berjudul Kitab al-Kabair, karangan Syeikh Imam Abi al-Hasan Muhammad bin Abdul Wahab.

Pertama, Qalbun Ajrad (hati yang murni), yaitu hati laksana lentera yang memancarkan cahaya. Hati ini membuka pintu-pintunya untuk mendengar dan menerima kebenaran (alhaq).

Itulah hati orang-orang Mukmin yang menjalankan ketaatan kepada Allah dan RasulNya secara konsisten. Jenis hati ini disebut juga sebagai Qalbun Shaleh (hati yang sehat).

Kedua, Qalbun Aghlaf, hati yang keras dan tertutup untuk menerima kebenaran dan petunjuk dari Allah. Ia disebut juga sebagai Qolbun Mayyit (hati yang mati) karena tidak mengenal dan mengakui Allah sebagai Tuhannya.

Ketika diseru pun ke jalanNya, maka seruan itu tidak berfaedah sama sekali disebabkan hatinya sudah tertutup. (QS. Al-An’am [6]:25). Tidak lain, jenis hati ini adalah hatinya orang-orang kafir.

Ketiga, Qalbun Mankus (hati yang terbalik). Yaitu hati orang-orang munafik. Hati ini sebetulnya mengetahui kebenaran Islam sebagai agama samawi, akan tetapi ia berbuat inkar. Bahkan ia memusuhi dan menghalang-halangi orang lain untuk mengikuti kebenaran tersebut.

Kempat Qalbun Mushaffah. Yaitu, hati yang di dalamnya terdapat dua unsur sekaligus, keimanan dan kemunafikan. Kedua unsur ini saling tarik-menarik sehingga terkadang hati tersebut condong dan dekat kepada keimanan dan terkadang kepada kekufuran, tergantung kepada salah satu yang mendominasinya.

Jenis hati ketiga dan kempat ini disebut Qalbun Maridh (hati yang sakit) karena terdapat penyakit atau  virus yang menyerangnya, yaitu berupa fitnah syahwat (nafsu) dan shubhat (sikap ragu) dengan motivasi syaitan yang terkutuk.

Sebagai bahan muhasabah diri, masing-masing di antara kita dapat mengetahui secara jujur dan objektif, tipe hati manakah yang sebenarnya kita miliki dari keempat macam hati di atas. Ibnul Qayyim menjelaskan, agar hati bisa tetap sehat, ia bisa dilakukan dengan tiga cara; menjaga kekuatan hati, melindungi hati dari hal-hal yang membahayakan, dan membuang zat-zat yang berbahaya bagi hati. Kekuatan hati bisa didapatkan dengan iman. Dan iman merupakan sumber kekuatan hati paling utama. Jika iman hilang, hati akan menjadi sakit.

Mudah-mudahan kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mempunyai tipe hati yang pertama, yaitu hati yang murni dan sehat. Di antara kuncinya adalah mengamalkan do’a yang diajarkan al-Quran, sebagaimana disebutkan di atas.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah rahmat dari sisiMu kepada kami, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali Imran [3]:8).

Sumber: Republika, Al Quwwah

Disampaikan pada pengajian muslimah Kalam Goettingen 19 Januari 2014

jilbab (1)

Antara Hijab dan Jilbab

Banyak Muslimah merasa sudah cukup ketika seluruh tubuhnya telah terbalut dengan pakaian dan sehelai hijab alias kerudung di bagian kepalanya. Padahal itu belum syar’i.

Muslimah seluruh dunia menggelar Hari Hijab Sedunia pada 1 Februari 2013. Hari Hijab Sedunia merupakan suatu gerakan yang digagas oleh Nazma Khan, seorang perempuan asal New York, dan dengan cepat menyebar melalui situs jejaring sosial.

Di Hari Hijab Sedunia, baik perempuan Muslim yang belum menggunakan hijab maupun perempuan non-muslim, diajak untuk menggunakan hijab dan merasakan pengalaman sebagai hijabi (sebutan bagi perempuan yang menggunakan hijab). Tujuannya adalah untuk menghapuskan diskriminasi dan penindasan terhadap orang-orang yang menggunakan hijab.

Di berbagai belahan dunia, perempuan pengguna hijab kerapkali mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan, bahkan kerapkali dikaitkan dengan terorisme. Bahkan, sang penggagas, Nazma Khan, sering diejek sebagai Batman atau Ninja hanya karena menutup kepalanya dengan hijab.

Nazma sendiri tidak menyangka bahwa upayanya ini akan mendapatkan dukungan dari seluruh dunia. Melalui jejaring sosial, informasi mengenai gerakan Hari Hijab sedunia ini tersebar ke puluhan negara, termasuk India, Pakistan Inggris, Australia, Prancis hingga Jerman.

Waspada Eksploitasi

Fenomena maraknya para hijaber, satu sisi memang menggembirakan. Karena ini menunjukkan betapa derasnya keinginan kaum Muslimah dalam menjalankan aturan Islam yaitu menutup aurat. Namun di sisi lain, ketika pemahaman kaum Muslimah terkait hukum Islam ini tidak menyeluruh, yang terjadi justru mereka belum melaksanakan aturan menutup aurat ini dengan sempurna. Parahnya lagi, tren kesadaran menutup aurat ini ditangkap oleh para kapitalis sebagai pasar yang menggiurkan. Lalu terciptalah hijab-hijab fashionable yang seringkali tidak syar’i. Bahkan akhirnya banyak pula para hijaber yang terjerat dalam eksploitasi kecantikan.

Eksploitasi? Ya, karena yang terjadi mereka akhirnya berlomba-lomba menjadi hijaber yang modis dan trendi, mengikuti tren baju Muslimah teranyar, dengan model-model busana Muslimah yang paling up to date.Khususnya di Indonesia, kini sedang dijadikan kiblat mode busana Muslimah sedunia. Maka makin menjamurlah rumah-rumah hijab, house of jilbab, butik jilbab cantik, dll.

Pakaian Muslimah yang Syar’i

Banyak Muslimah merasa sudah cukup ketika seluruh tubuhnya telah terbalut dengan pakaian dan sehelai hijab alias kerudung di bagian kepalanya. Mereka merasa seperti itulah wanita berjilbab, tanpa memperhatikan aturan Islam yang sesungguhnya mengenai syarat pakaian seorang wanita ketika ia keluar rumahnya.

Padahal jika seorang wanita telah mengenakan pakaian yang menutupi seluruh auratnya, belum berarti dia telah berjilbab sehingga dibolehkan mengenakan pakaian itu dalam kehidupan umum, seperti di jalanan umum, atau di sekolah, pasar, kampus, kantor, dan sebagainya. Mengapa? Sebab untuk kehidupan umum terdapat pakaian tertentu yang telah ditetapkan oleh syara’. Jadi dalam kehidupan umum tidaklah cukup hanya dengan menutupi aurat, seperti celana panjang, atau baju potongan, yang sebenarnya tidak boleh dikenakan di jalanan umum meskipun dengan mengenakan itu ia sudah menutup aurat.

Seorang wanita yang mengenakan celana panjang atau baju potongan memang telah menutupi aurat. Namun tidak berarti kemudian pakaian itu boleh dipakai di hadapan laki-laki yang bukan mahram, karena dengan pakaian itu ia telah menampakkan keindahan tubuhnya (tabarruj). Tabarruj adalah menampakkan perhiasan dan keindahan tubuh kepada laki-laki asing/non-mahram (izh-haruz ziinah wal mahasin lil ajaanib) (An-Nabhani, 1990 : 104). Oleh karena itu walaupun ia telah menutupi auratnya, akan tetapi ia telah bertabarruj, sedangkan tabarruj itu dilarang oleh syara’.

Pakaian wanita dalam kehidupan umum yang sesuai hukum syara ada dua bagian, yaitu baju bawah (libas asfal) yang disebut dengan jilbab, dan baju atas (libas a’la) yaitu khimar (kerudung). Hal ini telah dinyatakan oleh ayat-ayat Alquran yang sifatnya qath’i (pasti).  Allah SWT berfirman: “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang Mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (TQS. Al Ahzab : 59)

Allah SWT juga berfirman : “….dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung (khimar) mereka hingga (menutupi) dada mereka…” (QS. An-Nuur : 31).

Dalam kitab Al Mu’jam Al Wasith karya Dr Ibrahim Anis (Kairo : Darul Maarif) halaman 128, jilbab diartikan sebagai “Ats tsaubul musytamil ‘alal jasadi kullihi” (pakaian yang menutupi seluruh tubuh), atau “Ma yulbasu fauqa ats tsiyab kal milhafah” (pakaian luar yang dikenakan di atas pakaian rumah, seperti milhafah (baju terusan), atau “Al Mula`ah tasytamilu biha al mar’ah” (pakaian luar yang digunakan untuk menutupi seluruh tubuh wanita).

Jadi, yang diwajibkan atas wanita adalah mengenakan jilbab, yakni kain terusan (dari atas sampai bawah) (Arab: milhafah/mula`ah) yang dikenakan sebagai pakaian luar (di bawahnya masih ada pakaian rumah, seperti daster, tidak langsung pakaian dalam) lalu diulurkan ke bawah hingga menutupi kedua kakinya. Untuk baju atas, disyariatkan khimar, yaitu kerudung atau apa saja yang serupa dengannya yang berfungsi menutupi seluruh kepala, leher, dan lubang baju di dada. Pakaian sejenis inilah harus dikenakan jika hendak keluar menuju pasar-pasar atau berjalan melalui jalanan umum (An-Nabhani, 1990 : 48).

Stop Mengekor Mode

Maka fashion baju Muslimah dan hijaber yang saat ini berkembang sangat jauh dari aturan Islam.  Ini terjadi karena jauhnya Islam dari kehidupan kaum Muslimin, sampai-sampai makna jilbab pun menjadi kabur di tengah masyarakat. Maka sudah sepatutnya, bagi seorang Muslimah ketika dia memutuskan untuk taat kepada Allah dengan menutup auratnya secara sempurna, otomatis akan memutuskan diri dari mengekor fashion yang mementingkan mode.  Dia akan melepaskan diri dari eksploitasi kapitalisme yang memandang bahwa tubuh perempuan adalah komoditas sekali pun telah tertutup auratnya. Jadilah para jilbaber syar’i yang diridlai Allah SWT. (yus)

(kalamgoettingen/dari:mediaumat.com)

Kalam Muslimah 16-06-2013

Menyambut Puasa di Musim Panas: Hal-hal yang perlu dipersiapkan

Kalam Muslimah 16-06-2013Dalam satu siang yang indah diakhir minggu, warga muslimah Goettingen berkumpul bersama untuk bersilaturahmi sekaligus berbagi cerita mengenai persiapan puasa pada tahun ini yang jatuh pada musim panas.  Puasa di musim panas merupakan tantangan tersendiri bagi setiap muslim yang tengah berada di negeri empat musim ini.  Salah satunya adalah karena panjang siang hari yang lebih panjang sehingga mengakibatkan masa shaum bisa mencapai 18-19 jam, dimulai dari sekitar pukul 02.40 dini hari hingga pukul 21. 50.

Salah seorang sesepuh, Wak Tiny, menjelaskan bahwa musim panas yang panjang seperti tahun ini pernah terjadi pada tahun 1984.  Puasa dalam waktu yang panjang memang cukup berat, terutama karena dehidrasi akibat cuaca yang cukup panas dan waktu yang panjang.  Hal yang nyaris tak tertahankan adalah rasa haus yang luar biasa.  Secara umum, pada kisaran hingga pukul enam sore, badan akan cukup bisa menetralisir keadaaan namun lebih dari itu mungkin badan akan terasa sangat lemas.  Oleh karena itu seseorang harus pandai-pandai mengatur kegiatan agar tidak memforsir tenaga berlebih.

Keringanan atau rukshoh untuk ibu hamil atau menyusui perlu dilihat secara mendetail.  Menurut Teh Rosa, sejumlah sumber menyebutkan rukshoh untuk tidak berpuasa itu tergantung pada uzur (alasan) syar’i.  Jika kondisi puasa pada saat hamil dikhawatirkan akan menyebabkan sakit atau membahayakan, maka diijinkan untuk tidak berpuasa.  Begitu pula jika pada saat ibu berpuasa dan harus menyusui anak dikhawatirkan akan menyebabkan anak sakit karena kekurangan asupan susu , maka diijinkan untuk tidak berpuasa.  Namun demikian, selama waktu tidak berpuasa tersebut diwajibkan untuk membayar fidyah dan mengganti puasa di waktu yang lain, sejumlah puasa yang ditinggalkan.

Warga muslimah yang hendak pulang ke Indonesia pada saat bulan puasa hendaknya memberitahukan kepada maskapai agar mendapat pemberitahuan mengenai waktu berbuka dan sahur jika tetap ingin berpuasa selama perjalanan. Berdasarkan pengalaman, biasanya pramugari akan menyediakan makan sesuai dengan permintaan penumpang.  Namun demikian tak ada salahnya jika hendak mengambil rukshoh karena safar (bepergian).  Menurut sejumlah sumber, safar yang diberi keringanan memiliki beberapa syarat.  Syarat pertama, jarak perjalanan sejauh yang dibolehkan mengqashar shalat, yaitu berjarak sekitar 48 mil atau 80 km (ada yang menyebutkan 83 km).  Syarat kedua adalah tidak ada keinginan dari perjalanannya untuk menetap bertempat tinggal.  Dan terakhir tujuan perjalanan tidak dilakukan untuk melakukan maksiat (Islam QA).

Sebagai tambahan, keringanan dalam perjalanan tidak berlaku karena dua hal, yaitu ketika musafir pulang ke negaranya (tempat menetap) dan ketika musafir berniat tinggal di tempat tujuan atau tinggal dalam jangka waktu tertentu di suatu tempat yang layak (Islam QA).  Maka ketika hal itu terjadi, dia menjadi orang yang menetap dan wajib untuknya menyempurnakan shalat dan puasa.  Jadi jika melakukan perjalanan wisata atau kunjungan ke negara selama bulan puasa, maka yang dihitung sebagai safar adalah perjalanan selama dari kota asal hingga kota tujuan, sedangkan saat tinggal di kota tujuan hendaknya tetap menjalankan puasa.

Anak-anak yang belum baligh belum memiliki kewajiban berpuasa, namun tetap perlu mendapatkan pemahaman mengenai berpuasa dan perlu mendapat latihan tata cara berpuasa.  Anak-anak perlu diberitahu mengenai waktu sahur dan berbuka, hal yang diijinkan dilakukan dan hal yang sebaiknya dihindari pada saat berpuasa.  Sebagai latihan, anak-anak dapat diminta mencoba melakukan sahur di pagi hari dan kemudian setelah selesai sahur diminta untuk tidak makan sampai batas waktu yang diperkirakan tidak mengganggu kesehatan.  Atau untuk anak yang sudah besar dapat diberikan latihan puasa dengan menyesuaikan waktu sahur dan berbuka berdasarkan waktu Indonesia.

Beberapa tips yang dirangkum dari peserta diskusi untuk mempersiapkan diri pada puasa dalam musim panas diantaranya adalah:

1. Selalu makan sahur, meski sedikit. 

Salah satu cara agar tak terlewat sahur adalah menyediakan makanan di kamar sehingga bisa dengan cepat dan mudah makan sahur.  Makanan yang disediakan untuk sahur sebaiknya adalah makanan berkuah sehingga dapat sekaligus memberikan asupan cairan dalam tubuh. Makanan sebaiknya merupakan makanan penuh nutrisi namun tidak terlalu berat (bulky).

Salah satu menu sahur yang disarankan adalah sup iga kacang merah dan telur rebus, susu dan buah juga merupakan pilihan yang baik.

2. Minum yang cukup pada saat berbuka puasa.

Pada saat berbuka puasa merupakan salah satu momentum paling menyenangkan di dunia, apalagi setelah puasa yang panjang.  Minuman yang disarankan untuk dipilih pada saat berbuka adalah minuman hangat, terutama air teh manis hangat.  Air putih dingin kurang bagus untuk tubuh yang baru berbuka, apalagi berbagai jenis es yang tampak sangat menggoda di saat berpuasa.  Air minum dingin dan atau es (campur, buah, krim) akan memberikan sinyal palsu atas pemenuhan kebutuhan air sehingga rasa haus akan hilang, meski sebenarnya badan masih sangat membutuhkan asupan air dalam jumlah besar.

3. Mengatur ulang jadwal kerja. 

Berpuasa bukan berarti menurunkan aktivitas dalam kehidupan dunia, namun justru seharusnya memperbaiki kinerja harian seseorang. Hal yang bisa dilakukan adalah mendesain sedemikian rupa sehingga pekerjaan yang dilakukan dapat berlangsung secara teratur dan tidak menguras energi yang tak perlu.  Dalam beberapa hal, adanya aktivitas harian yang tepat akan membuat waktu puasa terasa singkat.  Kuliah, penelitian, studi literatur dan menyelesaikan tugas akhir dapat menjadi aktivitas yang cukup menyenangkan selama berpuasa. Untuk beberapa pekerjaan yang menguras tenaga, seperti mengantar koran, maka seseorang harus mempersiapkan pola pengantaran yang lebih efisien.  Makan sahur dapat dilakukan di sela-sela waktu pengantaran koran dengan mempersiapkan bekal makanan dan minuman yang cukup.

4. Makanan sehat.

Mengatur asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh merupakan hal yang sangat penting. Bukan hanya sekedar halal namun juga toyyib (baik), apalagi mengingat waktu yang pendek dan kapasitas perut yang terbatas untuk mengkonsumsi makanan yang cukup selama berpuasa.  Bagi yang berkeluarga tentu saja perlu dipersiapkan makanan untuk buah hati dengan baik.  Beberapa makanan olahan yang dapat disimpan beku dapat dibuat sebelum puasa, sehingga pada saat puasa dapat digunakan untuk menghemat waktu dan tenaga.  Buah, sayuran, kurma, susu dan madu perlu dikombinasikan dengan baik agar dapat memenuhi kebutuhan asupan zat makanan.

Pada akhirnya tiada hal yang lebih utama dari niat setiap individu untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan menjalankan perintah berpuasa.  Mungkin sedikit berat diawal karena badan memerlukan masa adaptasi yang cukup untuk menyesuaikan dengan perubahan pola makan selama bulan puasa.  Namun niat itu memberikan kekuatan yang lebih dari apa yang dibayangkan sebelumnya.  InsyaAllah

Selamat berpuasa.

Notulensi oleh : Nur Rochmah K.

Referensi: Islam QA. 2013. Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, 28/73. http://islamqa.info/id/ref/23296